22 November 2017

Ari Hudaya, Jebolan ITB yang Juga Presiden Bumi Resources

KONFRONTASI-Sekarang, lantaran krisis keuangan global, saham Bumi Resources memang merosot tajam. Bahkan, ada yang bilang menukik. Tapi, sebelum itu, siapa yang tidak ngiler untuk membeli saham perusahaan milik kelompok usaha Bakrie Corp ini. Waktu itu, harga saham bumi meroket.

Arie Saptari Hudaya, adalah sosok di balik kinclongnya kinerja Bumi Resources itu.  Sebagai Presiden Direktur Bumi Resources, Ari ternyata sosok yang ramah. Tidak angkuh. Tidak jaim seperti kebanyakan elite perusahaan besar. Bahkan, terkesan koboy. “Nyantai aja, Wan,” katanya kepada saya setahun lalu.

Ya, waktu itu saya memang bertemu Ari untuk sebuah wawancara. Hasil wawancara itu kemudian saya tuliskan untuk sebuah buku alumni ITB angkatan 78. Ari Hudaya adalah alumni Teknik Mesin ITB.

Gayanya cuek banget. Pokoknya, egaliter. Tapi, kurang tahu juga apakah Arie akan begitu jika bukan dengan penulis macam saya.  Tapi, sepertinya performa Arie ketika itu tidak mengada-ada alias apa adanya.

Bagi sebagian besar komunitas bursa saham Indonesia ketika itu, kinerja dan pergerakan nilai saham PT. Bumi Resources memang sempat membuat mereka terheran-heran. Betapa tidak, saham berkode BUMI yang selalu menggoda para investor ini, pernah hanya dihargai Rp30 per saham. Namun, dalam tempo singkat langsung melesat hingga ke level Rp 500. Bahkan, kembali melesat hingga Rp 900 per saham.

Yang tak kalah menarik, salah satu perusahaan andalan Kelompok Usaha Bakrie ini juga pernah diberitakan mengakuisisi raksasa tambang Kaltim Prima Coal (KPC) tiga tahun silam. Jelas, akuisisi KPC itu dianggap sebagai sebuah keajaiban. “Ibarat katak memakan gajah,” tulis Majalah TRUST.  Nah, Ari  ketika itu menjadi Presiden Direktur PT. Bumi Resources Tbk, si katak pemakan gajah tadi.

***

Siapa Ari? Bagaimana asul-usul sehingga ia bisa duduk di kursi paling puncak Bumi Resourcer. Yang jelas, semua itu tidak terlepas dari portofolio Ari  yang menarik hati seorang Nirwan Bakrie. Pertemuan Ari dengan Nirwan terjadi pada November 1996. Ketika itu, Ari masih berstatus sebagai seorang manajer di Astra Securities. “Ada chemistry yang cocok di antara kami,” nilai Arie menyoal bergabungnya ia ke Kelompok Usaha Bakrie.

Ari, jelas bukan ‘orang baru’ di dunia keuangan. Meski berlatarbelakang pendidikan Teknik Mesin ITB, Ari lebih dikenal sebagai “orang keuangan’ ketimbang “orang otomotif”. Memang, Arie pernah bekerja di Mitsubishi Corp. Bersama Wawan (Bambang Kardono), yang juga anak Teknik Mesin ITB78 dan kini salah seorang eksekutif di British Petroleum Indonesia, Ari termasuk satu dari empat orang insinyur yang masuk Mitsubishi lewat sebuah seleksi ketat dan harus bersaing dengan ratusan insinyur muda lainnya.

Setelah sempat melanglang ke beberapa pabrik Mitsubishi di beberapa kota di Jepang, Ari pulang ke tanah air. Tergoda tawaran beberapa seniornya yang juga lulusan Teknik Mesin ITB, yang sudah lebih dulu berkarir di dunia perbankan, Ari pun memasuki dunia barunya. “Saya tipe orang yang suka tantangan, jadi ajakan senior untuk berkarir di bidang perbankan saya terima,” ungkap penggemar balap mobil dan cross country dengan motor trail ini.

Karir Ari di dunia perbankan berawal di Citibank (1986-1989) sebagai manajer. Dari sana, Ari sempat meloncat ke Bank Bumiputera sebagai Vice President/Business Manager dan ke Bank Universal, juga sebagai sebagai Vice President/Treasury and Financial Institution. Akhirnya, pada tahun 1993, Ari mendarat di Astra Internasional, sebelum akhirnya berlabuh ke Kelompok Usaha Bakrie.

Keputusan Ari untuk bergabung dengan Kelompok Usaha Bakrie, jelas, merupakan salah satu keputusan terpenting dalam hidupnya. Betapa tidak, setelah sempat mengarungi masa-masa sulit bersama Kelompok Usaha Bakrie, Ari akhirnya mencapai posisi terhormat di kelompok usaha milik keluarga Bakrie ini.

