19 July 2019

Wah, sudah Rp 309 Trilyun Menguap dari Pasar Saham RI

KONFRONTASI- Gaduh politik akibat pemilu curang dan kejatuhan pasar saham domestik dari awal pekan ini membuat nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) berkurang Rp 309,05 triliun hingga Kamis (16/5/2019).

Sentimen perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China serta defisit neraca dagang yang kian melebar membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun dalam. Secara tahun berjalan atau year to date, IHSG minus 4,76%.

Angka tersebut dihitung dari penurunan nilai kapitalisasi saham pada Jumat akhir pekan lalu (10 Mei) hingga perdagangan sesi I siang ini.

 


Akhir pekan lalu, nilai kapitalisasi saham di BEI tercatat sebesar Rp 7.064,09 triliun. Sementara pada sesi I siang ini, nilai kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 6.755,04 triliun atau turun 4,37%.

Sementara pada periode yang sama, IHSG tercatat turun 4,69% dari 6.209,12 ke level 5.917,79.

Pada Jumat pekan lalu, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menaikkan bea masuk atas importasi produk-produk asal China senilai US$ 200 miliar, dari 10% menjadi 25%.

China langsung membalas. Pemerintahan Xi Jinping mengumumkan bahwa bea masuk bagi importasi produk asal AS senilai US$ 60 miliar akan dinaikkan menjadi 20 dan 25% pada tanggal 1 Juni mendatang.

Balas-membalas bea masuk antara AS dan China tentunya akan berdampak pada perekonomian kedua negara tersebut. Belum terekskalasi saja, rilis data ekonomi kedua negara telah tertekan.

Pelaku pasar kembali dibuat khawatir, karena fundamental dua kekuatan ekonomi terbesar dunia terus melemah dan ini tentu akan menyeret turun pertumbuhan ekonomi global. Risiko berinvestasi di bursa saham negara berkembang, termasuk Indonesia bukanlah pilihan bijak.

Situasi tambah tidak kondusif setelah kemarin Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kinerja perdagangan internasional (ekspor-impor) Indonesia periode April 2019.

Selama April Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$ 2,5 miliar, defisit bulanan yang paling dalam sepanjang sejarah Indonesia.

Penyebabnya adalah kinerja ekspor yang ternyata turun cukup jauh. Sepanjang bulan April 2019, Indonesia hanya mampu mencetak ekspor senilai US$ 12,6 miliar, atau turun hingga 10,8% year-on-year (YoY). Sementara impor hanya turun 6,58% YoY menjadi sebesar US$ 15,10.

Tentu saja profil kinerja perdagangan barang yang seperti itu tidak akan membuat investor senang. Reaksinya asing menarik dana mereka keluar. Pasalnya defisit perdagangan barang yang masif akan memberi tekanan pada neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia.

Data BEI mencatat, investor asing secara year to date sudah melakukan jual bersih di pasar reguler Rp 730 miliar hingga awal sesi kedua, Kamis ini. Hari ini saja, total net sell asing mencapai Rp 349 miliar di pasar reguler.

 

Simak ulasan IHSG anjlok, investor kecewa.
 

(hps/tas)

 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...