24 November 2017

"Lakukan Inovasi Sekarang, atau Tidak Selamanya"

KONFRONTASI-Ilmu pengetahuan tanpa inovasi hanya akan melahirkan pengekor globalisasi yang tidak banyak memberi nilai tambah. Namun demikian, inovasi harus dibarengi dengan passion (hasrat yang kuat), agar tidak terjebak pada aktivitas mekanis semata.

Demikian isi pesan dari penyampaian Menko Maritim dan SD Rizal Ramli saat berbicara pada seminar bertajuk “Inovasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Indonesia Cerdas,” di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Kamis (15/10).

“Inovasi mutlak kita perlukan. Lakukan inovasi sekarang atau tidak selamanya,” ujar Rizal Ramli.

Menurut Menko Rizal Ramli, kita bisa belajar dari Jepang. Setelah kalah perang, Jepang menerapkan inovasi pada banyak lini. Di sektor otomotif, misalnya, mereka meniru mobil-mobil Eropa dan Amerika. Mulanya hasilnya memang jelek. Namun dengan inovasi dan modifikasi yang konsisten, mobil Jepang berhasil menggeser dominasi mobil Eropa dan Amerika.

“Indonesia juga tidak perlu ragu dan malu melakukan seperti Jepang. Untuk maju dan mengejar ketertinggalan, tidak selalu setiap kali harus memulai dari nol. Bangsa ini bisa mengambil yang terbaik yang sudah ada, lalu tambahkan inovasi dan modifikasi. Langkah ini dilanjutkan dengan memberi brand sendiri, sehingga produk dan atau jasanya bisa dikenal di seluruh dunia. Dengan demikian, akan diperoleh nilai tambah yang maksimal, baik dari sisi ekonomi maupun social,” terangnya.

Namun dia mengingatkan, inovasi harus dibarengi dengan passion. Mengutip filosof Inggris terkenal George Bernard Shaw, Menko mengatakan, hanya orang-orang yang tidak konvensional yang bisa mengubah dunia.

“Hanya mereka yang punya inovasi dan passion yang kuat yang bisa menghasilkan produk dan jasa terobosan. Mereka inilah orang-orang yang berani keluar dari zona nyaman. Mereka juga berani mengambil risiko atas perubahan yang mereka ingin lakukan,” ungkapnya.

Menko pun menyebut Alexander Graham Bell penemu telepon dan Thomas Alfa Edison penemu listrik sebagai dua contoh orang yang mengambil risiko dan disebut tidak normal, ngawur, dan dijauhi lingkungannya. Namun karena inovasi dan passion yang kuat, penemuan mereka hingga kini sangat bermanfaat bagi manusia.

“Albert Einstein mengatakan, inovasi dan imajinasi jauh lebih powerful dibandingkan ilmu pengetahuan. Ini benar. Tapi saya ingin tambahkan, bahwa inovasi tanpa passion, adalah mekanis belaka. Tidak ada ruh. Tidak ada jiwanya,” tandas Rizal Ramli.

Pada konteks ini, pria asal Sumbar itu menghargai gagasan Walikota Bandung Ridwan Kamil tentang Teknopolis. “Bandung akan berubah menjadi kota yang maju dan modern, dan taraf kehidupan penduduknya bisa lebih sejahtera. Ridwan juga sangat ingin Bandung punya Metro Capsule sebagai moda transportasi publik yang massif dan modern. Karenanya, ide-ide tersebut patut mendapat dukungan semua pihak agar bisa direalisasikan,” selorohnya.

Di sisi lain, Rizal Ramli prihatin dengan makin merosotnya kualitas Perguruan Tinggi Indonesia. Hal itu ditandai dengan tidak ada satu pun Perguruan Tinggi Negeri maupun swasta di Indonesia yang masuk dalam 600 besar Perguruan Tinggi terbaik dunia.

“Sebaiknya Perguruan Tinggi kita tidak merasa sudah hebat. Fakta membuktikan kita belum ada apa-apanya di pentas Perguruan Tinggi global. Ini sangat memprihatinkan. Dulu, waktu saya kuliah, bisa masuk 200 besar. Kini setelah anggaran pendidikan jauh lebih besar, profesor doktornya jauh lebih banyak, kok malah prestasinya merosot. Saya berharap pak Rektor ITB bisa membuat ranking ITB masuk 200 besar dalam lima tahun ke depan,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah peserta seminar.

Untuk itu, dia menyarankan tiga hal. Pertama, jangan mengelola Perguruan Tinggi seperti birokrasi apalagi feodal. Kedua, ITB harus berani mengambil inisiatif lebih maju daripada sekadar penandatanganan MoU. Ketiga, lakukan pertukaran dengan mengirimkan 10 dosen terbaik atau profesor untuk mengajar di universitas luar negeri dan sebaliknya.

Berkaitan dengan hal ini, Rizal Ramli juga menyayangkan hingga kini tidak ada satu pun pejabat yang punya passion kuat dalam bidang sains dan teknologi. “Terlepas dari segala kekurangannya, dulu Habibie adalah orang yang punya passion kuat dalam bidang sains dan teknologi. Indonesia harus punya pejabat publik yang seperti Habibie,” tutupnya.[mr/JM]

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...