12 December 2019

Perbanas: Bitcoin Alat Transaksi Tidak Sah

Konfrontasi - Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam berinvestasi bitcoin. Bitcoin dinilai sebagai instrumen investasi yang belum memiliki regulasi jelas dan fluktuasi nilai tukarnya sangat tinggi.

Dekan Fakultas Teknologi Informasi Perbanas, Harya Widiputra setuju dengan sikap ketiga lembaga tersebut. Menurutnya, Keberadaan bitcoin sebagai alat transaksi memang tidak sah.

"Ya sebenarnya tidak hanya bitcoin, alat transaksi kuangan apapun selain Rupiah ya tidak sah. Kalau diatur oleh UU kita, alat pembayaran yang sah adalah Rupiah," ujar Harya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (24/12/2017).

"Meskipun transaksi Rupiah bisa saja dilakukan melalui berbagai media, seperti kartu kredit, kartu debit, emoney atau transaksi via internet dan sms banking yang tidak ada fisik uangnya. Namun tetap dalam Rupiah," sambung dia.

Selain tidak sah sebagai alat transaksi, lanjut Harya, Bitcoin juga tidak bisa dijadikan sebuah komoditas karena pergerakan harganya sangat fluktuatif. Hal itu berbeda dengan emas, yang mudah untuk diinvestasikan.

"Di sini ada aspek judi atau gambling yang timbul. Makanya, MUI juga mencegah karena aspek investasinya adalah gambling dari fluktuasi nilai bitcoin, beda dengan komoditas umumnya," terang Harya.

Tidak hanya itu, lanjut Harya, ketidakjelasan atas asal usul bitcoin dan pergerakannya yang sangat fluktuatif juga membawa risiko tinggi. Oleh sebab itu, Harya juga meminta masyarakat untuk menghindari Bitcoin.

"Bentuk transaksi keuangan tentunya bisa berubah menjadi digital, tapi tetap dengan mata uang yang sudah dikenal dan disahkan oleh negara berbeda peredaran bitcoin yang tidak jelas siapa regulatornya. Disinilah masalah utamany," pungkas Harya. (trpngsnyn/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...