25 November 2017

Harumnya Aroma Laba Bisnis Ayam Bakar

Konfrontasi - Gerai olahan ayam bakar Jon Gil asal Tangerang menawarkan paket kemitraan usaha dengan investasi Rp 300 juta. Pada kerjasama ini pusat yang akan menjalankan manajemen. Akan ada sistem bagi hasil 70% untuk mitra dan 40% untuk pusat. Target balik modal sekitar setahun.

Sukses membuat bisnis olahan ayam tepung bernama Chicken Sogil, tak menyurutkan seorang pengusaha asal Tangerang untuk terus berinovasi. Ramadhan, kini membesut usaha baru masih lewat olahan ayam lewat merek usaha Jon Gil. Usaha ayam bakar ini berdiri sejak Juli 2015. Setelah tiga bulan beroperasi, Ramadhan mulai menawarkan kemitraan usaha pada bulan Oktober ini.

Karena bisnisnya ini baru beroperasi dalam hitungan bulan, Ramadhan baru punya satu gerai pribadi Jon Gil di Karawaci, Kota Tangerang.

Jika tertarik bergabung menjadi mitra, Ramadhan menawarkan paket investasi yaitu paket resto lengkap dengan nilai investasi Rp 300 juta. Mitra akan mendapatkan fasilitas berupa pembangunan desain tempat usaha, peralatan memasak, peralatan makan, kursi, meja, bahan baku awal untuk satu hari berjualan, dan pelatihan karyawan.

Kerjasama usaha berlaku untuk lima tahun dan tidak ada biaya kerjasama untuk memperpanjang kerjasama. Dia juga tidak mengutip biaya royalti tiap bulan. Mitra hanya perlu membeli bahan baku dari pusat yaitu ayam dan bumbu. Sistem manajemen tetap dijalankan oleh pusat, sehingga mitra sebagai investor tinggal menyiapkan tempat dan biaya investasi. Setelah itu, "Laba bersih akan menggunakan sistem bagi hasil 70% untuk mitra dan 30% untuk pusat," katanya.  

Ramandhan mengklaim, keunggulan menu ayam bakar Jon Gil adalah sambal joni atau sambal jontor gila yang terkenal dengan pedasnya. Sementara menu olahan ayam difokuskan pada ayam bakar oven atau populer disebut chicken rottiserie atawa ayam panggang yang dimasak dengan panggangan berputar tanpa arang dan minyak.

Cermati keuangan pusat

Targetnya, satu gerai bisa meraup omzet sekitar Rp 7 juta per hari. Sehingga dalam sebulan bisa terkumpul omzet sekitar Rp 200 juta. Setelah dikurangi biaya bahan baku, sewa tempat, gaji pegawai dan biaya operasional lainnya, mitra diprediksi bisa meraih laba bersih sekitar 20% saban bulan. Luas tempat usaha minimal 4 meter x 6 meter dengan minimal pegawai empat orang. Dia menargetkan bisa menggaet sekitar 12 mitra per tahun.

Erwin Halim, pengamat bisnis dari Proverb Consulting berpendapat, berdasarkan jeda waktu gerai pusat berdiri dan mulai menawarkan kemitraan yang hanya tiga bulan tepatnya terlalu cepat. Sehingga, sulit membuktikan target omzet dan balik modal yang dijanjikan pusat. "Dengan target omzet Rp 7 juta hingga Rp 10 juta per hari, berarti faktor lokasi benar-benar sangat penting," ucap Erwin.

Erwin menyarankan agar calon mitra usaha melihat bukti keuangan pusat bukan sekadar kertas atau simulasi sederhana sebelum memutuskan bergabung. Namun, secara sektor bisnisnya, menu olahan ayam bakar masih potensial lantaran pasarnya yang luas. (kntn/mg)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...