21 May 2019

Utang Luar Negeri Terus Jadi Beban. Inilah Empat Defisit Warisan SBY

KONFRONTASI- Utang lagi. Pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2015 tercatat sebesar 7,8 persen, relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2015 yang sebesar 7,6 persen.

Dengan pertumbuhan tersebut, posisi ULN Indonesia pada akhir April 2015 tercatat sebesar 299,8 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, 44,3 persen di antaranya, atau sebesar 132,9 miliar dolar AS merupakan ULN sektor publik. Sementara, 55,7 persen sisanya, atau sebesar 167 miliar dolar AS merupakan utang sektor swasta.

Perkembangan ULN pada April 2015 dipengaruhi oleh meningkatnya pertumbuhan ULN sektor swasta di tengah melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik. "ULN sektor swasta tumbuh 13,4 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 12,7 persen," jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara di Jakarta Kamis (18/06/2015).

Ia menambahkan, hal tersebut terutama didorong oleh peningkatan pinjaman (loan agreement) dan surat utang (debt securities). Di sisi lain, ULN sektor publik tumbuh 1,5 persen, lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 1,7 persen.

Menurutnya, perkembangan ULN pada April 2015 ini tergolong cukup sehat, meski risikonya terhadap perekonomian perlu terus diwaspadai. "Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta.

Hal ini dimaksudkan agar ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi," pungkas dia.

Jebloknya kinerja tim ekonomi Jokowi-JK tak bisa lepas dari warisan pemerintahan SBY berupa quarto deficit.

Anggota Komisi XI DPR asal PDIP Andreas Eddy Susetyo memaparkan quarto deficit atau empat defisit sebagai legacy dari SBY, berupa defisit neraca perdagangan U$6 miliar, neraca pembayaran U$ 9,8 miliar, balance of payments U$ 6,6 miliar serta defisit anggaran akibat utang luar negeri Rp 2.100 triliun.

Sejauh ini, menkeu sudah melakukan stimulus fiskal, tinggal tantangannya adalah masalah penyerapan," kata Andreas di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (17/6/2015).

Selain itu, kata Andreas, langkah Menkeu Bambang Brodjonegoro dalam mendorong peningkatan daya beli masyarakat melalui program-program yang langsung bersentuhan, layak diapresiasi. Semisal, penggelontoran dana desa, diyakini efektif dalam membuka lapangan kerja.

Menurut Andreas, siklus perekonomian nasional berada di titik nadir, bisa jadi dampak dari melemahnya perekonomian global. "Kondisi ekonomi global memang kurang menguntungkan akibat penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Kalau ekonomi Amerika menguat maka ada pembalikan modal ke Amerika," paparnya.

[jin]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...