20 March 2019

Rizal Ramli Koreksi Rencana Rini Soermano untuk Selamatkan Garuda Indonesia dan Citra Jokowi

 KONFRONTASI- Gebrakan Rizal Ramli selaku Menko Maritim dan Sumber Daya, tak main-main. Memang dia baru sehari menjabat sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya, namun Rizal Ramli langsung melakukan "gebrakan" yang mengejutkan. Dia meminta agar PT Garuda Indonesia Tbk membatalkan penambahan pesawat.

Dia mengaku telah menggagas pembatalan rencana pembelian pesawat Airbus A350 oleh Garuda Indonesia.

"Minggu lalu, saya ketemu Presiden Jokowi. Saya bilang, Mas, saya minta tolong layanan diperhatikan. Saya tidak ingin Garuda bangkrut lagi karena sebulan yang lalu beli pesawat dengan pinjaman 44,5 miliar dollar AS dari China Aviation Bank untuk beli pesawat Airbus A350 sebanyak 30 unit. Itu hanya cocok untuk Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa," ujar Rizal Ramli di Kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Kamis (13/8/2015). Presiden Jokowi dilaporkan setjju dengan pembatalan itu untuk mencegah agar Garuda tidak bangkrut karena beban utang dan perencanaan yang keliru itu.

Menurut dia, rute internasional yang akan diterbangi oleh Garuda Indonesia tidak menguntungkan. Pasalnya, saat ini, maskapai di kawasan ASEAN yang memiliki rute internasional ke Amerika Serikat dan Eropa, yaitu Singapore Airlines, punya kinerja keuangan yang kurang baik.

Hal yang sama juga terjadi pada Garuda Indonesia. Menurut dia, rute internasional Garuda ke Eropa selalu membuat maskapai BUMN itu merugi karena tingkat keterisian penumpangnya hanya 30 persen. Oleh karena itu, ketimbang mengembangkan bisnis penerbangan rute internasional, lebih baik Garuda membeli pesawat Airbus A320 dan memilih fokus menguasai bisnis penerbangan domestik dan regional Asia.

"Kita kuasai dulu pasar regional lima sampai tujuh tahun ke depan. Kalau sudah kuat, baru kita hantam. Presiden setuju (pembatalan pembelian pesawat Airbus A350), dan kami panggil direksi (Garuda), dan batalkan supaya ganti," kata Rizal.
Rizal mengaku memiliki hubungan emosional dengan Garuda Indonesia. Pasalnya, saat dia menjabat sebagai Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid, Garuda saat itu tak mampu membayar utang kepada konsorsium bank Eropa sebesar 1,8 miliar dollar AS.

Saat itu, kata dia, pihak Eropa mengancam akan menyita semua pesawat Garuda. Akhirnya, dia mengirim surat grasi ke Frankfurt, Jerman, untuk balik menuntut konsorsium bank Eropa itu karena menerima bunga dari kredit dengan ekstra 50 persen.

Setelah dituntut balik, akhirnya para bankir meminta damai dan sepakat merestrukturisasi utang Garuda. Karena pengalaman itulah, Rizal tak mau Garuda membeli perawat Airbus A350 untuk penerbangan ke Amerika dan Eropa. Terlebih lagi, kata dia, dana pembelian itu juga meminjam dari China Aviation Bank.

Sementara itu,Menteri BUMN Rini Soemarno mengisyaratkan tidak boleh ada pihak yang mencampuri urusan bisnis PT Garuda Indonesia Tbk, selain Menko Perekonomian, dengan posisi bahwa Kementerian Keuangan bertindak selaku pemegang saham perusahaan milik negara, dan Kementerian BUMN sebagai kuasa pemegang saham.

"BUMN itu (Garuda) jelas di bawah Kemenko Perekonomian, bukan di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Jadi, jangan ada yang mencampuri Garuda di luar Kemenko Perekonomian," kata Rini sebagaimana dikutip Antara, Kamis (13/8/2015).

Menurut Rini, saat ini Garuda sedang mengembangkan usaha sehingga penanganan harus dilakukan secara menyeluruh.

