23 November 2017

Akankah Pembuat Mobil Listrik Ricky Elson "Putra Petir" Kembali ke Indonesia? Jokowi Harus Dayagunakan Dia

KONFRONTASI- Saat ini tengah ramai dibicarakan tentang program mobil nasional (mobnas). Sayangnya, berita yang beredar justru program mobnas berasal dari kerja sama dengan Proton Malaysia. Lalu bagaimana dengan program mobnas Esemka dan lainnya? Termasuk juga program mobil listrik yang pernah digaungkan oleh mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan..Indonesia sampai saat ini belum punya mobil listrik yang bisa diproduksi secara massal. Tapi sudah ada beberapa mobil listrik yang dibangun oleh putra bangsa. Salah satunya adalah Ricky Elson, pria  Minangkabau lulusan SMAN 5 Padang Sumbar, yang mengenyam pendidikan di Jepang.

Ricky Elson yang lahir di Padang, Sumatera Barat pada 11 Juni 1980an dalah seorang ahli dalam teknologi motor penggerak dengan tenaga listrik.Selepas lulus SMA Negeri 5 Padang tahun 1998, Ricky melanjutkan pendidikan ke Jepang, Di sana dia kuliah bidang keahlian Teknik Mesin di Politechnic University of Japan. Lulus sarjana (S1), dan kemudian master (S2), dengan predikat “lulusan terbaik”, profesornya lalu merekrut Ricky untuk kerja bersamanya sebagai perancang motor di Nidec Corporation, Kyoto, Jepang. Ini adalah perusahaan elektronik yang memproduksi elemen motor presisi .Dan di Jepang,di negeri samurai itu dia belajar sambil bekerja selama14 tahun tinggal disana.kita ketahui bahwa jepang salah satu produsen mobil,motor yang terkenal seperti honda,yamaha,suzuki dan yang lainya.

Hasil gambar untuk Ricky Elson

Ricky Elson, putera petir dengan rambut gondrong

S elain pencipta dan pengembang mobil listrik nasional, Ricky Elson selama di Jepang juga telah menemukan 14 teori tentang motor listrik yang sudah dipatenkan oleh pemerintah Jepang. Beliau juga adalah kepala Divisi penelitian dan pengembangan teknologi permanen magnet motor dan generator NIDEC Coorporation, Kyoto, Minamiku-kuzetonoshiro cho388, japan.Dan masih banyak lagi prestasi Ricky Elson lainnya yang luar biasa, sehingga wajar Dahlan Iskan memintanya pulang ke Indonesia.

Putra Minangkabau ini, yang pernah dipercaya Dahlan Iskan sebagai Pelaksana penugasan proyek pengembangan teknologi mobil listrik nasional, juga sedang aktif melakukan penelitian di ciheras tasikmalaya mengenai pembangkit listrik tenaga angin. Bahkan kini kincir angin hasil rancangan beliau tersebut kini menjadi yang terbaik di dunia untuk kelas 500 watt peak. Luar biasa!

Yang lebih luar biasa lagi, beliau rela ikhlas meninggalkan Jepang dengan segala falisitas dan income yang beliau dapatkan disana, untuk hidup sederhana di desa kecil ciheras dengan kehidupan ala kadarnya sambil membimbing banyak mahasiswa-mahasiswa dan anak-anak muda yang ingin belajar bersama beliau di sana. Bahkan beliau juga kabarnya rela berjauhan sementara dengan istri tercinta beliau demi cita-cita beliau mengujudkan pembangkit listrik murah dan ramah lingkungan untuk Indonesia.

https://indonesiaproud.files.wordpress.com/2015/02/ricky-elson-di-indonesiaproud-wordpress-com.jpg

Saat ini tengah ramai dibicarakan tentang program mobil nasional (mobnas). Sayangnya, berita yang beredar justru program mobnas berasal dari kerja sama dengan Proton Malaysia. Lalu bagaimana dengan program mobnas Esemka dan lainnya? Termasuk juga program mobil listrik yang pernah digaungkan oleh mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Indonesia sampai saat ini belum punya mobil listrik yang bisa diproduksi secara massal. Tapi sudah ada beberapa mobil listrik yang dibangun oleh putra bangsa. Salah satunya adalah Ricky Elson, pria asal Padang yang mengenyam pendidikan di Jepang.

Selama bekerja di negeri Sakura ia berhasil mematenkan 14 penemuan di lembaga paten di Jepang. Terutama di bidang motor listrik. Kinerja dan hasil karya Ricky ini terdengar oleh Menteri BUMN. Dahlan pun meminta Ricky kembali ke Indonesia untuk membangun mobil listrik nasional.

