18 November 2019

Sentimen Bank Eropa Bikin Rupiah Ditutup Melemah Rp14.581

Konfrontasi - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.581 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Jumat (14/12/2018). Posisi ini melemah 85 poin atau 0,58 persen dari kemarin sore, Kamis (13/12) di Rp14.496 per dolar AS. 

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.538 per dolar AS atau melemah tipis dari kemarin di Rp14.536 per dolar AS. 

Pergerakan rupiah yang berbalik arah ke zona merah rupanya turut dirasakan oleh mata uang negara lain di kawasan Asia. Peso Filipina melemah 0,81 persen, won Korea Selatan minus 0,66 persen, dan dolar Singapura minus 0,31 persen. 

Kemudian, renminbi China minus 0,3 persen, rupee India minus 0,29 persen, baht Thailand minus 0,16 persen, ringgit Malaysia minus 0,13 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,03 persen. Hanya yen Jepang yang berhasil tertahan di zona hijau dengan menguat 0,1 persen dari dolar AS. 

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, seluruhnya terkapar terhadap dolar AS. Dolar Australia melemah 0,93 persen, poundsterling Inggris minus 0,62 persen, euro Eropa minus 0,58 persen, rubel Rusia minus 0,38 persen, dolar Kanada minus 0,31 persen, dan franc Swiss minus 0,18 persen. 

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang berhasil mendapat sentimen positif dari pernyataan bank sentral Eropa, The European Central Bank (ECB). 

Meski ECB kembali menahan tingkat bunga acuan dan bakal menghentikan pembelian surat utang (obligasi) atau yang dikenal dengan kebijakan pelonggaran kualitatif (Qualitative Easing/QE), namun ECB turut memperkirakan bahwa ekonomi zona Eropa bakal melambat tahun depan. 

Ekonomi Eropa diperkirakan hanya berada di kisaran 1,7 persen dari semula 1,8 persen. Sementara tingkat inflasi diperkirakan menurun dari kisaran 1,7 persen menjadi 1,6 persen. Hal ini membuat proyeksi tingkat bunga acuan ECB ke depan tampaknya belum akan meningkat. 

"Tanpa stimulus dan inflasi yang belum sesuai target, para pelaku pasar agak kurang yakin kalau ECB bisa menaikkan bunga acuan pada pertengahan 2019. Sentimen ini membuat dolar AS berbalik menguat dan rupiah melemah," ucap Dini dilansir CNNIndonesia.com, Jumat (14/12/2018).

Sedangkan sentimen dari negara lain dan domestik Indonesia justru tidak ada. Walhasil, sejumlah mata uang yang semula menguat dari dolar AS jadi berbalik melemah. 

Dini memperkirakan pada pekan depan, rupiah bakal bergerak di kisaran Rp14.475-14.640 per dolar AS. Menurutnya, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh hasil rapat bank sentral AS, The Federal Reserve yang bakal mengumumkan tingkat bunga acuannya. 

Lalu, rilis neraca perdagangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dan pengumuman kebijakan moneter bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ), serta bank sentral Inggris (Bank of England/BoE). (cnnindo/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...