18 September 2019

Sentimen Negatif membuat Pasar Obligasi Terdampak

KONFRONTASI- Menyusul pelemahan di pekan sebelumnya, laju pasar obligasi di pekan kemarin masih cenderung melanjutkan pelemahannya. Pelaku pasar masih melakukan aksi jual seiring belum positifnya sentimen yang ada. Meskipun di pekan sebelumnya telah dirilis hasil pertemuan The Fed dimana belum mengindikasikan kenaikan suku bunga dan laju Rupiah yang sempat terapresiasi namun, pasar obligasi belum dapat menguat di pekan kemarin. Imbas cenderung melemahnya obligasi Asia seiring pernyataan MenKeu China yang bernada menunda program stimulus untuk pemulihan China dan beberapa sentimen negatif lainnya membuat pasar obligasi dalam negeri pun ikut terpengaruh. Terlihat obligasi pemerintah seri benchmark FR0068 yang memiliki jatuh tempo ±20 tahun mengalami penurunan harga 16,89 bps. Begitupun dengan FR0070 yang memiliki jatuh tempo ±10 tahun mengalami penurunan harga 29,84 bps.

Laju Rupiah di awal pekan kembali mampu melanjutkan pergerakan positif. Adanya penilaian terhadap ECB yang tidak perlu untuk menambah stimulus terhadap ekonomi Zona Euro membuat pergerakan Euro kembali menguat sehingga dapat mengimbangi pelemahan Yen. Begitupun dengan laju Pounds yang juga menguat seiring ekspektasi perbaikan ekonomi Inggris. Laju US$ yang masih melemah seiring dengan rilis pertemuan The Fed yang belum akan menaikkan suku bunga turut membuat laju Euro dan Pounds terapresiasi.

Keduanya turut memicu terapresiasinya Rupiah. Di lain hari, meski nilai Yuan menguat pasca rilis kenaikan tipis indeks manufaktur China dan Yen yang kembali menguat sehingga mampu mengimbangi laju US$ namun, tidak banyak menolong laju Rupiah untuk dapat bertahan di zona hijau. Berbalik menguatnya Won dan Yen membuat pelaku pasar beralih ke mata uang tersebut sehingga Rupiah pun terlihat melemah. Tetapi, masih berlanjutnya penguatan Yen membuat laju US$ terlihat melemah sehingga dimanfaatkan untuk beralih terhadap Yen dan beberapa mata uang emerging market, termasuk Rupiah dan membuat laju Rupiah kembali terapresiasi.

Di sisi lain, masih cenderung melemahnya harga minyak mentah dunia membuat persepsi akan beban defisit neraca perdagangan dapat diminimalisir dan laju nilai tukar Rupiah pun masih melanjutkan penguatannya. Bahkan penguatan kali ini dapat berjalan seiring dengan mulai berbalik naiknya laju US$ setelah dirilisnya penguatan data new home sales. Di sisi lain pelaku pasar juga tidak terlalu bereaksi berlebihan dalam menanggapi komentar Gubernur The Fed, Yellen, yan meminta pelaku pasar sabar dalam menunggu kepastian suku bunga AS. Komentar tersebut dipersepsikan bahwa The Fed masih mencari waktu yang pas untuk menaikkan suku bunganya dan bukan berarti dalam waktu dekat. Atas persepsi itulah, pelaku pasar kembali mentransaksikan mata uang emerging market.  Tetapi, di akhir pekan, laju nilai tukar Rupiah berbalik melemah bahkan kembali menyentuh level Rp12.000an seiring kembali maraknya sentimen negatif. Rp12045-11936 (kurs tengah BI).(reza priyambada)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...