24 May 2017

Salut, Anak Muda Ini Sulap Puluhan Hektar Lahan Tidur Jadi Perkebunan Jagung

KONFRONTASI-Windi Novianto memilih jalan hidup sebagai petani meski mengantongi gelar sarjana. Bersama puluhan petani di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, ia mengembangkan lahan tidur menjadi perkebunan jagung.

Hujan membasahi sepanjang jalan dari Banjarbaru menuju Bati-Bati, Tanah Laut, Minggu (19/3) pekan lalu.

Di sebuah perkebunan jagung di Desa Gunung Raja, seorang pemuda 28 tahun, Windi Novianto berkarya.

Ia memberdayakan puluhan petani untuk bersama-sama mengembangkan lahan tidur menjadi perkebunan jagung.

Jalan menuju perkebunan jagung sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jalan Ahmad Yani. Lokasi kebun tersebut tak jauh dari SDN Gunung Raja.

Di sebelah sekolah tersebut ada jalan masuk beraspal. Aspal mulus masih bisa dirasakan sekitar 3 kilometer.

Namun setelah itu harus masuk ke jalan tanah melewati perkebunan karet dan kelapa sawit.

Perjalanan menuju lokasi lumayan sulit apalagi kawasan tersebut sedang diguyur hujan. Beruntung penulis dipandu langsung oleh Windi.

Dalam rombongan penulis juga ikut serta kakak ipar yang kebetulan lama malang melintang di perusahaan kelapa sawit di Kalimantan Barat dan Riau.

“Medan seperti ini belum ada apa-apanya,” celetuknya usai membantu memandu mobil penulis agar tak terjebak di kubangan lumpur.

Setelah perjalanan melalui jalan tanah yang cukup mendebarkan, sampailah ke lokasi lahan luas yang ditanami jagung. Di tengah lahan ada pohon Akasia.

Di sebelah pohon itulah didirikan semacam pondok dari kayu yang dijadikan tempat istirahat para petani.

“Kalau mau makan-makan di pondok juga bisa,” ucap Windi mengawali pembicaraan.

Di sekitar pondok ada puluhan karung jagung yang sudah dipanen.

Menurut Windi, jagung itu sudah ada pembelinya yakni sebuah perusahaan pakan ternak di Tanah Laut.

Alumni Prodi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat ini bercerita awal mula tertarik mengembangkan jagung khususnya jagung pakan.

Awal mula usaha budidaya jagung pakan karena adanya pembangunan pabrik pakan ternak yang baru di Kabupaten Tanah Laut.

Saat itu, Windi diminta mengerjakan penanaman tanaman untuk landscape di perusahaan tersebut.

“Saya berbincang dan dapat informasi dari perusahaan tersebut bahwa kebutuhan jagung pakan di Kalsel masih belum terpenuhi untuk kebutuhan pabrik pakan ternak yang ada, artinya ada potensi,” ucapnya.

Alumni SMAN 1 Banjarbaru ini mengaku pilihannya terjun bersama petani bukan kebetulan. Secara keilmuan, ia memang mempelajari ilmu pertanian.

Mulai lulus kuliah sampai sekarang, ia menekuni wirausaha sebagai penangkar dan pedagang bibit Hortikultura.

Dengan berwirausaha di bidang pertanian maka bisa menerapkan ilmu yang telah didapat saat kuliah, serta dapat menolong petani dengan membuka peluang kerja.

“Menjadi petani memang bukanlah impian dan cita-cita pemuda. Namun menjadi petani adalah sebuah kehormatan bagi anak muda sebagai pejuang pangan,” ungkapnya.

Menurut mantan ketua Juventus Club Indonesia Chapter Banjarbaru ini, Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang sangat besar.

Kesempatan besar bagi pemuda tani untuk mengembangkannya karena negeri ini adalah negeri agraris.

“Sesuai perkataan Bung Karno yaitu gemah ripah loh jinawi,” ujarnya.

Diterangkan Windi, perlu modal cukup besar untuk bisa mengembangkan jagung pakan.

Modal budidaya jagung seperti biaya sewa lahan dan sewa traktor, benih jagung, obat, pupuk dan biaya man power sekitar Rp 10 juta hingga Rp 13 juta per hektare termasuk biaya panen.

“Untuk sewa lahan satu satu hektare itu Rp 1 juta per tahun,” sebutnya.

Awalnya Windi dan para petani binaannya menanam 4 hektare, dapat menghasilkan 8 ton jagung per hectare.

Lantas menanam di ahan 8 hektare menghasilkan 6 ton per hektar.

Saat ini dengan bantuan modal dari teman-teman, Windi telah menaman jagung dengan luas lahan sudah sekitar 96 hektare yang tersebar di 3 kecamatan yaitu Bati-Bati, Pulau Sari, dan Kurau.

Harapannya hasil panen mampu mencapai 6 sampai 8 ton per hektare. “Usaha ini sudah saya lakukan dalam setahun terakhir,” paparnya.

Ditanya soal kendala dan tantangan, Windi menyebut hambatannya adalah serangan hama dan penyakit.

Umumnya hama yang dihadapi adalah adanya ulat serta adanya penyakit bulai, bercak daun dan busuk pada tongkol dan biji. Selain itu kendalanya adalah masih bergantung pada cuaca serta curah hujan.

Usaha Windi ini kini telah menghidupi setidaknya sekitar 20 orang petani dan terus bertambah saat waktu tanam, pupuk dan panen.

Windi mencari petani yang ada di sekitar lokasi lahan yang mampu berkomitmen untuk merawat jagung.

“Kita bersama petani sistemnya bagi hasil. Hasil keuntungan bersih saat panen dibagi bersama petani. Dengan sistem bagi hasil maka petani yang bergabung semangat dan sepenuh hati merawat tanaman dengan harapan hasil panen pun optimal. Hasil panen bagus maka berbanding lurus dengan pendapatan petani,” cetusnya.[mr/jpnn]

Category: 

loading...


News Feed

Loading...