19 October 2018

Masalah bagi BI bakal semakin ruwet: Inflasi akibat naiknya harga Energi dan Pangan

KONFRONTASI- Krisis likuiditas yang melanda brankas perbankan nasional sejak pertengahan tahun lalu, tampaknya kini sudah mulai teratasi. Itu, paling tidak, tergambar dari rasio dana pihak ketiga (DPK) terhadap kredit atau loan to deposit ratio (LDR). Jika di bulan Juli 2014 LDR perbankan berada di level 92,19%, awal tahun ini sudah turun ke posisi 88,48%. Bukankah ini petanda baik?

Encernya likuiditas perbankan itu tak lain merupakan hasil dari aksi yang dilakukan para bankir dalam mengenjot DPK. Sayangnya, menggunungnya DPK itu dikarenakan bank menawarkan tingkat bunga yang cukup tinggi dan iming-iming hadiah. Jadi, kendati masalah likuiditas mulai teratasi, kini timbul persoalan lain. Gara-gara royal mengobral bunga tinggi, beban biaya dana yang ditanggung bank kian membengkak.

Bank Internasional Indonesia (BII) mungkin bisa jadi contoh. Bank yang saham mayoritasnya dikuasai Sorak Financial Holdings ini mengalami kenaikan beban operasional hingga 42,6%. Akibatnya, laba BII sepanjang 2014 terpangkas hingga 40% menjadi tinggal Rp 752 miliar. Peningkatan beban oprasional yang tinggi juga melanda Bank Danamon, sehingga laba bersihnya terpangkas 36% menjadi Rp 2,6 triliun.

Syukurlah, kini para bankir mulai bersikap realistis. Tumpukan dana mahal, sedikit demi sedikit mulai disingkirkan. Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) mencatat, dari 58 bank yang menguasai 90% DPK perbankan nasional, 32 di antaranya telah memangkas suku bunganya. Penurunannya berkisar 25 - 50 basis poin (bps).

Seorang bankir swasta mengatakan, faktor penurunan laba bersih mendorong perbankan mengatur kembali portfolio pendanaannya. Dana-dana mahal, terutama yang berasal dari korporasi seperti perusahaan asurasi dan dana pensiun, mulai dikurangi. Beban bunga yang harus ditanggung sejumlah bank kini sudah tidak sebanding dengan pendapatan bunga yang diperoleh.

Selama ini, dana-dana mahal itu biasanya diputar kembali pada obligasi negara. Hanya saja, lantaran sejak awal 2015 kuponnya terus melorot, dari posisi 8,3% menjadi 7,8%, return yang diterima bank juga mengempis. Padahal, beberapa bank harus membayar dana mahal tersebut sekitar 7%-8%. Sehingga selisihnya dinilai tak lagi menguntungkan. Faktor itulah yang membuat sejumlah bank mengurangi dana mahalnya.

Asyiknya lagi, penurunan suku bunga simpanan ini diikuti pula dengan penurunan suku bunga pinjaman. BCA, misalnya. Bank milik Grup Djarum ini telah memangkas suku bunga kreditnya sebesar 25 bps. “Kami sudah menurunkan bunga kredit untuk usaha kecil (UMKM) dan perumahan (KPR) sejak Maret lalu,” ujar Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA.

Langkah BCA tampaknya akan diikuti oleh Bank Mandiri. Rencananya, April ini bank pemerintah ini akan memangkas bunga kredit UMKM sebesar 50 bps. Bahkan bunga flat untuk kredit mikro akan digunting dari 0,78% - 1,50% per bulan menjadi 0,28% - 1%.

Memang, tidak semua bank bisa mengikuti jejak BCA atau Mandiri. Soalnya, di beberapa bank, tingginya beban bunga simpanan akan dipikul hingga beberapa bulan ke depan. Maklum, pada deposan rata-rata menaruh duitnya di simpanan berbunga tinggi untuk untuk jangka waktu enam bulan hingga setahun. Apalagi, saat ini, para bankir bersikap ekstra hati-hati dalam mengelontorkan dananya agat tidak macet.

Tetapi yang pasti, cepat tidaknya penurunan suku bunga simpanan dan pinjaman ini tergantung pada penurunan suku bunga acuan BI (BI rate). Maklum, BI rate menjadi patokan bank dalam menetapkan suku bunga. Masalahnya, banyak kalangan memperkirakan, BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 7,5% hingga akhir kuartal II.

Malah Lana Soelistianingsih, pengamat ekonomi dari UI, melihat BI rate berpotensi naik ke level 7,75%-8%. Maklum, masalah yang dihadapi BI bakal semakin ruwet. Contohnya sekarang, kenaikan harga BBM dan LPG 12 kg sudah pasti akan mendorong tingkat inflasi. Belum lagi kenaikan tarif dasar listrik perumahan, awal Mei depan. Rencana kenaikan suku bunga acuan The Fed, juga bisa menjadi masalah baru.

Meski DPK sudah mulai naik, perbankan pun belum bisa berlega hati. Soalnya, pemerintah dalam waktu dekat akan meluncurkan banyak surat utang. Seorang bankir senior menilai, agresifnya pemerintah dalam menyerap dana masyarakat bisa membuat likuiditas kembali ketat. “Kalau DPK berkurang, likuiditas akan terganggu. Otomatis bank akan menahan suku bunganya,” katanya.(kn/Indonesian review)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...