Hal itu diungkapkan Rini untuk menanggapi pernyataan Menko Kemaritiman Rizal Ramli yang mendesak agar Garuda Indonesia membatalkan penambahan pesawat. Dia mengaku telah menggagas pembatalan rencana pembelian pesawat Airbus A350 oleh Garuda Indonesia.

Pelaksana Tugas Vice President Corporate Communication Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan mengatakan bahwa Garuda sebenarnya belum memutuskan akan membeli Airbus A350 atau tidak.

Saat ini, kata dia, Garuda masih pikir-pikir apakah akan memakai Airbus A350 atau Boeing 787. Meski begitu, perusahaan sebenarnya masih pada tahap penjajakan. "Memang kemarin di Paris ada tanda tangan, tetapi namanya masih letter of intention," kata dia saat dihubungi.

PT Garuda Indonesia Tbk melakukan pemesanan pesawat  untuk memperkuat armadanya. Tidak tanggung-tanggung, maskapai pelat merah ini total memesan 90 pesawat.  Adapun nilai pesanannya mencapai 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 266 triliun (kurs Rp 13.300 per dollar AS). Angka ini merupakan rekor pembelian pesawat terbesar oleh Garuda.

Adapun rinciannya, 60 unit pesawat baru dari Boeing senilai 10,9 miliar dollar AS  terdiri  30 unit B787-900 Dreamliners (7,7 miliar dollar AS) dan B373 MAX 8 (3,2 miliar dollar AS). Kemudian 30 unit pesawat baru A350 XWB dari Airbus senilai 9 miliar dollar AS.

Direktur PT Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan, pembelian pesawat dengan transaksi jumbo ini untuk mengganti pesawat lama.  "Ini merupakan bagian dari program revitalisasi Garuda Indonesia  untuk mendukung rencana masa depan perusahaan penerbangan untuk memperluas jaringan global," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/6/2015)

Di sisi lain, pesawat baru diharapkan bisa menghemat bahan bakar, sekaligus mengangkut banyak penumpang, serta bisa menekan ongkos perawatan.

Dalam kalkulasi Garuda pesawat baru Boeing bisa menghemat 20 persen biaya operasional, sedang Airbus  25 persen.

Menurut Ariif,  pengembangan ini merupakan bagian dari revitalisasi dan pengembangan armada yang dilakukan perseroan untuk meningkatkan kapasitas pada rute-rute jarak menengah dan jarak jauh. Kata Arif, pihaknya selalu berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan dengan mengoperasikan pesawat berusia rata-rata 5 tahun.

Pesawat B787-900 Dreamliners sendiri diklaim sebagai pesawat penumpang pertama yang menggunakan material komposit dalam proses konstruksinya. Alhasil dengan itu, badan pesawat menjadi lebih ringan dan dapat menghemat 20 persen penggunaan bahan bakar karena 20 persen emisinya lebih rendah.

Sementara itu, pesawat B737 MAX 8 adalah pengembangan dari B737-800NG menggabungkan teknologi mesin CFM International LEAP-1B terbaru, sayap Advanced Technology. Pesawat tersebut juga memiliki keunggulan teknologi terbaru yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dan biaya operasional.

Pada kesempatan itu, Garuda Indonesia juga kembali memastikan pemesanan 50 pesawat berbadan sedang jenis serupa yang dilakukan pada Oktober 2014. Kata Arif, pemesanan tersebut akan digunakan untuk mengganti pesawat B737-800NG yang sudah berakhir masa sewanya. Rencananya pesawat pengganti itu akan tiba secara bertahap mulai 2017 hingga 2023.

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) meneken kontrak pengadaan 60 pesawat dengan Boeing Commercial Airplanes, terdiri dari 30 Boeing 787-900 Dreamliners dan sampai 30 Pesawat Boeing 737 MAX 8.

Penandatanganan perjanjian kerjasama dilaksanakan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo dan President dan CEO Boeing Commercial Airplanes Ray Conner di tengah-tengah pelaksanaan acara pameran dirgantara terbesar dunia, Paris Airshow, di Le Bourget, Paris, hari ini Senin (15/6).

