22 November 2017

Pergulatan Usaha Bambang Sunarno, Chef di New York

KONFRONTASI, NY- Beberapa orang yang tinggal di negeri orang, utamanya negara maju, ikut melebur dalam budaya dan tradisi negara \\\'barunya\\\'. Namun itu tidak berlaku bagi Bambang Sunarno. Meski hampir 40 tahun tinggal di AS, pria yang bekerja sebagai chef ini tak kehilangan \\\'cita rasa\\\' Indonesia.

Bambang menginjakkan kaki pertama kali di AS pada 1973. Setelah setahun bekerja dengan Pertamina, Bambang ditugaskan bekerja di Ramayana Restaurant yang berada di New York. Restoran itu turut disponsori oleh Pertamina.

Kisah Bambang ini merupakan salah satu yang dimuat di buku \\\'Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang\\\'.

Bukan pekerjaan mudah baginya untuk memperkenalkan masakan Indonesia kala itu. Bambang harus bisa memasak masakan Indonesia yang bisa diterima juga oleh lidah orang asing. Apalagi bila ada bumbu yang sulit didapat.

Sejumlah training pun diikuti Bambang di berbagai hotel. Dari situlah dia mendapat perbandingan sekaligus mengetahui keadaan, adat istiadat, kebiasaan, hingga makanan kesukaan orang asing.

Setelah enam tahun di AS, Bambang berkesempatan membuka restoran di World Trade
Center. Dia dipercaya sebagai chef international table yang menangani masakan dari Indonesia, Skandinavia, dan Jepang.

Pada 1982 dia diminta untuk ikut membuka Grand Hyatt 42 St. New York. Lalu pada 1984 bersama dengan Leona Helmsly membuka Hotel Helmsly Palace yang kemudian
dikenal sebagai New York Palace Hotel. Bambang pun bermimpi kelak ada restoran Indonesia di tengah New York yang dikelola secara profesional.

Sekian lama tinggal di AS, Bambang banyak bertemu dengan orang yang senasib. Orang-orang yang meninggalkan keluarganya untuk mencari penghidupan lebih baik. Ini sama sekali bukan perkara mudah. Hidup jauh dari keluarga yang disayangi, atau saat bermasalah dengan izin kerja atau izin tinggal. Tapi bukankah hidup itu adalah pilihan?

Puluhan tahun tinggal di AS tidak membuat Bambang lantas berlaku \\\'keamerika-
amerikaan\\\'. Dia selalu memegang teguh tradisi dan kebudayaan leluhur.

\\\"Saya menilai bahwa tata krama dalam bentuk \\\'unggah-ungguh\\\', sopan santun, dan ramah tamah yang dimiliki bangsa Indonesia akan sangat berperan untuk berhubungan
dengan siapa pun termasuk orang AS,\\\" tuturnya.

Bagi Bambang memegang tradisi leluhur sangat penting untuk mempertahankan identitas asal. Sebab selama di AS dia kerap bertemu beberapa orang Indonesia yang justru terpengaruh budaya asing dan merasa rendah diri saat berada di lingkungan masyarakat AS.

\\\"Ada baiknya kita tetap memiliki jati diri meskipun dalam beberapa sisi kita perlu beradaptasi,\\\" imbuhnya.

(vit/nrl)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...