17 September 2019

Menikmati Laba Gurih Pedas Dari Mi Lidi

Konfrontasi - Mi Lidi jajanan tempo dulu yang kini kembali populer. Camilan yang terbuat dari tepung terigu ini sempat populer di tahun 1990-an. Lama redup, kini popularitas mi lidi kembali berkibar. Indikasinya terlihat dari semakin banyaknya pemain yang bermunculan.

Salah satunya adalah Ayu Perwita Puspa Sari. Wanita asal Bogor, Jawa Barat ini baru 1,5 tahun membuka usaha mi lidi dengan merek Mie Lidi Mang Nyere. “Awalnya karena saya suka saja dengan makanan ini, terus kepikiran untuk membuatnya,” katanya seperti dikutip Kontan.co.id.

Ibu satu anak ini mengakui mi lidi kini sedang digandrungi. Permintaan pun terus meningkat setiap bulannya. Dalam sebulan, wanita yang lebih akrab disapa Puspa ini bisa menjual sekitar 1.000 stoples mi lidi berukuran 200 gram, dan sekitar 4.000 plastik mi lidi berukuran 100 gram.

Wanita berhijab ini, membanderol harga mi lidinya mulai Rp 13.000 untuk kemasan plastik dan Rp 23.000 untuk kemasan stoples. Mie Lidi Mang Nyere mempunyai tujuh rasa, di antaranya pedas, original, jagung bakar, dan cokelat.

Bila dikalkulasi, total penjualan Puspa dalam sebulan dapat mencapai Rp 75 juta. Sayangnya, Puspa enggan mengatakan laba bersih yang diperolehnya. Dalam menjalankan usahanya, perempuan asal Kota Hujan ini dibantu 12 orang karyawan. Mie lidi Mang Nyere tidak hanya dipromosikan melalui media digital.

Untuk memasarkan mi lidinya, Puspa juga membuka dua gerai pribadi di daerah Bogor. ia juga membuka kerjasama dengan reseller. Sampai saat ini, kebanyakan konsumennya berada di Jabodetabek.

Pengusaha lainnya adalah Wahyu Putri Nur Indah, asal Surakarta, Jawa Tengah. Perempuan yang disapa Putri ini baru menjajal usaha ini enam bulan lalu dan menamai usahanya Solo Biting. Meski begitu, usahanya berjalan dengan lancar. “Permintaannya naik terus setiap bulan,” katanya kepada KONTAN.

Karena usahanya yang masih baru, dalam sebulan, rata-rata dia dapat menjual sekitar 100 bungkus hingga 150 bungkus mi lidi. Untuk memproduksinya, dia dibantu seorang karyawan.

Putri menjual mi lidi seharga Rp 5.000 per bungkus dengan berat 70 gram. Ia mengaku, menyasar konsumen kelas menengah ke bawah karena potensi pasarnya yang besar, dan belum banyak mi lidi yang dijual dengan harga murah.

Bila dihitung, omzet Putri sebulan sekitar Rp 500.000 hingga Rp 750.000. Dia mengambil keuntungan sekitar 20% dari omzet penjualan. Solo Biting mempunyai enam varian rasa. Beberapa di antaranya adalah original, pedas, barbeque, dan keju.

Menurut Putri, yang paling diminati adalah rasa pedas. Untuk konsumennya sendiri masih berada di sekitar wilayah Jawa Tengah, seperti Yogyakarta, Solo, dan Semarang. (kntn/MG)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...