Penghormatan atas kinerja Ari itu sebenarnya tidak berlebihan jika merujuk pada loyalitas dan kontribusinya terhadap kelompok usaha ini. Ketika krisis moneter menghantam dunia usaha di negeri ini, Kelompok Usaha Bakrie turut terkena dampak. Ari, yang ketika itu menjadi komisaris di beberapa perusahaan milik kelompok Bakrie, pun menjadi salah satu figur yang ikut bekerja keras menyelamatkan Bakrie dari keterpurukan. “Saya punya kepuasan tersendiri bisa menjadi bagian dari kelompok usaha ini untuk bangkit dari keterpurukan,” ungkap Ari, yang mengaku banyak belajar tentang etos kerja keras dari keluarga Bakrie ini.

***

Restrukturisasi Kelompok Usaha Bakrie kembali menjadi ujian bagi Ari. Bersama para koleganya, ia menjadi bagian dari keputusan penting Kelompok Usaha Bakrie untuk merambah ke bidang pertambangan. Waktu itu, ungkap Ari, bersama para pemilik saham, para top manajer di lingkungan Kelompok Usaha Bakrie melakukan evaluasi dan pemetaan ulang atas potensi bisnis kelompok usaha mereka. “Indonesia punya natural resources luar biasa, tapi perusahaan nasional hanya menjadi pemain kelas dua. Mengapa Bakrie tidak menggarap lahan yang potensial ini,” kenang Ari bercerita tentang alasan masuknya Bakrie ke dunia pertambangan.

Singkat cerita, Bumi Resources menjadi fenomena. Bayangkan, perusahaan yang baru seumur jagung ini mengakuisisi KPC yang merupakan perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Itulah Bumi Resources. Dengan segala kontroversi yang menyelimuti transaksi senilai 500 juta US Dollar tersebut, perusahaan ini justru kian mempesona. Maklum, akibat akuisisi KPC tadi, sahamnya yang semula hanya Rp 30, dalam tempo singkat langsung melesat ke level Rp 500. Pergerakan harga saham ini terus berlanjut. Bahkan setelah 32,4% saham KPC didivestasikan ke PT Sitrade Nusaglobus, harga saham Bumi melesat ke Rp 900 per saham. Dari divestasi itu, BUMI kabarnya mendapat dana senilai 399 juta US Dollar.

Kelompok Usaha Bakrie sebagai pemilik 40 persen saham BUMI jelas ikut sumringah. Bahkan, menurut hitungan para analis keuangan, melonjaknya kekayaan Kelompok Usaha Bakrie yang ditaksir Forbes sebagian besar berasal dari kontribusi melonjaknya harga saham perusahaan tambang ini. Dan, di sanalah Ari Hudaya menjadi seorang Presiden Direktur.

Kegemilangan Bumi Resources beberapa tahun lalu itu, menurut Ari, selain termotivasi oleh alasan bisnis ternyata juga dimotivasi oleh alasan nasionalisme. Setidaknya, itu yang bisa dirangkai dari ungkapan Ari berikut ini:

“Saya ingin melihat ada perusahaan Indonesia bisa bicara di tingkat global, terutama di bidang yang negeri ini punya sumber daya untuk itu,” jelas Ari yang gelisah melihat dunia pertambangan Indonesia dikuasai para pemain asing. “Tentunya, BUMI harus kuat dan solid dulu di tingkat domestik,” lanjut pria yang mengaku selalu menikmati profesinya ini. “Apa yang sudah dicapai sekarang ini baru tahap awal,” tegas penggemar balap yang merasa nyaman di belakang kemudi Subaru ini.

***

“Enjoy aja”, begitu simpul Ari, mengutip jargon iklan sebuah produk rokok, mengidentifikasi karakternya dalam berprofesi. “Menikmati pekerjaan itu penting. Jika tidak, kita sendiri yang akan susah,” kata Ari yang memang selalu tampil enjoy ini.

Namun bagaimanapun, yang jelas, tanggung jawabnya sebagai Presdir Bumi Resources membuat waktu Ari untuk ber-enjoy ria dengan hobinya ber-cross country menjadi berkurang. Oh ya, sebagai catatan, ada satu alasan mengapa Ari sangat menggemari hobinya yang satu ini. Melalui cross country, dengan motor trailnya Ari bisa masuk ke daerah-daerah yang medannya sulit diantisipasi. “Jadi selain bisa menikmati, saya tetap dituntut berpikir mengantisipasi medan,” kata putra pensiunan TNI-AU ini.

***

Tags: 
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...