26 June 2019

Kurs Rupiah 4 Oktober 2017, Mari Memantau Pergerakan dalam Transaksi Hari Ini

KONFRONTASI -  Berikut adalah berita yang disajikan secara live mengenai pergerakan rupiah sepanjang hari ini dari pembukaan hingga penutupan.

Nilai tukar rupiah berakhir melemah pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Selasa (3/10/2017), di tengah depresiasi mayoritas mata uang di Asia terhadap dolar AS.

Rupiah ditutup melemah 0,01% atau 2 poin di Rp13.542 per dolar AS, setelah dibuka dengan pelemahan 0,25% atau 34 poin di Rp13.574.

Adapun pada perdagangan Senin (2/10), rupiah berakhir melemah 0,50% atau 68 poin di posisi 13.540 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah bergerak di kisaran Rp13.534 – Rp13.593 per dolar AS.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, depresiasi rupiah terhadap dolar AS terkait dengan rencana pajak Amerika Serikat (AS) dan pernyataan dari Gubernur bank sentral AS The Federal Reserve Janet Yellen pekan lalu.

“Pasar juga berspekulasi tentang kemungkinan penggantian Yellen yang mungkin memiliki sikap moneter hawkish,” ujar Mirza kepada awak media di Jakarta, seperti dikutip dari Bloomberg.

Selain rupiah, mata uang lain di Asia yang terdepresiasi terhadap dolar AS hari ini di antaranya rupee India dengan 0,4%, dolar Singapura sebesar 0,18%, dan ringgit Malaysia yang melemah 0,06% pada pukul 16.50 WIB.

Adapun renminbi China dan dolar Taiwan masing-masing terpantau menguat 0,12% dan 0,03%.

“Mata uang Asia mengkonsolidasikan sikap lebih hati-hati. Pasar melihat arah mayoritas bergerak,” kata Vishnu Varathan, kepala bidang ekonomi dan strategi di Mizuho Bank Ltd.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama lanjut naik 0,07% atau 0,069 poin ke 93,628 pada pukul 16.43 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan 0,07% atau 0,066 poin di level 93,625, setelah pada perdagangan Senin (2/10) berakhir menguat 0,52% di posisi 93,559.

Penguatan dolar ditopang aktivitas manufaktur AS yang melonjak di tengah kuatnya peningkatan untuk pesanan baru dan harga bahan baku.

Institute for Supply Management (ISM) melaporkan indeks aktivitas pabrik AS meningkat ke posisi 60,8 pada September, tertinggi sejak Mei 2004 serta lebih baik dari pencapaian pada bulan Agustus di 58,8.

Para investor juga mempertimbangkan prospek bahwa Kongres akan memberlakukan rencana pajak yang pro-pertumbuhan. Di sisi lain, terdapat spekulasi bahwa Presiden Trump akan memilih pimpinan The Fed baru yang mungkin akan melakukan pengetatan kebijakan lebih agresif.(Jft/Bisnis)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...