Ricky pertama kali terlibat dalam pembuatan mobil listrik nasional saat Danet Suryatama menciptakan Tucuxi atau ‘Si Lumba-lumba’. Mobil listrik sport berwarna merah ini hanya sempat dikembangkan sampai prototype alias purwarupa. Ricky dipercaya sebagai lead engineer untuk tim pengawas mobil listrik yang menyerupai mobil Ferarri ini.

mobil selo di indonesiaproud wordpress comDahlan juga menugaskan Ricky yang merupakan salah satu ‘Putra Petir’ untuk mengembangkan mobil listrik sport bernama Selo. Untuk desain, Dahlan menyerahkan semuanya rancangan mobil kepada Ricky. Untuk harga, mantan bos PLN ini menuturkan harga mobil Selo lebih murah daripada Tucuxi. Selo sendiri, diambil dari nama dari bahasa Jawa yang memiliki arti batu.

Selain Selo, Ricky bersama timnya sempat mengerjakan mobil listrik kelas MPV bernama Gendhis. Bersama Selo, mobil berukuran cukup besar ini dipamerkan di KTT APEC yang digelar di Bali pada 5-7 Oktober 2013 lalu.

Dukungan Pemerintah Kurang

Setelah lebih dari satu tahun kembali ke tanah air, Ricky dan mobil listrik buatannya kurang didukung pemerintah. Padahal pemerintah selalu berkoar-koar supaya bisa menghemat konsumsi BBM.

Ricky menjelaskan, geliat bisnis dan pengembangan mobil listrik di Indonesia baru terjadi pada 5 hingga 10 tahun ke depan. Tapi diprediksi malah mobil listrik buatan luar negeri, seperti Jepang yang akan meramaikan tanah air.

Gendhis

Gendhis

“Jadi 5-10 tahun ke depan mobil listrik baru merebak. Itu bukan mobil listrik produksi Indonesia, tapi Jepang,” kata Ricky.

Proyeksi Ricky terkait nasib mobil listrik nasional bukan tanpa alasan. Tanpa dukungan penuh dari pemerintah dan pelaku industri otomotif tanah air, purwarupa mobil listrik buatan tenaga ahli Indonesia tidak berkembang.

Ricky mengakui, saat ini dukungan pemerintah dan pelaku industri terhadap pengembangan mobil listrik belum maksimal, baru segelintir orang yang peduli terhadap program mobil listrik nasional.

“Saya menilai belum ada niat berubah. Kesadaran kita perlunya mobil listrik belum terbentuk. Sosialisasi pemerintah juga kurang. Padahal pada 25 Mei 2012 itu Pak Presiden sudah beri arahan jelas kementerian terkait tentang pengembangan mobil listrik,” sebutnya.

Alhasil, bila mobil listrik dalam negeri tidak didukung , Indonesia bakal menjadi penonton terhadap banjirnya mobil listrik dari luar negeri. Meskipun para tenaga ahli mobil listrik Indonesia mampu memproduksi purwarupa mobil listrik dan menciptakan komponen mobil listrik.

Beredar Kabar Kembali ke Jepang

Ricky dikabarkan berencana kembali ke Jepang karena mobil listrik buatannya tidak banyak dapat dukungan. Namun, pria pencipta mobil listrik sport Selo dan minibus Gendhis ini menyatakan tetap akan tinggal di Indonesia.

Selama bekerja di negeri Sakura ia berhasil mematenkan 14 penemuan di lembaga paten di Jepang. Terutama di bidang motor listrik. Kinerja dan hasil karya Ricky ini terdengar oleh Menteri BUMN. Dahlan pun meminta Ricky kembali ke Indonesia untuk membangun mobil listrik nasional.

Ricky pertama kali terlibat dalam pembuatan mobil listrik nasional saat Danet Suryatama menciptakan Tucuxi atau ‘Si Lumba-lumba’. Mobil listrik sport berwarna merah ini hanya sempat dikembangkan sampai prototype alias purwarupa. Ricky dipercaya sebagai lead engineer untuk tim pengawas mobil listrik yang menyerupai mobil Ferarri ini.

mobil selo di indonesiaproud wordpress comDahlan juga menugaskan Ricky yang merupakan salah satu ‘Putra Petir’ untuk mengembangkan mobil listrik sport bernama Selo. Untuk desain, Dahlan menyerahkan semuanya rancangan mobil kepada Ricky. Untuk harga, mantan bos PLN ini menuturkan harga mobil Selo lebih murah daripada Tucuxi. Selo sendiri, diambil dari nama dari bahasa Jawa yang memiliki arti batu.

Selain Selo, Ricky bersama timnya sempat mengerjakan mobil listrik kelas MPV bernama Gendhis. Bersama Selo, mobil berukuran cukup besar ini dipamerkan di KTT APEC yang digelar di Bali pada 5-7 Oktober 2013 lalu.

Dukungan Pemerintah Kurang

Setelah lebih dari satu tahun kembali ke tanah air, Ricky dan mobil listrik buatannya kurang didukung pemerintah. Padahal pemerintah selalu berkoar-koar supaya bisa menghemat konsumsi BBM.

Ricky menjelaskan, geliat bisnis dan pengembangan mobil listrik di Indonesia baru terjadi pada 5 hingga 10 tahun ke depan. Tapi diprediksi malah mobil listrik buatan luar negeri, seperti Jepang yang akan meramaikan tanah air.

