21 September 2019

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (53

Episode 36

 

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol

 

 

Bagian Pertama

 36

Nah, apakah bangsa Aceh akan selamanya berada dalam kondisi meng-esakan Allah dan terlepas dari penyakit-penyakit ruhani sebagaimana orang-orang kaphe itu? Tidak! Setiap bangsa Aceh boleh saja meng-esakan Allah dan selalu bertauhid, tetapi penyakit-penyakit ruhani yang terdapat pada kaphe-kaphe Belanda itu seperti rakus, tamak, suka mengadu domba, iri, dengki bisa menjalar ke setiap pribadi Muslim bangsa Aceh. Boleh saja dia Muslim dan mengaku Mukmin, tetapi sifat-sifatnya mencerminkan kekafiran, kesyirikan.

Akan tetapi Syekh Muhammad al-Jabbar kemudian menggetarkan suasana: Tetapi,  musyrik yang berbahaya itu  bukan kaphe-kaphe Belanda, yang paling berbahaya adalah kaum musyrikyang ada dalam agama Islam itu sendiri. Ia mengaku Muslim, tetapi Ia menggerogoti Islam dari dalam, inilah yang paling berbahaya dari segala bahaya. Dalam bahasa al-Quran disebut “kaum Munafik”. Sepertinya dia mencintai islam, padahal dialah musuh terbesar umat Islam.Bila Aceh kalah, makaiakalah bukan karena pasukan kaphe-kaphe Belanda, tapi karena digerogoti kekuatan kaum Munafik dari dalam barisan umat Islam Aceh. Maka waspadahal dengan kaum munafik ini  yang bisa jadi ia hadir di tengah-tengah pengajian kita malam ini.Hati-hatilah terhadap mereka ini, merekalah musang berbulu ayam, atau serigala berbulu domba.

Dalam  al-Quran mereka digambarkan “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” QS. An NIsa’: 142

Tausiyah Syekh al-Jabbar berakhir dengan pesta makan sate kambing hadiah dari nenek yang telah menghadiahkannya siang tadi.

Tiba-tiba saat makan malam sehabis tausiyah, di luar forum dua mujahidin berdialog dan mengemukakan satu ayat tentang musuh paling jahat dan paling ditakuti umat islam itu, karena mereka tidak kelihatan: “Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” 
 

***************

Di masa Van Heutsz sebagian tawanan dan tahanan perang yang terdiri dari mujahidin Aceh dipaksa ikut dan tunduk dibawah  pelaksanaan Sistem Tanam Paksa.  Sistem Tanam Paksa yang tidak terlalu sama dengan masa Tanam paksa di zaman Daendels (1808 – 1811) di pulau Jawa. Tanam paksa ala Van Hetusz merupakan siksaan yang tiada terkira akibatnya bagi mujahidin-mujahidin dan sebagian rakyat Aceh. Dan bagi tawanan yang menolak  kerja, maka ia dicambuk sekuat tenaga olewh mandor yan mengawasinya di penjara, atau di kebun-kebun yang dikelola oleh kaphe-kaphe Belanda. Akibat kerjapaksa ala Van Heutsz, muncul  bahaya kelaparan dan wabah penyakit di tanah Aceh. Akibatnya angka kematian bagi rakyat Aceh makin besar. Akibat program Van Heutsz yang rakus dan busuk itu, memunculkan  terjadinya penyakit ‘hongerodeem’ (busung lapar). Sistem Tanam Paksa, penyiksaan di penjara, dan interogasi yang sadis kepada rakyatagar memberi informasi dimana   tokoh yang dicari berada,  di sebagian tanah Aceh ini mengakibatkan penderitaan rakyat yang menimbulkan reaksi rakyat Aceh yang ingin membangkitkan perlawanan yang lebih keras  terhadap  Van Heutsz. Tapi rupanya kekuatan Van Heutsz jauh lebih besar dari kekuatan perlawanan rakyat Aceh yang mulai pudar dan surut dari kekuatan dan persatuan yang kompak di medan laga peperangan.  

Van Heutsz  memerintah dengan tangan besi, dimasanya dibangun  jalan raya Sigli – Takengon yang berada di bawah perintah Van Dalen. Banyak tenaga kerja paksa dari Jawa dan Medan berjatuhan dan tewas karena kelaparan. Kebijakan Van Hetusz tentang sistem kerja paksa dalam pembangunan jalan  Sigli –Takengon  itu,  memunculkan kebencian di hati rakyat. Kebijakan-kebijakan Van Heutsz  tidak hanya menuai kebencian dari rakyat. Hal ini menimbulkan kritik keras dari sebagian petinggi kaphe-kaphe Belanda, baik dari parlemen maupun dari lapangan.