Arif mengatakan penandatanganan kesepakatan tersebut merupakan bagian dari program revitalisasi serta pengembangan armada Perusahaan untuk mendukung rencana peningkatan kapasitas dan pengembangan jaringan penerbangan pada rute-rute jarak menengah dan jarak jauh, sekaligus sebagai wujud komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan kenyamanan penumpang melalui pengoperasian pesawat berusia rata-rata lima tahun.

“Terlaksananya kerjasama ini merupakan bentuk kepercayaan yang sangat kuat sekaligus apresiasi dari mitra bisnis Perusahaan, dalam hal ini Boeing, terhadap Garuda Indonesia sejalan keberhasilan Garuda sebagai global player dengan predikat maskapai Bintang Lima dan menempati peringkat ketujuh dalam daftar The World’s Best Airline,” ujar Arif dikutip dari keterangan pers, Senin (15/6).

Sementara Conner mengungkapkan Boeing dan Garuda telah menjadi mitra bisnis dalam industri penerbangan selama lebih dari 35 tahun dan ia merasa terhormat dapat melanjutkan kemitraan dengan Garuda Indonesia dalam program pengembangan dan peremajaan armadanya.

“Penambahan Boeing 787-900 Dreamliners dan Boeing 737 MAX 8 dalam jajaran armada Garuda Indonesia tidak hanya akan meningkatkan kapabilitas dan daya saing maskapai, tetapi juga memberikan kenyamanan serta pengalaman terbang baru bagi para pengguna jasa Garuda Indonesia,” ujarnya.

Boeing 787-900 Dreamliners sendiri hadir dengan sejumlah fitur baru antara lain pencahayaan LED yang moderen, jendela penumpang dengan ukuran terbesar di industri saat ini, tingkat kelembaban yang lebih tinggi, tekanan udara kabin yang lebih rendah, dan udara ruang kabin yang lebih bersih.

Pesawat seri 787 merupakan pesawat penumpang pertama yang menggunakan material komposit di konstruksinya. Hal ini menjadikan badan pesawat lebih ringan sehingga dapat menghemat 20 persen penggunaan bahan bakar dan menghasilkan 20 persen emisi yang lebih rendah.

Sementara Boeing 737 MAX 8 yang merupakan pengembangan dari Boeing 737-800NG menggabungkan teknologi mesin CFM International LEAP-1B terbaru, sayap Advanced Technology dan peningkatan sejumlah fitur lainnya untuk memberikan efisiensi tertinggi serta meningkatkan kehandalan dan kenyamanan penumpang di kelas armada single-aisle.

Pesawat ini juga memiliki keunggulan teknologi terbaru yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dan biaya operasional. Selain itu, pesawat B737 MAX 8 juga dilengkapi dengan teknologi ramah lingkungan yang dapat menurunkan tingkat kebisingan dan emisi, sehingga sejalan dengan komitmen Garuda Indonesia untuk menjadi Green Airline.

Pada kesempatan yang sama, Garuda Indonesia juga memastikan kembali pemesanan 50 pesawat pesawat narrow body tipe terbaru Boeing 737 MAX 8 yang telah dilakukan pada Oktober 2014 lalu, sebagai penggantian (natural replacement) pesawat Boeing 737-800NG yang akan berakhirnya masa sewanya. Pesawat pengganti tersebut akan tiba secara bertahap mulai 2017 hingga 2023 mendatang, sesuai dengan berakhirnya masa sewa pesawat Boeing 737-800NG yang telah berusia 12 tahun.

Natural replacement tersebut sejalan dengan program perusahaan untuk mengantisipasi pasar angkutan udara di Indonesia dan regional yang terus meningkat serta menjaga kesinambungan bisnis dan market share Garuda di pasar Full Service Carrier. Dalam kaitan dengan cukup tingginya permintaan pesawat B737 MAX 8 saat ini, maka Garuda perlu melaksanakan perencanaan peremajaan pesawat narrow body, termasuk pengoperasian pesawat B737 MAX 8 tersebut, untuk memenuhi kebutuhan perusahaan ke depan.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...