29 April 2017

Kepul Laba dari Bisnis Bakso Benhill

Konfrontasi - Pecinta bakso di tanah air sudah tidak terhitung jumlahnya. Sangat mudah menemukan gerai bakso di berbagai tempat, lantaran menu ini sudah akrab di lidah masyarakat. Rasa bakso dari olahan daging sapi bercampur kuah kaldu serta mi yang nikmat mampu mengganjal perut yang lapar. Ditambah lagi, harga jualnya yang ramah dikantong. Itu sebabnya, bisnis bakso terus bermunculan.

Agar bisa bertahan di tengah persaingan yang kian sengit, para pelaku usaha harus jeli mencari pasar serta rajin berpromosi. Salah satu dari pelaku usaha bakso terlihat usaha yang cukup positif. Namun, para pelaku usaha bakso masih tetap mengalami sejumlah kendala seperti fluktuasi harga bahan baku, salah satunya seperti usaha Bakso Benhill.

Usaha besutan Apeng Orinanti ini berdiri pada 2011 silam. Untuk membesarkan usahanya, pada Maret 2012, ia menawarkan kemitraan. Dikutip dari KONTAN yang mengulas usaha ini pada akhir 2014, mitra usaha Bakso Benhil baru sebanyak tujuh gerai. Jumlah ini belum bertambah sejak pertengahan tahun lalu.

Namun, tahun ini, dia mampu menambah lima gerai mitra, sehingga total mitra usahanya sebanyak 12 gerai yang berlokasi di Cikarang, Kramat Jati, Yogyakarta, Wonosari, Gunung Kidul, dan lainnya. “Sedangkan mitra yang tidak menggunakan merek Bakso Benhil juga ada. Jika ditotal bisa sampai 20 mitra,” ujarnya.

Sementara gerai pusat ada tiga di Yogyakarta dan Karawang. Rencananya dia akan membuka gerai milik pusat di Ciputat dan empat gerai mitra pada akhir Oktober 2015 ini. Apeng menuturkan, lokasi gerai Bakso Benhil diarahkan tidak berada di mall atau foodcourt, tapi berada tempat usaha sendiri. Sebab menurutnya, selama ini, usaha yang berada di mal cenderung kurang berkembang. Selain itu, lebih menghemat biaya sewa tempat.

Bicara soal paket investasi, sebelumnya paket yang ditawarkan ada tiga, paket mini resto berukuran 15 m²–20 m² dengan investasi sebesar Rp 150 juta. Kedua, paket resto berukuran 40m²–60m² senilai Rp 200 juta. Ketiga paket grande berukuran 60m²–100 m² nilai investasinya Rp 300 juta.

Namun di tahun ini Apeng mengubah paket investasinya. Mitra cukup membayar Rp 3 juta untuk kerjasama usaha. Selain itu, mitra akan mendapat pelatihan karyawan, produk bakso dan sarana promosi juga merek bakso benhil. “Kerjasama berlangsung selama mitra selalu membeli bahan baku ke pusat,” kata Apeng.

Harga jual ke konsumen pun berubah. Sebelumnya harga bakso sekitar Rp 8.000-Rp 30.000 per porsi. Kini, harga menu Rp 13.000-Rp 18.000 per porsi. Selain itu juga ada bakso spesial yaitu gabungan bakso daging dan bakso besar yang dibanderol Rp 21.000 per porsi. “Di samping menjajakan bakso, ada makanan lain seperti mi ayam atau mi yamin,” ucapnya.

Selama ini dia tetap rajin berpromosi mulut ke mulut, website serta media sosial. Dia juga berencana akan mengikuti beberapa pameran untuk mengembangkan usahanya. Melihat potensinya yang masih besar, Apeng optimistis kemitraan ini masih bisa berkembang. Saat ini omzet mitra mencapai Rp 40 juta hingga Rp 60 juta per bulan.

Walaupun begitu, Apeng mengaku fluktuasi harga bahan baku cukup berpengaruh pada kondisi penjualan produk. Sampai akhir tahun dia menargetkan bisa memiliki 30 mitra usaha. (kntn/mg)

Category: 

loading...


News Feed

Berita Lainnya

loading...