21 September 2019

Brigjen Pol Siswandi Dibalik Film “3 Pilihan Hidup”

KONFRONTASI - Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri punya cara yang terbilang menarik dalam mengkampanyekan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Dengan menggandeng sejumlah artis ternama diantaranya Marshanda, Cinta Laura, Julia Perez, Della Puspita, Ade Yunita, Roy Marten, Tessy dan lainnya, meluncurkan sebuah film berjudul “Tiga Pilihan Hidup”.

Film layar lebar yang digagas Deputi Analis Kebijakan Utama Bidang Narkoba Bareskrim Polri, Brigadir Jendral (Brigjen) Pol Siswandi ini memiliki banyak plot, mengambil beberapa sudut pandang dari pemakai, pengedar narkoba hingga penegak hukum. Di mana mereka hanya mempunyai tiga pilihan setelah terlibat bahaya obat-obatan terlarang yakni rehabilitasi dan sembuh, dipenjara, atau meninggal sengsara. Film ini diharapkan bisa menjadi media edukasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba bagi masyarakat.

Disampaikan Siswandi, sosialisasi bahaya narkoba sekarang ini marak karena memang Indonesia darurat narkoba dan untuk pencegahan pun semakin beragam dan salah satunya adalah melalui film “Tiga Pilihan Hidup”.

“Sekarang ini media atau visualisasi lebih cepat, lebih efektif dan lebih mudah untuk pencegahan narkoba dan memang sekarang Indonesia itu darurat narkoba,” kata Siswandi.

Menurutnya, peredaran narkotik dan obat-obatan terlarang di tanah air semakin masif. Akibat penyalahgunaan narkoba sebanyak 40-50 orang meninggal setiap harinya. Hingga kini pengguna narkoba pun menyentuh angka 5,9 juta orang.

Ia pun mengungkapkan, semakin bertambahnya pengguna narkoba dan korban meninggal dunia akibat narkoba di Indonesia harus jadi keprihatinan seluruh pihak karena Indonesia sudah jadi tujuan peredaran Narkoba dunia. “Masyarakat harus berperan aktif dalam memerangi penyalahgunaan narkoba,” jelas Jenderal bintang satu yang aktif memerangi masalah narkoba ini.

“Ini adalah film edukasi, sebagai tontonan juga tuntunan. Sehingga masyarakat yang menonton tidak akan kecemplung,” ujarnya.

Siswandi menjelaskan, alur cerita film ini berkaitan dengan tiga pilihan hidup yang ditujukan bagi orang-orang yang terjerumus atau terlibat narkoba. Mereka itu bisa penyalahguna, pecandu, kurir, bandar maupun home industri narkoba.

Pilihannya yakni berupa rehabilitasi, penjara atau mati. Bagi penyalahguna atau pecandu narkoba bisa diobati dengan cara rehabilitasi. Jika tidak bersedia direhabilitasi, tentu saja akan berhadapan dengan aparat penegak hukum dengan hukuman penjara. Kalau sudah begitu tinggal menunggu ajal menjemput.

“Meninggal bisa karena vonis hukuman mati ataupun mati sia-sia karena efek bahaya narkoba,” ujarnya.

Siswandi mengungkapkan, selama ini masih ada ketidakadilan yang dilakukan okum aparat dalam penanganan masalah narkoba. Menurutnya, penanganan pecandu dan pengedar narkoba jelas berbeda maka dari itu para penegak hukum harus betul-betul adil menetapkan seseorang yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba apakah dia pecandu atau pengedar.

“Dalam beberapa kasus masih ada pecandu yang ditetapkan oleh penegak hukum sebagai pengedar, juga sebaliknya,” kata Siswandi.

“Pecandu Narkoba jelas harus direhabilitasi, adapun untuk pengedarnya tentu lain penanganan,” lanjutnya.

Siswandi berharap, dengan adanya film “Tiga Pilihan Hidup”, pihaknya bisa lebih lagi mensosialisasikan bahayanya narkoba kepada semua masyarakat. “Saya berharap dengan adanya film ini, bisa memberikan pengetahuan bagi masyarakat akan bahaya narkoba dan dapat menginspirasi masyarakat sehingga peredaran narkoba dapat dibersihkan,” ungkap Siswandi.

Jenderal yang terkenal dengan sosok tegas dan humanis ini selalu berkomitmen dalam pemberantasan narkoba. Saat menjabat sebagai Direktur Peran Serta Masyarakat Badan Narkotika Nasional dan mendapatkan tugas untuk pemberdayaan dan membangkitkan semua komponen masyarakat untuk peduli terhadap bahaya narkoba, Ia kerap menyambangi instansi pemerintah, akademis, lembaga swadaya masyarakat, organisasi massa, swasta dan masyarakat biasa mensosialisasikan bahayanya narkoba.

“Kami mengikuti kebijakan pemerintah yang sudah jelas, untuk menyelamatkan para penyalahguna dan pecandu narkoba harus direhabilitasi, bukan dipenjara. Serta melihat banyaknya generasi muda yang ikut dalam sindikat ini, maka harus distop,” ujarnya.

Untuk menangani kasus narkoba, Jenderal lulusan Akademi Kepolisian 1984 ini mengatakan, tindakan tegas harus diterapkan terhadap jaringan, sindikat, penyelundupan, pemasok, dan penyuplai. “Berikan hukuman setinggi-tingginya,” tandas Siswandi.

Menurut Siswandi, pemberantasan narkoba tidak akan selesai selama pangsa pasar berlangsung. Pangsa tersebut akan hilang ketika pengguna berkurang. Ia pun menyatakan komitmennya akan terus melakukan perang terhadap pengedar narkoba. “Saya sangat komit dan menjaga moral terhadap pemberantasan narkoba. Siapapun pelakunya, jika moralnya bagus tapi nggak komit, tentunya akan sia-sia semuanya,” pungkas Siswandi.

Sebelum menutup, Siswandi menambahkan, film “Tiga Pilihan Hidup” juga didukung Artha Graha Peduli (AGP) yang sempat berniat membawa film ini ke kancah internasional. Untuk gala premiere, rencana awalnya akan dilaksanakan pada 26 Juni 2016 mendatang. Tapi karena saat itu bertepatan dengan bulan puasa, maka diundur setelah lebaran serta akan ditayangkan secara serentak di seluruh Indonesia.[ian/ojt]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...