20 November 2019

Rupiah Menguat. Gebrakan Darmin, RR dan Tom Lembong terus Diharapkan

KONFRONTASI- Pasar tampaknya mulai merespons perombakan kabinet (reshuffle) oleh Presiden Joko Widodo. Di pasar spot, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada awal perdagangan, Kamis (13/8/2015), bergerak menguat menjauhi level Rp 13.800.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda menguat ke posisi Rp 13.713 per dollar AS dibandingkan sebelumnya pada Rp 13.800.

Hari ini rupiah juga berharap tekanan mereda seiring mulai naiknya harga sejumlah komoditas. Langkah People's Bank of China mendevaluasi nilai tukar yuan memang berpotensi mempersulit posisi rupiah dalam jangka menengah.

Menyusul devaluasi yuan, hampir semua mata uang di Asia Pasifik melemah cukup tajam bersamaan dengan anjloknya harga komoditas. Yuan kembali melemah kemarin sehingga tekanan penguatan dollar AS di pasar negara berkembang berlanjut. Tidak hanya mata uang, indeks saham serta harga obligasi pun jatuh dalam.

Namun, menurut Riset Samuel Sekuritas Indonesia, hingga dini hari tadi, "shock" mulai mereda. Hal ini terlihat dari harga komoditas yang mulai naik serta indeks dollar AS yang turun. "Walaupun diperkirakan yuan masih bisa melemah, tekanan pelemahan diperkirakan berkurang hari ini," demikian Riset Samuel Sekuritas Indonesia.

Rupiah sempat melemah tajam di pembukaan kemarin hingga Rp 13.900 per dollar AS bersamaan dengan pelemahan sangat tajam IHSG serta SUN. Pengumuman reshuffle pada siang hari tidak membantu, bahkan memperburuk sentimen negatif.

BI hadir di pasar valas untuk membantu pasokan dollar sehingga rupiah berhasil ditutup di kisaran Rp 13.800 per dollar AS. Ruang pelemahan rupiah masih ada ke depan, tetapi hari ini pelemahan bisa mereda.

Masyarakat banyak menaruh harapan besar terhadap menteri-menteri yang baru, khususnya tim di bidang ekonomi. Pasalnya selain adanya perlambatan ekonomi, Rupiah juga semakin terpuruk.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ennny Sri Hartati, menilai dengan keadaan ekonomi yang sedang memburuk para menteri baru tersebut harus bekerja dengan hasil bukti yang cepat, khususnya untuk mengantisipasi dampak negatif dari devaluasi yuan yang dilakukan oleh pemerintah China.

"Harus segera, tidak bisa menunggu. Terutama mitigasi resiko terhadap kebijakan Kamis Tiongkok. Secara ekonomi dampaknya besar. Kalau kebijakan the fed (naikan suku bunga) itu masih in direct, artinya ada pramisi," ucap Enny saat dihubungi Okezone, Kamis (13/8/2015).

Sedangkan sentimen negatif dari Tiongkok, lanjutnya, selain berpengaruh terhadap pelemahan Rupiah, juga menghantui kinerja produk-produk Indonesia yang diekspor. Karena dengan melemahnya yuan, harga produk-produk dari China akan menurun. "Itu ancaman buat ekspor kita," imbuhnya.

Kendati demikian, Enny mengaku percaya menteri-menteri ekonomi yang baru mempunyai jejak rekam kerja yang cukup baik. Namun, hal itu tetap harus dibuktikan dengan hasil kerja yang konkret.

"Langkah-langkahnya yang harus ditunggu. Kala uji kompetensi Pak Darmin (Menko Perekonomian) dan Pak Ramli (Menko Maritim) tidak ada kekurangannya. Tapi, yang bisa dilakukan saat ini kita belum tahu," pungkasnya. (K)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...