25 August 2019

Makin Parah, 'Hantu' Defisit CAD Terus Rasuki Ekonomi RI

KONFRONTASI - Tampaknya tugas pemerintah akan semakin berat di paruh kedua tahun 2019.

Pasalnya, 'hantu' defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia terlihat masih menggentayangi perekonomian Indonesia.

Transaksi berjalan sendiri merupakan gambaran aliran valas yang keluar/masuk Indonesia melalui sektor riil.

Aliran modal tersebut cenderung bertahan lama, mengingat transaksi pada sektor riil membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ada proses pilih-pilih barang, pengiriman, sampai pembayaran. Ibarat kata, barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan.

Karena itulah, transaksi berjalan sangat penting dalam stabilitas perekonomian Indonesia. Bila defisit terjadi (lebih banyak devisa keluar ketimbang masuk), maka pasokan valas dalam negeri akan tipis untuk jangka waktu yang lumayan lama.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah sadar betul akan hal ini. Berkali-kali Jokowi menekankan perlunya tindakan untuk menanggulangi CAD.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, Jokowi menyebut kebijakan 'gila' sebagai solusi untuk memperbaiki kinerja transaksi berjalan Indonesia.

Namun kembali lagi, tampaknya belum ada kebijakan yang mampu mengusir, atau setidaknya menekan angka CAD.

Indikasinya ada pada kinerja perdagangan barang yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Kinerja Ekspor-Impor Makin Parah

Pada kuartal I-2019, neraca perdagangan RI sudah membukukan defisit sebesar US$ 60 ribu. Meskipun tipis, namun sejatinya kinerja ekspor-impor jauh memburuk karena pada tahun sebelumnya (kuartal I-2018) masih bisa surplus US$ 261 juta.

Tren pembengkakan defisit pun berlanjut.

Sepanjang kuartal II-2019, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 1,87 miliar. Defisit tersebut lebih dalam ketimbang kuartal II-2018 yang sebesar US$ 1,45 miliar.

Penyebab utama memburuknya perdagangan Indonesia adalah harga komoditas ekspor utama yang terus berada dalam tren penurunan.

Paling parah adalah batu bara, dimana Kepala BPS Suhariyanto mengatakan harganya anjlok hingga 30% sepanjang semester I-2019. Sama halnya dengan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), yang mana harganya turun hingga 8,02% pada periode yang sama.

Ketergantungan ekspor Indonesia terhadap komoditas mentah telah membawa 'kutukan'. Pasalnya, harga komoditas lebih digerakkan oleh mekanisme pasar global dan minim nilai tambah.

Kalau harganya sudah anjlok, ya harus nerima pahitnya.

Bahayanya, tren pelemahan harga komoditas tampaknya masih akan berlanjut akibat perlambatan ekonomi global.

Eskalasi perang dagang Amerika Serikat (AS)-China telah membuat Bank Dunia (World Bank/WB) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Dalam laporan Global Economic Prospect edisi Juni 2019, WB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 sebesar 0,3 persen poin menjadi 2,6%.

Sejalan dengan perlambatan ekonomi global, permintaan komoditas sebagai bahan baku energi dan energi kemungkinan juga melemah akibat penurunan permintaan. Termasuk batu bara dan CPO.

Batu baran dan CPO merupakan penyumbang 25% dari total ekspor nonmigas RI. Bila harga keduanya anjlok, kinerja ekspor secara umum harus siap-siap merana.

Transaksi Berjalan Kuartal II-2019 Semakin Tertekan

Terkait transaksi berjalan, ekspor impor barang punya peran yang sangat besar. Nilai transaksinya merupakan yang terbesar diantara komponen-komponen lain seperti transaksi jasa, pendapatan primer, dan pendapatan sekunder.

Defisit neraca perdagangan, apalagi dalam jumlah yang besar, akan semakin membebani neraca transaksi berjalan.

Buktinya, CAD kuartal II-2018 melebar menjadi US$ 7,9 miliar (3,01% PDB) dari kuartal sebelumnya sebesar US$ 5,1 miliar (2,01% PDB).

Saat itu penyebabnya adalah neraca dagang yang bergerak dari surplus US$ 261 juta (kuartal I-2018) menjadi defisit US$ 1,45 miliar (kuartal II-2018).

Nah, sayangnya pola tersebut kembali terjadi pada tahun ini, dimana kinerja perdagangan semakin memburuk dari kuartal I ke kuartal II. Ada kemungkinan CAD kuartal II-2019 semakin dalam.

Kecuali kinerja ekspor-impor jasa dan pendapatan primer bisa membaik. Semoga saja.(mr/cnbc)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...