23 November 2017

Dengan Derita, Anak Bangsa Kita Ini Kerja Keras dan Sukses Wirausaha di London

Awal tahun 1981,  Firdaus Ahmad mengirimkan surat ke Inggris. Dalam isinya, kondektur sebuah bus di Bekasi ini menuliskan tujuannya: Ingin menghadiri pernikahan Lady Di.

Pemuda Betawi itu bersurat kepada saudaranya yang menjadi sopir duta besar Inggris. Isinya memesona: ingin menghadiri pernikahan Diana Spencer dengan Pangeran Charles. Lama menunggu, akhirnya Daus mendapatkan balasan. Intinya, saudaranya memperbolehkan Firdaus ke Inggris, asalkan memenuhi syarat keimigrasian.  "Urus paspor dan semuanya sendiri," kenangnya.

Setelah semuanya selesai, Daus – demikian panggilan akrabnya – bertolak ke Inggris. Selama 14 jam di pesawat, Daus memikirkan kendala utamanya yang dihadapinya di Inggris: dia tidak bisa berbahasa Inggris. Lulusan SMP dari sebuah sekolah swasta itu hanya berbekalkan surat dari saudaranya.

Isinya menjelaskan tentang dirinya dan keperluan serta alamat yang bisa dihubunginya. Turun di Heatrow, Daus bungkam seribu bahasa. Kepada petugas dari UK Borders yang terkenal tanpa kompromi, dia hanya mengangguk-angguk dan memperlihatkan surat itu. "Entah mungkin karena dia sudah jengkel, akhirnya paspor saya dicap juga," gelak Firdaus.

Strategi yang sama diterapkan Daus keluar dari bandara. Dia celingukan mencari saudaranya yang berjanji akan menjemput. Kepada orang-orang yang menyapanya, dia terus memperlihatkan surat itu. Namun, di bandara, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing.

Mata Daus kemudian tertuju kepada seseorang berbaju batik di kejauhan. Nah, ini pasti orang Indonesia, pikirnya. Dia menepuk punggungnya. Saat berbalik, baik Daus dan lelaki itu tertawa dan saling berpelukan. "Ternyata itu adalah saudara saya," ucapnya.

Yang diimpikan Daus akhirnya tercapai. Tak hanya itu, keindahan Inggris Raya juga kemudian memikatnya. Daus berniat untuk tinggal dan menetap bekerja di Inggris. Untuk itu, dia harus rela bekerja apa saja. "Saya jadi DJ," ucap Daus. Disc Jockey? "Bukan, tapi tukang cuci piring," gelaknya.

Cukup lama Daus menjadi tukang cuci piring. Cukup waktu buatnya untuk mempelajari masakan-masakan di dapur. Perlahan, Daus mulai mempelajari cara meramu bumbu dan bahan masakan. Saat restoran tempatnya bekerja akhirnya bangkrut, Daus telah cukup lihai dalam memasak. Dia bergabung lagi dengan sebuah restoran baru bernama Nusa Dua.

Di restoran milik pengusaha Singapura ini, dia diterima sebagai tukang masak alias chef. Meski para pelanggan menyukai masakan Daus, tetapi Nusa Dua tidak berjalan dengan baik. Pengelolaan yang buruk membuat restoran ini terlilit masalah keuangan.

Sang pengusaha menunggak cicilan modal di Royal Bank of Scotlandia (RBS). Daus yang sudah telanjur nyaman dengan para pelanggan di Nusa Dua berjuang keras untuk tetap mempertahankan restoran ini. Bersama istrinya, Usya, seorang yang cerdas dan sangat tertib administrasi, lulusan sekolah kesekretariatan di London, mereka siap mengambil alih utang-utang Nusa Dua.

Usya akhirnya berhasil memperpanjang tempo utang dan meyakinkan pihak bank mereka bisa membayar. Dan setelah itu, adalah cerita kesuksesan. Dalam waktu enam tahun, mereka akhirnya berhasil membayar seluruh utang-utang yang ditunggak Nusa Dua. Restoran itu menjadi restoran Indonesia yang paling terkenal di kawasan Soho, jalanan yang menjad pusat keramaian di jantung Kota London.

Sekarang restoran ini memiliki 10 orang pegawai yang terbagi dalam dua shift. Salah seorang pegawai adalah anak bungsu Daus sendiri. Daus melatih ketiga anaknya anaknya untuk tidak biasa berfoya-foya, dia mengajari mereka dedikasi kepada pekerjaan dan selalu bekerja keras.

