17 November 2018

Mata Uang Dollar AS Makin Laju Berkat Kenaikan Yield US Treasury

KONFRONTASI -  Kenaikan the greenback di hadapan mata uang utama dunia lainnya tak terbendung. Dollar AS naik berkat ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve dan yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang terus melejit.

Akhir pekan lalu, dollar AS cuma melemah terhadap yen. Itu pun cuma koreksi tipis, yakni 0,01% ke posisi 110,78.Pelemahan dollar AS atas yen lebih disebabkan karena koreksi teknikal. Mengingat yen telah melemah selama empat hari berturut-turut, bahkan sempat mencetak level terendah di empat bulan terakhir.

Menurut Puja Purbaya Sakti, analis Rifan Financindo Berjangka, yen masih diselimuti awan gelap karena tingkat inflasi Jepang malah melemah dalam dua bulan berturut-turut. "Selain itu, Bank of Japan (BoJ) juga tidak menetapkan waktu kapan target inflasi 2% dapat tercapai," kata dia, Minggu (20/5).

Kini Negeri Matahari Terbit ini tinggal menunggu data positif agar dapat kembali menanjak. Hari ini, pemerintah Jepang bakal merilis angka neraca dagang, yang diprediksi turun dari ¥ 797 miliar jadi ¥ 405,6 miliar. Jika omo terjadi, yen pasti kembali anjlok.

Apalagi, dollar AS masih menguat berkat sentimen kenaikan yield obligasi AS, yang kembali mencapai level tertinggi di 3,1%. Belum lagi indeks dollar AS turut menanjak. Pelaku pasar bahkan tampak mengabaikan data klaim pengangguran AS di pekan kedua Mei yang naik mencapai 222.000 klaim.

Dollar AS juga menguat terhadap poundsterling. Pasangan kurs GBP/USD terkoreksi 0,35% menjadi 1,3469. Selain lantaran sentimen kenaikan suku bunga dan yield obligasi AS, poundsterling masih terpapar sentimen negatif dari keputusan Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 0,5%.

Padahal pelaku pasar mengharapkan suku bunga Inggris tersebut dapat naik. Tapi kini poundsterling semakin tertekan karena pelaku pasar meragukan BoE mampu mengerek suku bunga di tahun ini.

Pasangan mata uang EUR/USD juga melemah 0,19% ke level 1,1772. Euro mengalami nasib serupa lantaran kawasan ini masih berada di tengah ketidakpastian rencana European Central Bank (ECB) melakukan tapering off. Tapi analis Global Kapital Investama Alwy Assegaf menuturkan, EUR berpeluang mengalami teknikal rebound di awal pekan ini. Sebab, kurs dollar AS sudah terlampau tinggi.(Jft/Kontan)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...