Gendhis

Gendhis

“Jadi 5-10 tahun ke depan mobil listrik baru merebak. Itu bukan mobil listrik produksi Indonesia, tapi Jepang,” kata Ricky.

Proyeksi Ricky terkait nasib mobil listrik nasional bukan tanpa alasan. Tanpa dukungan penuh dari pemerintah dan pelaku industri otomotif tanah air, purwarupa mobil listrik buatan tenaga ahli Indonesia tidak berkembang.

Ricky mengakui, saat ini dukungan pemerintah dan pelaku industri terhadap pengembangan mobil listrik belum maksimal, baru segelintir orang yang peduli terhadap program mobil listrik nasional.

“Saya menilai belum ada niat berubah. Kesadaran kita perlunya mobil listrik belum terbentuk. Sosialisasi pemerintah juga kurang. Padahal pada 25 Mei 2012 itu Pak Presiden sudah beri arahan jelas kementerian terkait tentang pengembangan mobil listrik,” sebutnya.

Alhasil, bila mobil listrik dalam negeri tidak didukung , Indonesia bakal menjadi penonton terhadap banjirnya mobil listrik dari luar negeri. Meskipun para tenaga ahli mobil listrik Indonesia mampu memproduksi purwarupa mobil listrik dan menciptakan komponen mobil listrik.

Beredar Kabar Kembali ke Jepang

Ricky dikabarkan berencana kembali ke Jepang karena mobil listrik buatannya tidak banyak dapat dukungan. Namun, pria pencipta mobil listrik sport Selo dan minibus Gendhis ini menyatakan tetap akan tinggal di Indonesia.

Ricky menegaskan akan tetap tinggal di Indonesia untuk mengembangkan teknologi mobil listrik dan energi listrik terbarukan (renewable energy). “Saya tidak ingin kembali ke Jepang,” kata Ricky.

Bahkan saat ini dirinya tengah aktif mendidik dan membagi ilmu kepada anak-anak muda untuk mengembangan mobil listrik dan teknologi listrik dari sumber energi terbarukan.

“Saya tetap konsisten mengembangkan listrik tenaga angin bersama adik-adik. Ada juga pengembangan mobil listrik,” sebutnya.

Jepang termasuk negara maju yang cara hidupnya kadang ditiru negara lain di dunia. Termasuk dalam hal penggunaan kendaraan. Di Jepang kini tengah ngetren penggunaan mobil listrik. Bahkan di rest area atau tempat peristirahatan di tol pun kini sudah ada fasilitas pengisian baterai mobil listrik.

Saat saya berkunjung ke Jepang beberapa waktu lalu, saya menemui fasilitas pengisian baterai mobil listrik (SPLU/Stasiun Penyedia Listrik Umum) ini di sebuah rest area di Kameyama, di Prefektur Mie, Jepang.

Saat menjalani perjalanan dari bandara Kansai menuju Okazaki, Osaka yang melelahkan, rombongan--dimana detikOto turut serta--memutuskan untuk berhenti di rest area ini. Rest areanya sangat bersih, dengan satu gedung utama yang teduh berdesain khas Jepang. Beberapa orang yang sudah kelihatan berusia lanjut mempersilakan kami untuk segera masuk ke gedung utama. Di gedung utama ini tersedia restoran yang menyajikan aneka masakan khas Jepang, seperti udon, shabu-shabu dan sebagainya.

Bangunan utama rest areaBangunan utama rest area Foto: Dadan Kuswaraharja


Di sudut lain, ada kepolisian Jepang yang memberikan kesempatan untuk masyarakat berpose dengan motor-motor dan mobil armada polisi.
 

Polisi Jepang mempersilakan pengunjung untuk foto-foto dengan armada yang mereka milikiPolisi Jepang mempersilakan pengunjung untuk foto-foto dengan armada yang mereka miliki Foto: Dadan Kuswaraharja


Setelah puas makan siang, detikOto kemudian melihat-lihat fasilitas rest area ini. Selain pengisian BBM, yang paling menarik perhatian detikOto adalah pengisian baterai mobil listrik.
 

Kapan Ada Rest Area Seperti Ini di RI, Ada Buat Ngecas Mobil ListrikFoto: Dadan Kuswaraharja



Stasiun pengisian baterai bisa mengisi baterai mobil listrik dalam waktu cepat (quick charging). Sayang saat itu tidak ada mobil listrik yang tengah mengisi baterainya.

Stasiun Mobil Listrik Lebih Banyak dari SPBU BBM

Salah satu fakta lagi, Jepang kini kabarnya memiliki stasiun pengisian baterai yang lebih banyak ketimbang SPBU BBM. Data dari World Economic Forum tahun 2016 lalu mengatakan, Jepang memiliki 6.469 unit fasilitas pengisian baterai cepat. Angka itu lebih banyak dibanding Eropa (3.028 stasiun), dan Amerika Serikat (1.686 stasiun).

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...