27 May 2017

Dagang Martabak di Timor Leste, Pria Asal Banyuwangi Ini Bisa Raup USD400 Per Hari

KONFRONTASI-Pelaku usaha dari Indonesia rasanya perlu menjajaki negara tetangga Republik Demokratik Timor Leste. Soalnya, negara ini memakai mata uang Dolar Amerika Serikat (USD).

Subeki adalah salah satu pelaku usaha dari Indonesia di Timor Leste. Pria asal Banyuwangi Jawa Timur ini meraup dolar dari martabak yang dijualnya.

"Saya asli Banyuwangi, masuk ke Timor Leste pada 2002," kata pria ini di Pos Perbatasan Terpadu Timor Leste, Batugade, Bobonaro, Jumat (7/4/2017).

Pria 45 tahun ini hendak membawa familinya beserta tiga anak Timor Leste untuk jalan-jalan sejenak ke Kabupaten Belu. Sambil menyusuri jembatan menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain, dia bercerita perihal bisnisnya.

"Dulu saya aslinya orang perhotelan, jadi koki di Bali, di Surabaya. Kemudian ada yang mengajak saya ke sini (Timor Leste)," kata Subeki.

Setelah menjadi karyawan di Timor Leste, Subeki ingin membuka usaha sendiri. Merasa sudah tahu peluang, dibukalah lapaknya di Luru Mata, Comoro, Dili, Ibu Kota Timor Leste.

"Saya pikir, kenapa nggak buka (warung) sendiri saja," kata dia.

Subeki yang mengantongi visa kerja ini menamai warungnya 'Martabak Super Lanches'. Kata 'lanches' dalam bahasa setempat bermakna 'makanan ringan'. Meski begitu, dia juga menjual menu lain selain martabak, yakni sate hingga lalapan. Selera orang Timor Leste menurutnya tak jauh berbeda dengan orang Indonesia.

"Justru di sini 25 tahun ikut Indonesia, seleranya selera Indonesia," ujarnya.

Lama kelamaan, warungnya di dekat kantor polisi wilayah Comoro itu semakin dikenal orang. Martabak loyang kecil dijualnya dengan harga 8 USD, yang kecil dijual 6 USD. Martabak manis bervariasi, antara 4,50 USD sampai 12 USD yang memakai durian asli Medan.

"Semua bahan kita impor dari Indonesia," kata Subeki.

Dia menilai orang Timor Leste memang suka jajan kuliner. Mereka tak segan-segan membelanjakan uangnya untuk memanjakan lidah. Bila hari sedang ramai, otomatis dolar mengalir ke warungnya.

"Satu hari kalau pas ramai kadang 400 USD, kadang juga 200 USD. Kami kan bukan warung besar," ungkap Subeki.[mr/detik]

Tags: 
Category: 

loading...

Related Terms



News Feed

Loading...

Baja juga