23 July 2019

Sharp dan LG Relokasi Pabriknya ke Indonesia, Dibutuhkan Banyak Tenaga Kerja

KONFRONTASI -   Dua produsen elektronik, Sharp dan LG  berencana akan melakukan relokasi pabrik dari Thailand dan Vietnam ke Indonesia. Indonesia perlu terus meningkatkan daya saing manufakturnya sehingga menjadi tempat investasi paling menarik se-Asia Tenggara.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementrian Perindustrian, Janu Suryanto mengatakan bahwa Sharp akan melakukan relokasi pabrik mesin cuci dua tabung dari Thailand ke pabrik yang ada di Karawang International Industrial City (KIIC). Sementara peresmian ekspansi pabrik Sharp, rencananya akan dilakukan bulan depan.

"Jadi, nanti ada penambahan lini produksi. Ini juga untuk pasar ekspor. Mereka akan menyerap ratusan tenaga kerja," ujarnya di Jakarta, Minggu 16 Juni 2019.

Sementara LG akan melakukan relokasi pabrik pendingin ruangan dari Vietnam ke fasilitas produksi yang ada di Legok, Tangerang. Mereka akan memulai produksi dan produknya mulai dipasarkan pada September 2019, sebanyak 25.000 unit.

Jumlah produksi pendingin ruangan itu ditargetkan naik menjadi 50.000 unit. "Paling tidak, nanti bisa di ekspor (juga) ke ASEAN. Investasi Sharp dan LG sekira ratusan miliar rupiah," kata Janu.

PENCARI kerja.*/DOK. PR

Dia mengatakan, industri manufaktur merupakan salah satu sektor penyumbang signifikan total investasi di Indonesia.

Pada triwulan I tahun 2019, industri pengolahan nonmigas berkontribusi sebesar 18,5% atau Rp 16,1 triliun terhadap realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Adapun tiga sektor yang menunjang paling besar pada total PMDN tersebut pada tiga bulan awal 2019 yaitu industri makanan (Rp 7,1 triliun), industri logam dasar (Rp 2,6 triliun) dan industri pengolahan tembakau Rp 1,2 triliun.

Industri manufaktur juga menyetor hingga 26% atau 1,9 miliar dolar terhadap realisasi penanaman modal asing (PMA). Tiga sektor yang menopangnya, yaitu industri logam dasar sebesar (593 juta dolar), diikuti industri makanan (376 juta dolar),  serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia (217 juta dolar).

Peluang di tengah perang dagang

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan. Indonesia dinilai memiliki peluang di tengah bergulirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Sebab, Indonesia masih memiliki podasi ekonomi yang kuat dalam menghadapi situasi global saat ini.

"Bagi Indonesia, sebetulnya perang dagang Amerika-Tiongkok ini zero sum game. Artinya, tidak ada yang diuntungkan, tapi, di sini kita punya peluang. Dengan adanya trade war, orang melihat negara kita berada di zona aman," ujarnya.

Dia mengatakan, Indonesia telah masuk zona aman investasi sejak 20 tahun lalu, yakni setelah berakhirnya Orde Baru dan dimulainya masa Reformasi. Sebagai negara dengan kondisi geopolitik yang cukup stabil, Indonesia kini semakin diincar oleh investor asing.

Beberapa waktu lalu, lembaga pemeringkat Standard and Poors (S&P) Global Ratings meningkatkan peringkat utang jangka panjang atau sovereign credit rating Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook stabil. Dengan demikian, Indonesia kini beroleh status layak investasi atau investment grade dari ketiga lembaga pemeringkat internasional, yakni S&P, Moody's, dan Fitch.

Airlangga mengatakan, Indonesia sedang dipandang sebagai salah satu negara yang serius dalam mengembangkan ekonomi digital. Hal itu menjadi nilai positif tersendiri bagi para pelaku usaha dunia. "Bahkan, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melihat Asia Tenggara, terutama Indonesia, bisa menjadi ground untuk digital economy," tuturnya.(jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...