Daus sendiri tetap menyiapkan investasi untuk ketiga anaknya. Saat mengantar anak bungsunya di Colindale tahun 2008 lalu, Daus melihat sebuah rumah berlantai dua yang dijual di New Road 15. Pemiliknya adalah seorang nenek yang bermaksud pindah ke kawasan pedesaan.

Singkat kata, dia akhirnya membeli rumah itu dengan harga 350.000 Pounds dan menjadikannya sebagai investasi untuk anak bungsunya. Wisma itu diberi nama Wisma Indonesia. Di London, wisma milik Daus adalah satu-satunya wisma yang dimiliki oleh perorangan. Dua wisma lainnya, Wisma Caraka dan Wisma Merdeka, dimiliki oleh kedutaan Indonesia di Inggris.

Meski demikian, wisma ini hampir tak ada kosongnya. Lingkungan yang asri, senyap, tetapi tetap terhubung dengan akses transportasi membuat wisma ini menjadi favorit. Harganya relatif murah, 25 GBP permalam. Saat Radar Banjarmasin datang ke wisma berkamar 10 ini, sempat berkenalan dengan Ahmad Kardinal yang datang untuk menjenguk anaknya kuliah di London. "Saya selalu menginap di sini setiap tahun ke London," ucap pensiunan perusahaan BUMN ini.

Wisma ini diurus oleh salah seorang anak buahnya yang menempati kamar paling atas. Setiap hari, Daus dan Usya lebih banyak mengurus bisnis rumah makannya. Menyapa dan melayani tamu yang kebanyakan adalah warga Asia.  Kadangkala, lelaki yang masih tak fasih berbahasa Inggris ini masih melakukan pekerjaan –pekerjaan lapangan, semisal mengantar jemput tamu.

Dia memiliki tiga Mercedes di garasi rumahnya yang tak jauh dari Colindale. Meski telah sukses di London, Daus tetap merendah. "Saya ingin berbagi inspirasi bahwa semuanya adalah kerja keras sampai sekarang," ucap lelaki humoris ini yang mengatakan dia kini mulai merancang membuka cabang Nusa Dua di kota-kota lainnya di Eropa.

Bagi Daus,  istrinya Usya yang sebenarnya lebih berperan dalam kisah kesuksesan mereka. Saat ini, mereka tak hanya memikirkan keuntungan untuk keluarga, tetapi juga ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk negeri mereka, Indonesia.  "Nanti wawancarai Usya,  dia hebat," katanya.

Awal Januari 2016, telepon Usya Soeharjono berdering.  Peneleponnya Walikota London, Boris Johnson. Dia bertanya, “Apakah masih memakai lapangan Trafalqar untuk even tahunan Hallo Indonesia?” Usya sempat tercenung.

-----------------------------------------

RANDU ALAMSYAH, London

-----------------------------------------

Bukan apa-apa. Dia sempat mengalami kerugian dari even yang dicetusnya sejak 2014 lalu itu. Awal-awal menyelenggarakan even, dia harus nombok hampir Rp 3 miliar. Even ini sendiri berawal dari kegelisahan putri mantan wartawan BBC itu. Selama mengelola restoran Nusa Dua bersama suaminya Firdaus Ahmad, Indonesia dirasa tidak begitu dikenal di kalangan warga London. “Mereka lebih akrab dengan Malaysia atau Thailand,” ujarnya.

Dasar inilah yang kemudian membuatnya memikirkan harus ada sebuah even besar yang digelar untuk memperkenalkan Indonesia. Selama ini even-even budaya dan wisata Indonesia hanya digelar di ruang-ruang tertutup. Kebanyakan di kedutaan. Acaranya pun hanya ditonton oleh warga Negara Indonesia yang ada di London. Sangat tidak efektif.

Usya menginginkan even semacam kampanye ini diadakan di udara terbuka, mungkin lapangan yang luas dengan akses masuk dan keluar yang lapang.   Tempat ini juga harus banyak dikunjungi para wisatawan.  Di London, tempat yang memenuhi persyaratan ini hanya ada di Trafalgar Square.  

