29 March 2020

KLHK Minta Penambang Emas Rakyat Tak Gunakan Merkuri

KONFRONTASI-Bantuan fasilitas pengelolaan emas non merkuri diberikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada satu kelompok koperasi penambang emas rakyat di Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong, Banten, Senin (10/12/2018).

"Bantuan ini diberikan merupakan bagian komitemen pemerintah dalam hal ini KLHK, untuk mengurangi merkuri, sesuai konvensi internasional," kata Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun (PB3) KLHK, Yun Inisiani.

Yun bilang untuk satu unit fasilitas pengelolaan emas non merkuri ini sekitar Rp1,4 miliar sampai dengan Rp1,6 miliar dengan menggunakan sianida sebagai bahan pengolah emas menggantikan merkuri.

"Sianida ini lebih ramah lingkungan ketimbang merkuri, alat ini bisa menjadi sangat efisien bagi para petambang emas rakyat," katanya.

Yun juga menjelaskan bahwa alat ini dibuat oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), tentunya setiap daerah tambang memiliki karakteristik yang berbeda.

Yun menjelaskan, pemilihan Desa Lebaksitu sebagaipilot project dikarenakan memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya, memiliki perizinan sebagai area pertambangan dan masyarakat ingin belajar. Sebab, mengubah kebiasaan petambang dari menggunakan merkuri ke sianida bukanlah perkara mudah.

Yun mengatakan, memberikan pemahaman kepada masyarakat terus diupayakan. Pasalnya, merkuri merupakan salah satu bahan kimia di pengolahan emas skala kecil (pesk) yang mengancam terhadap kesehatan dan lingkungan.

Informasi saja, alat pengolahan ini memiliki kapasitas 1.500 kilogram emas perbatchatau per satu kali proses. Setidaknya, dibutuhkan waktu lima hari untuk mengolah emas dengan melalui lima proses. Yakni proses kominusi, pelindian,recoveryemas, peleburan emas dan pengolahan limbah. Pada akhir proses, sisa sianida kemudian diolah sebelum dibuang lingkungan sesuai baku mutu yang aman secara lingkungan.[mr/inilah]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...