16 October 2019

Perebutan Dana Makin Sengit, Beijing Ingin Stop Pelarian Dana

KONFRONTASI -  Di tengah meningkatnya konflik antara China dan Amerika Serikat, mereka rupanya sedang menghadapi masalah yang sama. Persoalan itu adalah arus lalu lintas perpindahan investor Negeri Panda itu beserta dananya di antara kedua negara tersebut.

Di satu sisi, Beijing ingin memperketat arus pelarian modal dari para taipannya ke luar negeri, terutama menuju AS. Di sisi lain, Washington tengah dihadapkan pada dilema revisi kebijakan pengajuan visa investor, yang rencananya akan dinaikkan batas minimum kepemilikan modalnya dari US$500.000 menjadi US$1,35 juta.

Kongres AS saat ini tengah menggodok rancangan undang-undang mengenai batas bawah kepemilikan modal untuk mengajukan visa investor atau yang dikenal sebagai EB-5. Visa tersebut merupakan salah satu pintu masuk untuk mendapatkan Green Card di AS.

Parlemen AS menyebutkan, terlalu rendahnya batasan modal investor asing untuk mengajukan EB-5 ikut membuat investasi di Paman Sam didominasi oleh pengusaha asing, terutama China.

Mereka melihat hal itu sebagai ancaman bagi investor domestik. Terlebih berdasarkan data Kementerian Luar Negeri AS, hingga tahun fiskal yang berakhir pada September 2016, dana senilai US$3,8 miliar telah berpindah ke AS yang sebagain besar dilakukan melalui fasilitas EB-5.

Terlebih, investor dari China dinilai sering mengabaikan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku untuk mendapatkan EB-5. Pelanggaran itu didukung pula oleh korporasi yang menyediakan jasa sebagai penasihat pengajuan visa investor tersebut. Padahal, jumlah lembaga yang menangani pengajuan visa tersebut saat ini telah lebih dari 900 lembaga.

Namun demikian, kebijakan Kongres AS itu berpeluang menjadi bumerang bagi negaranya sendiri. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Rosen Consulting Group dan Asia Society, dana investasi dari para investor asal China telah berperan besar untuk menyediakan kurang lebih 200.000 lapangan kerja di AS.

Ketersediaan lapangan kerja tersebut hanya membutuhkan dana tak lebih dari US$14 miliar dari investor Negeri Panda.

Selain itu dana dari investor China itu telah berhasil membuat sejumlah proyek strategis di AS berdiri pada saat ini. Proyek itu a.l Hudson Yards di New York, Hunter Point Shipyard di San Francisco, dan sebuah menara yang menggunakan lisensi Trump Organization di Jersey City.

Adapun sejumlah proyek lain yang saat ini sedang dikerjakan atau yang akan dikerjakan adalah proyek real estat kelas atas yang tersebar di beberapa negara bagian seperti Miami, New York dan California.

Salah satu proyek yang dimiliki oleh keluarga Jared Kushner di New York saat ini dikabarkan sedang menggalang dana dari investor pemilik visa EB-5. Keluarga Kushner membutuhkan dana hingga US$850 juta untuk merenovasi gedung kantornya di New York 666 Fifth Avenue.

Saat ini, investor yang telah menyatakan kesediaannya adalah Anbang Group Insurance, yang berasal dari China. Seperti diketahui, Kushner merupakan penasihat sekaligus suami anak Trump yakni Ivanka Trump.

Saling berkait dan kelindannya urusan nasionalisme dan kebutuhan investasi dari China ini membuat Kongres AS terus berpikir keras untuk merevisi aturan EB-5. Terlebih, berdasarkan data Bloomberg, investor China tercatat telah masuk ke sejumlah proyek strategis dan berkait dengan citra AS di dunia.

Proyek itu a.l. pembangunan komplek hotel bintang lima di Palm Strings, California; kondominium One Manhattan Square di New York, dan proyek Row Billionaires yang digadang-gadang sebagai apartemen tertinggi di dunia.

Imbal Hasil

Tingginya minat investor China menaruh dananya di proyek-proyek AS tersebut tak lepas dari tingginya imbal hasil yang ditawarkan masing-masing proyek. Proyek hotel di Palm Strings yang membutuhkan dana US$155 juta, disebutkan menawarkan pengembalian tahunan yang tinggi yakni mencapai 12%.

Imbal hasil investasi yang tinggi tersebut juga berlaku di 26 proyek vila di California. Uniknya, proyek-proyek itu saat ini turut ditawarkan melalui iklan di aplikasi buatan China yakni WeChat.

Andrew Collier, seorang analis independen di Hong Kong menyebutkan, tingginya kebutuhan pendanaan proyek properti di AS dari investor China, membuat EB-5 sering disalahgunakan. Baik oleh pengusaha Paman Sam sendiri sebagai penerima dana ataupun taipan China sebagai pemberi dana.

Dia menyebutkan, di tengah penurunan nila tukar yuan, pelarian dana ke AS menjadi sangat menarik terutama karena tingginya imbal hasil yang ditawarkan. Kondisi itu didukung pula oleh kebijakan The Fed yang akan melanjutkan kenaikan suku bunga acuannya.

Namun demikian, selain adanya revisi aturan EB-5 oleh Kongres AS. Arus perpindahan modal dari China ke AS ini nampaknya telah menemui rintangan yang cukup besar. Rintangan itu datang dari aturan terbaru Bank Sentral China (PBOC) dan Pemerintah Beijing yang menetapkan batas atas pemindahan dan ke luar negeri.

PBOC sejak akhir tahun lalu telah menetapkan aturan pembatasan penukaran yuan ke mata uang asing sebesar US$50.000 per tahun. Kebijakan itu setidaknya hingga Februari telah membuahkan hasil. Cadangan devisa yang sejak 2016 terus tergerus, akhirnya naik kembali menjadi US$3,01 triliun pada Februari.

Namun, seperti kata pepatah yang mengatakan aturan ada untuk dilanggar. Investor China dan lembaga-lembaga penasihat perpindahan dana lintas negara telah menemukan cara untuk mengatasi aturan PBOC tersebut.

Dalam hal ini setiap investor yang belum memiliki perusahaan cangkang di luar negeri, disarankan untuk membuat tiga hingga empat rekening di AS. Banyaknya jumlah rekening itu akan digunakan untuk memecah dana yang akan dipindahkan dari China agar tak terhalang aturan pemerintah dan PBOC.(Juft/Bisnis)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...