15 November 2019

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, 9 Oktober 2019

KONFRONTASI - Nilai tukar rupiah tergelincir dari penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan melemah pada perdagangan pagi ini, Rabu (9/10/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka terdepresiasi tipis 8 poin atau 0,06 persen di level Rp14.170 per dolar AS.

Pergerakannya kemudian terpantau melemah 13 poin atau 0,09 persen ke level 14.175 pada pukul 08.15 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (8/10/2019), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp14.162 per dolar AS dengan apresiasi hanya 1 poin atau 0,01 persen, di tengah penguatan indeks dolar.

Pada perdagangan Selasa (8/10), indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, ditutup menguat 0,17 persen atau 0,166 poin di level 99,133.

Pergerakan indeks dolar namun berbalik ke zona merah dan turun 0,03 persen atau 0,026 poin ke level 99,107 pagi ini, Rabu (9/10) pukul 08.05 WIB.

Bagaimana pergerakan rupiah selanjutnya terhadap dolar AS hari ini? Simak di Bisnis.com secara live.

 

 

 

 
10:07 WIB

Pukul 10.01 WIB: Kurs Rupiah Melemah 16 Poin

Nilai tukar rupiah melemah 16 poin atau 0,11 persen ke level Rp14.178 per dolar AS, saat indeks dolar AS terkoreksi tipis 0,046 poin atau 0,05 persen ke posisi 99,087.

 
09:00 WIB

Pukul 08.52 WIB: Kurs Rupiah Melemah 20 Poin

Nilai tukar rupiah melemah 20 poin atau 0,14 persen ke level Rp14.182 per dolar AS, saat indeks dolar AS turun 0,04 persen atau 0,043 poin ke posisi 99,090.

 
08:22 WIB

Kurs Rupiah Dibuka Melemah 8 Poin

Nilai tukar rupiah diprediksi bergerak melemah terbatas pada perdagangan Rabu (9/10) karena tarik menarik data eksternal dan internal, ke kisaran Rp14.117-Rp14.182 per dolar AS.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan harapan damainya AS-China kembali menjadi topik utama sentimen perdagangan hari ini. Laporan terbaru menunjukkan bahwa China menjadi lebih ragu untuk menyepakati kesepakatan perdagangan yang luas dengan AS.

“Ketegangan perdagangan antara kedua belah pihak meningkat hanya beberapa hari sebelum pembicaraan dimulai ketika delapan perusahaan teknologi China dilaporkan dimasukkan dalam daftar hitam AS dengan tuduhan terlibat dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap minoritas Muslim di Provinsi Xinjiang,” ujarnya seperti dikutip dari keterangan resmi, Selasa (8/10).

Laporan sebelumnya menyampaikan Pemerintah AS sedang mempertimbangkan cara untuk membatasi aliran portofolio investor AS ke China, termasuk perusahaan China yang berpotensi delisting dari bursa saham AS

Selain itu, pelaku pasar juga menanti rilis notulen rapat The Fed untuk periode September pada Rabu (9/10), untuk mencari petunjuk lebih jelas terkait prospek kebijakan moneternya.

Sementara itu, isu pemakzulan Presiden AS Donald Trump menjadi sentimen penggerak rupiah. Pengadilan New York telah memerintahkan Trump untuk menyerahkan laporan pengembalian pajak pribadi dan perusahaan selama 8 tahun. 

Dari sisi sentimen internal, Bank Indonesia (BI) kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas) dan obligasi melalui perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) untuk menahan pelemahan rupiah di tengah turunnya cadangan devisa (cadev) Indonesia per September 2019, menjadi US$124,32 miliar.

Ibrahim melanjutkan penurunan cadev tersebut cukup dalam, yaitu sebesar US$2,12 miliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dan menjadi penurunan pertama dalam 3 bulan terakhir sehingga menjadi sentimen negatif bagi pergerakan rupiah.(Jft/Bisnis0

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...