Seorang anggota parlemen negeri Belanda memperhitungkan  angka-angka konkret yang menjelaskan pada rakyat  Belanda. “Lihat,bagaimana caranya kita menjadi negara kaya-raya,nyaman dan aman karena di Belanda telah dibangun  kereta api, pabrik-pabrik, bendungan-bendungan, peternakan yang besar dan pertanian yang luas. Itu semua  adalah hasil kolonialisasi yang datang dari daerah jajahan di Hindia Belanda(Indonesia). Kini (saat ia bicara di Parlemen Belanda titimangsa 1899)  lihat  Hindia Belanda (Indonesia) sendiri tinggal miskin dan terbelakang. Sudah sepantasnya bila kekayaan  yang telah keruk dari sana )HindiaBelanda)  dikembalikan. Inilah, “utang,  demi kehormatan  bangsa Belanda wajib dikembalikan dan  dibayar. Biarpun tak bisa dituntut di depan hakim.”Bukan sekedar wajib, aku meyakini kepada seluruh rakyat sekaligus pemerintah Belanda bahwa utang kepada rakyat Hindia Belanda pasti bisa dibayar!”

Mendengar orasi yang berapi-api dari van Deventer, Van Heutsz yang sudah menjadi gubernur JenderalHindia Belanda di =Batavia, seperti disambar geledek. Ia merenungkan bagaimana teganya bangsa Belanda memeras keringat dari rakyat  negeri jajahan yang sangat lemah dan tak berdaya itu. Dan teringat kembali ia memaksakan tanam paksa di Tano Aceh, berapa jumlah para pekerja paksa yang membangun jalan dari Sigli ke Takengon yang mati kelaparan dan bekerja siang dan malam tanpa digaji. Tapi karena hatinya penuh dengan borok-borokkotoran ruhani, ia tak mampu memikirkan itu dengan lanjut.Ia lupakan saja peristiwa dimana ia menegakkan ‘tangan besi’ di Aceh.

Van Deventer dalam kesempatan lain dalam orasinya di parlemen Negeri Belanda mengatakan dengan penuh berapi-api  pula:  “Dalam bentuk uang, berapa “utang budi” kita kepada bangsa yang lemah, tapi sesungguhnya secara hati nurani selalu menuntut keadilan?  Dengan mengabaikan masa silam sampai titimangsa  1866 (tujuh tahun sebelum meletusnya Perang Aceh), ketika UU Anggaran diberlakukan antara titimangsa 1867 sampai 1900, jumlah utang kita mencapai 187 juta gulden. Delapan puluh lima persen (84%) atau  151 juta gulden  diberikan oleh anak negeri jajahan Hindia-Belanda kepada bangsa Nederland  (Belanda) sampai titimangsa 1877.  Sampaipun muncul  defisit anggaran   36 juta gulden semenjak 1877  kita terus membayar  bunga dan cicilan pinjaman kepada Negara-negara donor seperti jerman, Inggris, Denmar dlsb.  Lantas dikurangi utang Hindia-Belanda  kepada Nederland sebanyak 120 juta gulden,  masih tersisa 67 juta gulden. Jumlah inilah yang harus dikembalikan kepada rakyat Hindia Belanda (Indonesia), dan uang itu harus digunakan untuk meningkatkan pendidikan dan perekonomian rakyat disana.

Seperti apakah “utang Belanda” kepada rakyat jajahan itu? Paparan  Van Deventer diuraikan sebagai berikut: “Sejak  titimangsa 1849 sampai 1899, hutang rakyat Nederland telah terbayar sebesar 141 juta gulden. Itu semua berkat hasil keringat rakyat Hindia Belanda (Indonesia). Empat ratus ( 400 ) juta gulden dari hasil keringat itu telah diserap oleh  pembangunan dinegeri Belanda dalam bentuk  pembangunan jaringan kereta-api.

Pidato van Deventer didengar oleh seluruh jajaran pejabat tanah jajahan Hindia Belanda yang terkenal rakus dan tak memiliki perikemanusiaan. Ada yang membantah pendapat van Deventer,kadang mereka seenaknya bicara: ”Mengapa mereka mau dijajah oleh kita?”

Seorang pejabat pribumi yang aktif di Volksraad (Parlemen Hindia Belanda) di Batavia menjawab pernyataan pejabat kulit putih di Batavia yang mengatakan: ”Mengapa mereka mau dijajah oleh kita?”

