20 February 2018

Wawancara dengan Shigetaka Komori: ‘Berinvestasilah di Teknologi & RnD’

Chairman and CEO Fujifilm Shigetaka Komori (kiri) berbincang dengan Presiden Direktur PT Jurnalindo Aksara Grafika penerbit Bisnis Indonesia Lulu Terianto sebelum acara gala diner di Jakarta, Selasa (10/1) malam. Acara tersebut dalam rangka memperingati lima tahun hadirnya fujifilm Indonesia di Indonesia/JIBI/Bisnis

 

KONFRONTASI Shigetaka Komori - Fujifilm Holdings Corporation berhasil bangkit dari keterpurukan industri film berwarna yang tergulung oleh arus digitalisasi. Shigetaka Komori memegang peran kunci untuk membawa perusahaan Jepang itu bertahan dari tren digital. Kepada Bisnis, Komori menjelaskan strateginya menakhodai dan menggelar transformasi perusahaan yang dipimpinnya. Berikut petikannya.

 

Fujifilm sedang dalam kondisi yang tidak baik saat Anda diangkat menjadi CEO. Langkah apa yang pertama Anda pikirkan untuk memperbaiki kondisi perusahaan ketika itu?

Sebetulnya saya menjadi Presiden Direktur Fuji Photo Film Co. Ltd. pada 2000, dan ketika itu ada CEO di atas saya. Kemudian dipercaya menjadi CEO pada 2003.

Secara bisnis, pasar film berwarna memang terus meningkat sejak 1993 hingga mencapai puncaknya pada 2000. Saat itu, kami juga menguasai pangsa pasar kamera digital, dan 60% omzet kami dari film berwarna, serta 70% laba kami disumbangkan oleh penjualan film untuk kamera, beserta percetakan foto.

Kami sebenarnya sudah menyadari digitalisasi akan membuat situasi bisnis berubah dan membuat pasar film berwarna tergerus. Hal itu terbukti karena sejak 2003 pasar film berwarna mengalami penurunan tajam, sehingga saya harus melakukan strategi bisnis yang berbeda dari sebelumnya.

Kami harus tetap membuat perusahaan tumbuh secara berkelanjutan dengan mengambil beberapa langkah penting. Kami mencari tahu apa saja keunggulan kami, hingga akhirnya berkesimpulan kami memiliki keunggulan di teknologi.

Kami juga melakukan diversifikasi usaha dengan memasuki industri yang berbeda, dengan tetap mempertimbangkan keunggulan dan kemampuan kami. Kemudian, kami juga menentukan harus masuk ke pasar mana dengan memproduksi apa saja agar dapat bertahan.

Ketika itu kami menentukan mengembangkan digital imaging, healthcare, obat-obatan, kosmetik, dan industri lainnya. Kami juga mengandalkan Fuji Xerox yang bergerak di bidang document solutions yang menyumbangkan 45% dari total laba kami.

 

Bagaimana proses transformasi bisnis yang dilakukan Fujifilm? Apakah fokus ke bidang tertentu?

Ada beberapa bidang usaha yang kami kembangkan secara berkelanjutan. Dalam prosesnya, kami membuat rencana pengembangan usaha dalam lima tahun, dan dalam perencanaan itu kami tentukan produk apa saja yang akan dilempar ke pasar, serta berapa target penjualannya.

Kami membuat rencana pengembangan usaha secara detail, termasuk penentuan bidang usaha apa saja yang dikembangkan, dan apa yang menjadi fokus kami dalam jangka waktu tertentu.

Mungkin mengubah arah pertumbuhan itu mudah dilakukan oleh perusahaan kecil, tetapi Fujifilm adalah perusahaan besar dengan omzet hingga 3 triliun yen per tahun, dan memiliki karyawan sekitar 80.000 orang di seluruh dunia, sehingga perubahan arah pertumbuhan perusahaan adalah hal yang cukup penting.

Itu juga terbukti dengan banyaknya pihak yang tertarik dengan keberhasilan Fujifilm melakukan transformasi, sedangkan pesaing utama kami tetap kolaps.

 

Bidang usaha apa yang saat ini fokus dikembangkan oleh Fujifilm?

Kami fokus mengembangkan healthcare, karena saat ini masih banyak penyakit yang belum dapat disembuhkan. Beberapa penyakit seperti kanker, alzheimer, dan beberapa penyakit menular kan belum ditemukan obatnya, sehingga memiliki peluang yang sangat besar.

Kami juga mengembangkan regenerative medicine. Kami adalah perusahaan nomor satu di bidang usaha itu. Kami juga baru saja menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan terkemuka di Amerika Serikat yang bergerak di bidang iPS cell.

Kami juga memiliki anak perusahaan yang mengembangkan media untuk mengembangkan cell, serta scaffolding. Kami adalah satu-satunya perusahaan yang menguasai teknologi iPS cell, media cell culture, dan scaffolding di seluruh dunia.

 

Apa yang membedakan Fujifilm dengan perusahaan lain yang lebih dulu ada di industri medicine?

Kami memproduksi obat yang efektif dan berkhasiat untuk bersaing dengan para kompetitor. Kami juga mengembangkan teknologi yang kami miliki agar obat itu tidak sekadar dikonsumsi atau disuntikkan, tetapi obat kami harus efektif mengenai sumber penyakitnya.