Alun-Alun Trafalgar terlepat tepat di tengah- tengah London dan menjadi sentral bagi banyak situs wisata lain, semisal Buckingham Palace, kantor perdana menteri, Big Ben, gedung parlemen.  Situs ini adalah monument untuk mengenang sebuah pertempuran di laut di mana kapal perang Angkatan Laut Inggris memenangkan Perang Napoleon.  Trafalgar bisa dikatakan sempurna untuk sebuah even ini.  Selain berada di jantung kota Inggris, juga menempati tempat tersendiri di hati masyarakat Inggris.

sya bertekad dia harus menyelenggarakan acara di sini. Tetapi, tidak mudah memakai lapangan ini. Negara-negara lain dan para event organizer mengantre untuk bisa mendapatkan izin menggelar acara di lapangan ini. Tahun 2012, saat Usya mencetuskan ide kampanye wisata,  Trafalgar Square sedang menyambut Olympiade dan tidak bisa dipakai untuk even apapun selain itu.  Usya dan Daus kembali menyimpan ide ini dan terus menjalankan usaha restoran dan wismanya seperti biasa sembari terus mencari peluang.

Hasil gambar untuk Daus dan usya, london

Momentum ini baru datang di tahun 2013. Kala itu, pemerintah Inggris menggelar promosi wisata bertajuk Great Britain di Jakarta. Usya melihat ini sebagai peluang emas. Pemerintah Inggris melakukan promosi wisata di Indonesia, tentu Indonesia juga bisa melakukan hal yang sebaliknya. Dia terbang ke Jakarta dan menemui Pangeran Andrew yang membuka acara itu di Mall Senayan City.  Kepada anak ketiga dan putra kedua Ratu Elizabeth II itu, Usya mengatakan bahwa dia ingin menggelar acara serupa di London.

Gayung bersambut, Pangeran Andrew mendukung. Dia mengisyaratkan akan menghubungkan Usya dengan pejabat kota London. Beberapa lama kemudian setelah pulang dari Jakarta, otoritas London menyetujui proposal Usya. Tetapi, mereka hanya menawarkan sebuah mall di Westpile, London Barat dan Hydepark di dekat Westminster.

Pertimbangan mereka satu: sebagai sebuah monument yang menyimpan banyak kenangan patriotik yang gemilang, Trafalgal Square hanya bisa diisi dengan acara besar. Singkatnya: even Usya harus sukses. Sejak itu, Usya kemudian bergerak cepat. Dia menghubungi banyak relasi yang rata-rata pelanggan restoran dan wismanya.  

Mereka bersedia membuka booth. Untuk mendapatkan sponsor dari bank-bank dan institusi komersial di Indonesia, Usya meminta memo dari kedutaan Indonesia di London. Akhirnya, pada Juni 2014, acara itu berhasil digelar. Acara yang bertajuk Halo Indonesia diisi oleh tari-tarian dan musik khas Indonesia.

Duta Besar Indonesia Hamzah Thayeb, dalam pidato penutupan menyebut Halo Indonesia  sebagai  acara besar tersukses pertama sejak hubungan diplomatik Indonesia-Inggris pada 1950. Para pejabat Inggris juga mengonfirmasi hal ini. Usya dipuji karena dinilai sukses besar dalam menggelar acara diplomasi budaya kedua negara. Tahun depannya, jalan bagi Usya terbentang untuk meminjam Trafalgar Square lagi.

Meski demikian, seperti banyak acara sukses lainnya, banyak yang berusaha menumpang kesuksesan. Kedutaan Besar Indonesia di London mengklaim bahwa Halo Indonesia adalah acara mereka. Usya sempat shock. Firdaus Ahmad, suaminya, mengatakan istrinya sangat terpukul karena hal itu. “Dia sempat nangis,” ucapnya kepada wartawan.

Memang wajar Usya marah. Dia memperjuangkan acara ini nyaris sendirian dari awal, mulai dari ide, melobi, hingga bolak-balik meyakinkan para pejabat di Inggris, membuat konsep acara dan mencari sponsor. Usya bahkan harus rela mengeluarkan uang miliaran dari koceknya sendiri.

Tetapi hal ini tidak membuat Usya jera. Dia bolak-balik menelepon para relasi dan pejabat Kota London untuk meyakinkan bahwa dia lah yang telah membuat Halo Indonesia. Syukur, mereka bisa mengerti.

Klaim sukses ini kemungkinan karena acara ini efektif mendongkrak jumlah wisatawan asing. Setelah acara Halo Indonesia ini, kunjungan turis Eropa ke Indonesia meningkat pesat. Data kunjungan wisatawan asing ke Indonesia mencapai sekitar sembilan juta dan turis dari Inggris mencapai 230.000 tahun lalu. Meski demikian, jumlah ini masih jauh di bawah kunjungan turis asing ke Malaysia yang mencapai sekitar 26 juta tahun 2014 sementara Thailand sekitar 23 juta.

-----------------
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...