29 May 2017

Penyaluran Kredit Produkti di Jatim Capai Rp229,48 Triliun

KONFRONTASI-Penyaluran kredit yang dilakukan perbankan di Jawa Timur selama kuartal pertama 2014 masih didominasi untuk keperluan produktif, yakni modal kerja dan investasi yang totalnya mencapai Rp229,48 triliun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jatim Dwi Pranoto kepada wartawan di Surabaya, Kamis, menjelaskan proporsi kredit produktif sekitar 73,73 persen dari total penyaluran kredit selama triwulan pertama yang mencapai Rp311,26 triliun.

Sedangkan 26,27 persen lainnya atau Rp81,78 triliun berupa kredit konsumsi, seperti untuk pembiayaan properti dan pembelian kendaraan bermotor.

"Dari total penyaluran kredit produktif, sekitar 40 persen di antaranya atau Rp91,84 triliun disalurkan untuk sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM)," katanya.

Dwi Pranoto dalam paparannya menjelaskan pertumbuhan kredit produktif di Jatim berada di kisaran 25-33 persen atau lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan kredit secara umum.

"Kondisi ini menunjukkan cukup baiknya portofolio kredit perbankan di Jatim yang difokuskan pada pengembangan sektor usaha sehingga dapat memberikan dampak lanjutan dan mendorong pengembangan sektor riil," ujarnya.

Dari data Bank Indonesia, penyaluran kredit produktif sebagian besar terkonsentrasi di 10 kabupaten/kota yang sektor industrinya cukup berkembang, antara lain Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Malang, dan Jember.

Namun, lanjut Dwi Pranoto , secara keseluruhan pertumbuhan kinerja perbankan di Jatim, baik bank umum maupun BPR (Bank Perkreditan Rakyat), selama triwulan pertama tahun ini sedikit melambat.

Total aset perbankan di Jatim pada Maret 2014 tercatat Rp430,96 triliun atau tumbuh 16,2 persen. Angka ini lebih rendah dibanding posisi Februari 2014 yang mencatat pertumbuhan 18,07 persen.

Pertumbuhan penyaluran kredit yang tercatat 23,18 persen selama triwulan pertama 2014, juga lebih rendah dibanding pertumbuhan kredit pada Februari yang mencapai 24,09 persen.

"Melambatnya pertumbuhan kredit tersebut, utamanya didorong oleh minimnya pertumbuhan kredit konsumsi yang hanya 15,16 persen. Sementara periode sama tahun 2013, kredit konsumsi tumbuh sekitar 26,77 persen," tambah Dwi Pranoto.

Menurut ia, perlambatan itu terjadi pada penyaluran kredit properti dan kendaraan bermotor, yang diyakini terkait dengan tertahannya permintaan masyarakat untuk kedua jenis kredit tersebut, sebagai respon dari penerapan kebijakan "Loan to Value" (LTV).

Kebijakan yang diberlakukan Bank Indonesia itu memang bertujuan untuk mengerem laju pertumbuhan kredit konsumsi secara nasional.

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



News Feed

loading...

Baca juga


Loading...