22 August 2019

Para Petani Sumbawa Barat Keluhkan Penurunan Harga Gabah

Konfrontasi - Para petani di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, mengeluh akibat harga gabah yang mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir bahkan mencapai Rp2.900 per kilogram.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kecamatam Taliwang Sulaiman saat dikonfirmasi dari Mataram, Senin (6/4), mengatakan saat ini harga gabah kering panen di tingkat petani berada di kisaran terendah selama panen musim tanam pertama berlangsung sejak pertengahan Maret lalu.

Di awal musim panen, katanya, harga berkisar Rp3.400 sampai Rp3.500 per kilogram. Sementara kisaran harga di Taliwang berada di posisi Rp3.000 bahkan dalam dua hari terakhir sudah turun ke Rp2.900 per kilogram.

"Kalau kondisi ini terus terjadi maka hampir dapat dipastikan petani akan bangkrut," ujar Sulaiman.

Menurutnya, petani baru bisa menutup biaya produksi jika harga gabah berada pada kisaran Rp3.500 per kilogram.

Ia mengatakan, jika dikalkulasikan, biaya pengolahan lahan sebesar Rp1,5 juta per hektare, pupuk 100 kilogram seharga Rp200 ribu, obat-obatan dua kali semprot Rp200 ribu, sewa tanam Rp50 ribu per orang dan biaya pembibitan Rp900 ribu per hektare, maka perkiraan biaya produksi sebesar Rp4.600/hektare.

Kalau dibagi dengan harga jual gabah, maka harga jual minimal gabah di tingkat petani sebesar Rp3.500 per kilogram.

"Jika dengan kondisi harga sekarang petani sangat rugi. Oleh karena itu kami mendesak pemerintah untuk segera melakukan intervensi agar harga tidak terus anjlok," katanya.

Sementara itu, kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM (Perindagkop) Sumbawa Barat L Azhar yang dikonfirmasi terpisah mengakui harga gabah anjlok.

Padahal sesuai Peraruran Presiden (Perpres) Nomor 5 tahun 2015, harga pembelian pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp3.700 per kilogram.

Namun demikian Azhar menyatakan pemerintah daerah tidak bisa mengintervensi langsung harga gabah karena tergantung mekanisme pasar.

"Yang bisa dilakukan pemerintah daerah hanya mengupayakan harga tetap stabil dengan mengalokasikan dana pengaman harga dasar gabah (HDG) yang dikelola oleh koperasi maupun pihak ketiga lainnya," ucapnya.

Persoalannya, kata Azhar, sejak 2013 pemerintah daerah tidak lagi mengalokasikan dana pengaman HDG di APBD. Karena itu, dinas terkait telah berkoordinasi dengan Bulog NTB agar lembaga itu bisa mengintervensi pasar dengan membeli gabah petani sesuai HPP.

"Kami sudah berkoordinasi dengan TAPD dan Dinas Pendapatan dan dipastikan dana pengaman HDG tidak ada. Jadi kami hanya bisa berharap agar Bulog bisa ikut intervensi membeli gabah petani," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Dishutbuntan) IGB Sumbawanto menyatakan pemerintah harus bertindak cepat terkait pengamanan harga gabah, karena kondisi cuaca yang diperkirakan akan terus menerus hujan selama musim panen berlangsung.

"Harus ada tindakan cepat, karena hujan yang terus menerus mengakibatkan penurunan kualitas gabah petani dan itu menjadi alasan harga anjlok," katanya.

Berdasarkan data Dishutbuntan, dari total seluas 11.300 hektare luas lahan tanaman padi di Sumbawa Barat, yang sudah dan sedang panen saat ini 2.015 hektare dengan total target produksi sebanyak 101.000 ton gabah.

Data dinas terkait menunjukkan harga gabah di Sumbawa Barat merupakan yang terendah di Pulau Sumbawa. Di Kabupaten Sumbawa harga rata-rata Rp3.300 per kg, sedangkan di Bima dan Dompu harga berada di kisaran Rp3.200 sampai Rp3.400 per kg.(rol/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...