7 April 2020

Singapura Resesi, Peringatan Buat Sri Mulyani & Ekonomi RI

KONFRONTASI -    Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadikan Singapura sebagai barometer untuk pemerintah dalam memproyeksikan pertumbuhan ekonomi, di tengah mewabahnya epidemi virus corona.

Dampak dari virus corona (COVID-19) telah mengganggu mata rantai ekonomi dunia. Virus ini sudah menjangkiti 72.300 ribu orang lebih dan menewaskan 1.867 orang, membuat banyak orang di China enggan keluar rumah dan tidak bekerja.

China merupakan negara kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Guncangan yang terjadi di China akan berdampak pada negara-negara mitra dangangnya selama ini.


Salah satunya Singapura, yang diprediksi akan jatuh ke jurang resesi. Kemungkinan ini sangat besar, mengingat negeri Singa itu, memiliki korban corona terbesar kedua setelah China.


Singapura mengonfirmasi 77 kasus infeksi corona di negeri tersebut, sebagaimana ditulis gisanddata by Johns Hopkins per Selasa (18/2/2020) pukul 6:00 pagi. Kemungkinan resesi juga sempat terucap dari pemimpin negeri tersebut.

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Liong mengatakan, bukan tidak mungkin negaranya terjerumus ke resesi. Sebab dampak virus corona ke perekonomian sudah akan terasa dalam jangka pendek.

"Dampaknya akan signifikan, setidaknya dalam beberapa kuartal ke depan. Penyebaran (virus Corona) sangat intensif.

"Saya tidak bisa mengatakan bahwa Singapura akan resesi atau tidak. Bisa saja, tetapi yang jelas perekonomian Singapura akan terpukul," ungkap Lee, seperti diberitakan Reuters.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan Singapura memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Tahun 2020 ada di kisaran 0,5 - 1,5%. Padahal sebelumnya, pemerintah memproyeksikan, ekonomi Negeri Singa ada di kisaran 0,5%-2,5%.

"Besok (hari ini) Singapura akan mengumkan proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka untuk tahun 2020-2021 dan mereka telah merevisi ke bawah pertumbuhan ekonominya kisaran 0,2% sampai 0,5% atau titik temunya pada 0%," kata Sri Mulyani dalam acara Indonesia Economic and I0,5% nvestment Outlook 2020 di Kantor BKPM, Senin (17/2/2020).

"Ini akan kami jadikan barometer kepada kita untuk melihat apa yang akan terjadi," kata Sri Mulyani melanjutkan.

Sejumlah ekonom pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2019 hanya tumbuh pada kisaran 4,3% sampai 4,9%. Bahkan sampai akhir tahun 2019 pun, ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh di bawah 5%.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan melihat epidemi virus Corona yang masih menyerang dunia, diperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya berada pada kisaran 4,6% sampai 4,9% pada kuartal I-2019.

"Kemungkinan full year juga akan di bawah 5%. Karena epidemi ini belum tuntas, dan kita sudah kehilangan momen di satu semester ini," kata David saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (17/2/2020).

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...