18 September 2019

Makin Liberal, Menteri Said Beri Waktu Pertamina 2 Tahun untuk Hapus Premium

KONFRONTASI-Pertamina diberi tenggat waktu dua tahun untuk menghilangkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium di Indonesia. Hal ini telah disampaikan Menteri ESDM, Sudirman Said, Rabu 31 Desember 2014.

PT Pertamina (Persero) telah diberikan waktu untuk menghilangkan BBM Ron 88 atau lebih dikenal premium, dan nantinya, BBM di Indonesia menjadi Ron 92 atau sejenis Pertamax.

"Pertamina diberikan waktu selamanya 2 tahun menyiapkan diri. Ron 88 ditinggalkan, beralih ke 92," Sudirman Said menjelaskan.

Sudirman menyarankan agar Pertamina menyiapkan rencana untuk menjalankan kebijakan ini secara matang sehingga tidak membuat khawatir banyak pihak.

Sudirman meyakini penghapusan premium memberikan manfaat. Salah satunya, kualitas BBM lebih baik, sehingga mesin kendaraan lebih terjaga.

"Beralih ke Ron 92 membuat mutu BBM lebih baik, mendorong persaingan sehat, kita sudah sepakat," ungkapnya.

Liberalisasi BBM

Menanggapi rencana penghapusan premium, Ketua II DPP Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) M Ismeth mengatakan hal tersebut akan menyebabkan liberalisasi pasar BBM di Indonesia.

Ismeth mengatakan penghapusan RON 88 akan membuat kompetisi perdagangan BBM di Indonesia semakin kompetitif antara stasiun pengisi bahan bakar umum (SPBU) Pertamina dan SPBU asing. Ia mengklaim momen ini yang selama ini ditunggu oleh para pemilik SPBU asing.

"Selama ini kompetitor seperti mati suri karena SPBU milik Pertamina masih menyalurkan RON 88. Kalau dicabut, barang yang ditawarkan akan sama. Iklim usaha kita akan lebih kompetitif," ucap Ismeth di Jakarta, Sabtu (27/12).

Ia mengatakan persaingan bebas penjualan BBM nantinya dapat menyebabkan SPBU milik Pertamina justru akan merugi karena harga yang ditawarkan akan meningkat karena setara pertamax dan tidak berbeda jauh dengan harga yang ditawarkan oleh SPBU asing. Selain itu, ia menilai tidak semua kendaraan di Indonesia cocok menggunakan RON 92 sebagai bahan bakar.

Oleh karena itu, Ismeth menyarankan RON 88 tetap dijual ke masyarakat. Jika memang akan terjadi penghapusan, Ismeth berharap pemerintah memberikan perlindungan kepada pengusaha SPBU milik Pertamina.

"Kalau subsidi nantinya akan berubah ke subsidi pertamax, margin juga harus dipikirkan," tutur Ismeth.

Saat ini margin yang dipatok atau besaran keuntungan badan usaha SPBU yang diterima adalah sebesar Rp210 per liter.

[mr/metro/kontan]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...