17 September 2019

Investor Hindari Risiko, Obligasi India dan Indonesia Berkinerja Terburuk di Agustus

KONFRONTASI -    Meski memberikan imbal hasil tertinggi, surat utang India dan Indonesia memberikan hasil investasi terburuk di Asia. Dengan  yield  riil sedikitnya 3%, hasil investasi ( return ) obligasi India dan Indonesia dinilai masih kalah dibandingkan surat utang Thailand dengan imbal hasil riil sebesar 0,6%.


Perlambatan pertumbuhan dan meningkatnya ketegangan perdagangan global membuat para investor menghindari surat utang negara-negara dengan risiko yang lebih tinggi, sehingga mendorong turunnya harga dan menimbulkan kerugian modal pada investor yang memilikinya.
"Jika ekspektasi pertumbuhan global terus memburuk dan berdampak negatif pada minat investor untuk mengambil risiko, maka cenderung akan melemahkan mata uang  emerging market  (EM). Termasuk pasar obligasi yang berkorelasi dengan mata uang dengan imbal hasil tinggi seperti Indonesia," kata Stuart Ritson, manajer portofolio untuk surat utang  emerging market  di Aviva Investors, Singapura.


"Kami menjadi sangat selektif dalam mengambil posisi di pasar penghasil imbal hasil lebih tinggi," imbuhnya, seperti dikutip Bloomberg, Senin (2/9).

Menurut Rajeev De Mello, pejabat kepala investasi di Bank of Singapore Ltd., meningkatnya permintaan terhadap aset  safe haven  juga memukul sejumlah aset EM. Menguatnya nilaki tukar dolar AS, membatasi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan sebanyak yang mereka inginkan.
"Mereka telah mengalami pada episode sebelumnya, bahwa meningkatnya premi risiko akan membatasi kebijakan moneter mereka," ujar De Mello.


Pada Agustus lalu, menurut penelusuran Bloomberg, obligasi Indonesia sedikit memberikan kerugian kepada investor, meskipun menawarkan imbal hasil riil - imbal hasil nominal yang disesuaikan dengan inflasi - sebesar 4,04%, tertinggi setelah Mesir dari 47 pasar global.
Penyebab terbesar dari menurunnya kinerja obligasi Indonesia, menurut Bloomberg, adalah aksi jual pengelola dana global, dengan penjualan bersih senilai USD281 juta dari bursa saham Indonesia pada Agustus lalu.


Obligasi India bernasib hampir sama buruknya, dengan  return  sangat kecil 0,1%. Meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China juga mendorong investor asing untuk melepas USD2,19 miliar dari bursa saham negara itu.
Daya tarik obligasi Asia akan diuji lebih lanjut pada pekan ini dengan rilis data inflasi Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina dan Taiwan. Laju inflasi tahunan diperkirakan akan melambat di Korea, Indonesia dan Filipina, yang seharusnya mendorong imbal hasil riil, dan membuat surat utang negara-negara itu menjadi lebih menarik.


Kendati demikian, meningkatnya hambatan perdagangan global membuat para investor seperti UOB Asset Management Ltd. tetap menghindari surat utang berimbal hasil tinggi di Asia. "Kami mengurangi bobot di beberapa negara dengan imbal hasil lebih tinggi," kata Patrick Wacker, manajer investasi obligasi EM di UOB Asset, Singapura.
Menurutnya, kinerja surat utang Indonesia berpotensi memburuk, karena paparan komoditasnya ke China. (Jft/Ipotnews)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 16 Sep 2019 - 20:09
Senin, 16 Sep 2019 - 20:05
Senin, 16 Sep 2019 - 19:59
Senin, 16 Sep 2019 - 19:57
Senin, 16 Sep 2019 - 19:53
Senin, 16 Sep 2019 - 19:46
Senin, 16 Sep 2019 - 19:44
Senin, 16 Sep 2019 - 19:41
Senin, 16 Sep 2019 - 19:39
Senin, 16 Sep 2019 - 19:37
Senin, 16 Sep 2019 - 19:35
Senin, 16 Sep 2019 - 19:32