22 May 2018

Wirausaha: Irma Suryati yang Lemah Fisik, Bangkit jadi Pengusaha

KONFRONTASI- Keinginan mandiri begitu kuat berkecamuk dalam benak Irma Suryati (37). Terlebih setelah dirinya mengalami 15 kali penolakan masuk dunia kerja. Diskriminasi itu ia peroleh sebagai akibat dari ketidaksempurnaan tubuhnya. Bermula saat usia 4 tahun, Irma kecil jatuh di kamar mandi dan tak berselang lama setelah kejadian itu, dia mengalami sakit panas dan harus menjalani perawatan. Namun, penyakitnya tak kunjung sembuh. Justru kakinya kian mengecil dan melemah. Ternyata Irma terkena penyakit polio. Gara-gara penyakit itu pula, sedari usia SD, Irma terbiasa dengan diskriminasi. Termasuk ketika Irma berkeinginan masuk SD. Saat itu, oleh Kepala Sekolah, Iram ditolak bersekolah disana. Namun, pada akhirnya ia bisa diterima setelah kepala sekolah kerap melihat Irma seringkali mengintip anak-anak sekolah melalui jendela kelas. Meski mengalami kendala fisik namun itu semua tidak menyurutkan prestasi belajar Irma kecil. Ia bahkan kerap mendapatkan ranking bagus di kelas.

Cobaan dan hambatan yang dialami pada masa kanak-kanak, rupanya belum berakhir. Dan ironisnya, hal itu mesti terulang kembali manakala Irma sudah menamatkan pendidikan sekolah menengah di SMAN 1 Semarang, pada tahun 1993. Ia berkali-kali ditolak saat melamar pekerjaan. “Jika dihitung ada sekitar 15 kali saya ditolak perusahaan. Pernah juga sekali diterima, namun ketika masuk dan duduk bekerja, saya langsung disuruh pulang begitu ketahuan memiliki kekurangan fisik,“ kenang Irma, yang kini tinggal di Jl. Karangbolong Km. 7, Kebumen.

Penolakan demi penolakan sempat membuat Irma menjadi Shock dan putus asa. Namun, untuk mengalihkan rasa putus asa tersebut, Irma memilih jalan positif. Dan keinginan untuk mendiri setelah mengalami serangkaian deskriminasi, menjadi semakin besar. Mengawali bisnis kerajinan tangan di kota kelahirannya, Semarang, pada tahun 1996, Irma memilih dunia jahit-menjahit. Khususnya keset kain perca yang berasal dari perusahaan-perusahaan besar. Kemampuannya dalam hal jahit-menjahit ia perolah saat mengenyam pendidikan selam 3 tahun di sekolah khusus penyandang cacat di Solo. Awal terjun ke dunia bisnis boleh dibilang menuai hasil gemilang. “Untuk ukuran saya saat itu, saya katakana bahwa usaha saya terbilang sukses. Saya bisa memiliki 3 kios di pasar Karangjati, Semarang. Di samping itu, sya juga bisa memiliki rumah dan sanggup mempekerjakan 30 orang yang mengurus prosuksi serta 15 oran tenaga marketing, “ ungkapnya.

Kesuksesan yang diraih sejak pertama merambah dunia usaha pada tahun 1996 tersebut, ternyata hanya sanggup bertahan beberapa tahun. Cobaan demi cobaan harus kembali dihadapi Irma. Yang paling berat adalah musibah kebakaran pasar pada tahun 2002. Saat itu, 3 kios yang dimiliki beserta seluruh dagangan serta hasil transaki hangus terbakar tanpa sisa. Belum habis duka menyelimuti, seorang staf yang biasa mengurusi administrasi justru melarikan sisa usaha yang dipegangnya sebanyak Rp 60 juta! Dihantam 2 musibah besar yang hampir bersamaan, sudah tentu mengakibatkan bisnis keset perca yang dikelola bersama suami, ambruk! “Ya, ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. Untuk mengembalikan utang, terpaksa semua harus dijual: rumah, tanah, kendaraan dan perhiasan saya pakai, semua untuk menutup utang. Bahkan dari mereka yang memberi pinjaman modal untuk pengembangan usaha (investasi) ke saya ada yang sampai berperilaku kasar dan meneror, mengintimidasi agar kami segera mengembalikan uang di bank untuk melunasi mereka secepatnya,” kisah Irma.

 

Setelah semua utang berhasil dilunasi, Irma beserta suami mengambil keputusan untuk pindah dari kota Semarang menuju daerah asal sang suami, Kebumen. Mereka menetap di Kebumen sejak tahun 2003. Irma berupaya menghidupkan kembali usahanya mulai dari NOL. Minimnya kepercayaan masyarakat sekitar hingga mahalnya ongkos transport saat itu menjadi kendala utama. “Masyarakat barangkali belum percaya, sehingga ajakan untuk bergabung membuat kerajinan dan memasarkannya kerap ditolak,” ungkap Irma.

Di saat-saat itulah, apalagi masih banyak took yang menlak barang produksinya, Irma memberanikan diri untuk menghadap Bupati Kebumen kala itu, Rustriningsih. Ia menyatakan keinginannya untuk kembali mengumpulkan para penyandang cacat seperti dirinya, agar memiliki kemandirian serta terampil bekerja, semisal membuat kerajinan perca. Gayung pun bersambut. Atas bantuan Pemkab Kebumen pada tahun 2005, Irma berhasil memulai kembali usahanya dengan model paket kemitraan, khususnya dengan kaum difabel, mantan PSK, serta para pemuda yang masih menganggur.

Berkat kegigihannya itu, pada tahun 2007, Irma untuk pertama kalinya berhak mengikuti lomba wirausaha muda tingkat nasional. Setelah melalui seleksi ketat, Irma berhasil masuk nominasi 10 besar dan akhirnya menjadi Juara! Atas prestasinya, ia berhak memperoleh hadiah serta penghargaan dari Menpora. Mulai saat itu pula karir bisnis Irma mulai menanjak. Ajakan mengikuti eksebisi tingkat internasional pun mulai berdatangan. Sejumlah negara seperti Australia, Beijing, Hongkong, Singapura telah dikunjungi. Di ajang pameran itu, ia pun berhasil menggaet pembeli (buyer) dari mancanegara.

Category: 
Loading...