Salah satu contohnya, Avigan yang kami produksi saat ini terbukti efektif menyembuhkan ebola dan flu burung. Obat itu mulai kami ekspor ke negara lain dan mudah-mudahan Indonesia bisa mulai membuat stok Avigan, karena pernah menjadi endemi flu burung.

Untuk obat alzheimer, kami sedang melakukan penelitian dan sudah masuk ke tahap kedua dari tiga tahap yang harus dilakukan. Penelitian itu kami lakukan di Amerika Serikat dan Jepang secara berkelanjutan. Kami juga sudah menguji obat itu ke hewan. Hasilnya terbukti cukup efektif.

Mungkin sekitar tiga atau empat tahun ke depan kami akan mulai memasarkan obat alzheimer itu, karena biaya untuk merawat penderita penyakit itu sangat mahal. Secara global, biaya yang dikeluarkan untuk merawat penderita alzheimer mencapai 100 triliun yen.

 

Fujifilm juga memproduksi kosmetik, apa alasan masuk ke industri itu?

Kosmetik yang kami pasarkan bukan hanya untuk kecantikan, tetapi mengandung unsur anti-aging yang dapat mencegah tanda-tanda penuaan. Tanda-tanda penuaan itu kan akibat oksidasi, dan kami memiliki anti-oksidan yang berkhasiat mencegah itu.

Teknologi anti-oksidan sudah lama kami kembangkan untuk menjaga warna cetakan foto tidak berubah hingga 300 tahun, dan saat ini kami sudah memiliki sekitar 4.000 anti-oksidan. Dari 4.000 anti-oksidan itu, ada satu jenis yang bernama Astaxanthin yang berguna untuk anti-aging.

Kami membuat Astaxanthin lebih kecil hingga menjadi nano partikel agar larut di dalam air, sehingga dapat diserap oleh wajah dan kulit. Ini juga yang membedakan kami dengan perusahaan kosmetik lainnya.

 

Bagaimana Fujifilm mempertahankan bisnis kamera digital yang sempat menjadi penopang eksistensi perusahaan?

Kami memang terus meningkatkan pangsa pasar kamera digital kami, khususnya untuk jenis mirorless. Sebenarnya ada beberapa fitur kelebihan yang ditawarkan oleh kamera mirorless, tetapi kami lebih mengutamakan gambar yang dihasilkan.

Kami memiliki teknologi yang membuat gambar hasil dari kamera mirorless memiliki resolusi warna yang lebih tajam. Kami juga memiliki lensa yang lebih baik dibandingkan dengan para kompetitor kami, dan lensa itu kami produksi sendiri dengan spesifikasi khusus agar menghasilkan warna yang lebih baik.

 

Bagaimana pengembangan core technology di Fujifilm?

Core technology sebenarnya dari industri kimia yang  kemudian kami kembangkan. Kalau di bisnis foto itu bagaimana menggunakan bahan baku agar warna yang dihasilkan lebih baik.

Di bisnis kosmetik, kami menggunakan bahan-bahan yang efektif untuk wajah dan kulit, serta materi yang dapat digunakan agar obat yang diproduksi mampu memberikan khasiat optimal.

Di teknologi produksi, kami mengembangkan pengendalian mutu yang sangat ketat agar produk kami memiliki kualitas terbaik. Teknologi pengendalian ini sudah kami kembangkan di bisnis film berwarna.

 

Menurut Anda, apa saja yang diperlukan agar perusahaan dapat tumbuh secara berkelanjutan?

Kita harus dapat memperkirakan kondisi industri dan masyarakat pada masa mendatang. Jadi perusahaan tidak boleh hanya memproduksi produk yang dapat dijual dan menghasilkan laba pada saat ini saja.

Perusahaan harus selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi masa depan, dan menyiapkan strategi dalam menjawab tantangan yang ada.

Kita juga harus mengetahui apa saja yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan masa depan, dan jangan takut untuk melakukan investasi di teknologi dasar serta research and development atau RnD.

 

Bagaimana Fujifilm melihat pasar di Indonesia saat ini?

Indonesia memiliki pasar yang sangat penting bagi kami, karena sejak 2011 memiliki pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Indonesia juga memiliki kelebihan demografis, di mana terdapat generasi muda yang sangat besar dan daya beli masyarakat yang cukup kuat.

Saya pikir perekonomian Indonesia saat ini adalah nomor satu dan menjadi yang terpenting di negara-negara Asean. Terakhir saya datang ke Indonesia itu tiga tahun lalu dan saat ini terlihat banyak perubahan yang menunjukkan perkembangan ekonomi.

 

Bagaimana strategi Fujifilm dalam  mengembangkan bisnisnya di Indonesia?

Sejak tiga tahun lalu, kami melakukan penjualan dan distribusi secara langsung dengan mendirikan anak perusahaan di Indonesia. Dengan begitu, kami akan mendapatkan informasi mengenai kebutuhan masyarakat secara lebih baik dan merumuskan kebijakan penjualan yang sesuai dengan kondisi pasar, serta akan membuat produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.(Juft/Bisnis)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...