“Lha, sebenarnya kan kalian yang memaksakan penjajahan itu kepada kami?”Mendengar itu semua pejabat Belanda di Parlemen (Voklsraad) kota Batavia terdiam. Tapia da seorang pejabat kulit putih lalu berbicara lantang:”Hey Inlander, diam kau! Tak sepantasnya kau bicara seperti itu. Kau bangsa yang hina, terjajah, bodoh dan tak berharga!” Ujarnya lantang.  Mungkin ada sedikitpejabat Belanda yang tersentuh mendengar pidato Van Deventer, tapi begitu banyak  bebal dan tak mau peduli dengan orasiDeventer. Karena mereka merasa berhak mengambil kekayaan dinegeri yang mereka rasa adalah negeri mereka,bukan negeri kaum pribumi Hindia Belanda.

Sementara di zaman Van Heutsz memerintah  dengan  tangan besi,  beberapa orang Atjeh yang ditangkap oleh pasukan kaphe-kaphe Belanda  dimana kaum kaphe Belanda itu lebih senang menyebutnya “Corps Marsose” dijerumuskan ke  dalam penjara di Kutaraja.

Van Hetusz menerapkan hokum  verbanning (pembuangan) untuk memisahkan   rakyat Aceh dengan  pemimpin perangnya. Hukuman itu dciperberat dengan  dijauhkan dari sanak saudara serta kampung halaman  nun jauh di tano Aceh. Maka setelah mujahidin Aceh itu disiksa oleh pesuruh-pesuruh Van Hetusz sedemikian rupa, maka si terhukum dikapalkan dan dikirim ke pulau Jawa, Borneo (Kalimantan)  atau ke Hindia Belanda  ( Indonesia ) bagian timur. Hukuman itu berlaku bagi bangsa  Hindia Belanda asli yang disebut sebagai  golongan Timur dalam  “Wetboek van Strafrecht voor de Inlanders in Nederlandsch Indie”. Jika di Indonesiakan  artinya Kitab Undang-undang Hukum Pidana untuk orang pribumi di Hindia Belanda. Zaman itu , pribumi asli disebut ‘inlanders’.  Pada zaman itu pidana kerja paksa  adalah  bentuk “pemidanaan”  yang acapkali  dijatuhkan pada  golongan  pribumi asli alias inlanders. Mereka dihukum dengan kerjapaksa  (dwang arbeid) dalam masa yang berbeda, tergantung berat atau ringannya kasusnya.Termasuk kepada  para pejuang Tano Aceh, yang di pulau-pulau terpencil di Ambon dipaksa atau dipidana kerja paksa  5 tahun,  ada yang 15 tahun bahkan ada yang seumur hidup sampai tulang beulangnya kering dan tak mampu bergerak lagi dan akhirnya mati.  Ada juga yang dihukum dengan  dipekerjakan  (ter arbeid stellen) seperti orang-orang Seumarante yang  bekerja sebagai pemikul perbekalan dan peluru saat Perang Aceh berkecamuk.  

Agaknya Van Heutsz menciptakan  hukuman seperti itu untuk  menciptakan rasa takut (afschrikking) kepada rakyat Aceh.  Pada masa Van Heutsz itu berlaku  “Reglement op de Orde en Tucht” (Staatsblad 1871 no. 78) yang berisi tata tertib terpidana ‘kerja paksa’  yang lamanya lebih dari lima tahun dilakukan dengan dirantai (dwang arbeid aan de ketting), Bagi mereka (orang Seumarante)  yang dihukum di bawah lima tahun tanpa dirantai (dwang erbeid buiten de ketting). Bagi terpidana  yang dihukum dalam jangka waktu  satu tahun ke bawah disebut “dipekerjakan” (ter arbeid stellen).Sedangkan yang teringan, adalah apa  yang disebut “krakal”, yakni mereka yang dihukum di bawah masa tiga bulan.

Ada  sebuah kejadian di era Vab Heutsz yang sadis dan kejam ini. Kejadian ini  menimpa mujahidin tano Aceh yang dianggap paling berbahaya dan lama telah diincar oleh tentara kaphe-kaphe Belanda. Saat tertangkap, sebagai pelajaran baginya  . keempat anggota tubuhnya yaitu kedua tangan dan kedua kakinya  diikatkan pada dua ekor kuda. Dua ekor kuda ini diperintah untuk berjalan pada arah yang berlawanan. Dalam waktu singkat, tubuh mujahidin itu langsung terkoyak-koyak, persis seperti hukuman yang dijatuhkan kepada  seorang  ilmuwan Eropa yang mengatakan bahwa bumi ini bulat, sementara penguasa mengatakan :”Bumi itu Datar”. Lalu ilmuwan ini  mati karena hukuman yang sama. Duh, alangkah kejam dan sadisnya Van Heutsz ditano Aceh.[Bersambung]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...