20 November 2019

Inilah Nilai Kurs Rupiah Paling Jeblok Sejak Agustus 1999

KONFRONTASI-Nilai tukar rupiah berada dalam fase terburuk setelah krisis keuangan dunia 2008. Depresiasi rupiah kemarin menyentuh level terendah sejak Agustus 1999 atau ketika Indonesia baru saja pulih dari terpaan krisis moneter Asia.
    
Kurs dolar kian perkasa terhadap mata uang lainnya menjelang rapat Federal Open Market Commitee (FOMC) pada 16-17 Desember. Dari sisi dalam negeri, belum kunjung membaiknya current account atau transaksi berjalan membuat nilai tukar rupiah kian terpuruk.
    
Di pasar spot, rupiah kemarin melemah hingga Rp 12.705 USD, atau melemah dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di posisi Rp 12.410.

Sedangkan berdasarkan kurs referensi BI (Jakarta Interbank Spot Dolar Rate/Jisdor), rupiah berada di level Rp 12.599 per USD, lebih lemah dibandingkan sehari sebelumnya Rp 12.432 per USD.
       
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Peter Jacobs mengatakan, BI terus melakukan intervensi di pasar. "Namun memang laju pergerakan dolar lebih kuat," ujarnya kemarin.
       
Dia mengatakan, pelemahan rupiah akan terjadi hingga akhir tahun ini. BI juga berharap agar semua pihak dapat ikut andil dalam memperkuat nilai tukar rupiah.

"Market jangan dilawan. Tapi alangkah baiknya jika semua aspek diperbaiki. Semua pihak harus turut andil dalam mengembalikan kekuatan rupiah, bukan tugas BI saja," katanya.
       
Dia mengatakan, nilai tukar rupiah secara fundamental harus diperbaiki. Selain dari sisi pasokan valas, juga kinerja ekspor yang harus terus dibenahi. Dengan begitu perbaikan fundamental rupiah akan lebih baik," katanya.
       
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD saat ini masih dalam taraf wajar.

"Normal saja karena akhir tahun begini memang biasanya agak tertekan karena aliran uang ke luar cukup tinggi," ucapnya.
       
Enny mengatakan, kurs rupiah kian jatuh karena utang luar negeri jatuh tempo cukup besar di akhir tahun. Dengan demikian, permintaan dolar terus meningkat. BI mencatat posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir September 2014 sebesar USD 292,3 miliar, meningkat USD 6,1 miliar atau 2,1 persen dibandingkan dengan posisi akhir triwulan kedua 2014 sebesar USD 286,2 miliar.
       
Peningkatan posisi utang luar negeri tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya kepemilikan asing atas surat utang yang diterbitkan pemerintah (USD 4,3 miliar), pinjaman luar negeri sektor swasta (USD 2,3 miliar), dan simpanan asing di bank domestik (USD 1,7 miliar) yang melampaui turunnya pinjaman luar negeri sektor publik (USD 2,2 miliar).

Dengan perkembangan tersebut, rasio utang luar negeri terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat dari 34,00 persen pada triwulan kedua 2014 menjadi 34,68 persen pada September 2014.
       
Enny menambahkan, mulai dicairkannya pembayaran dividen pada perusahaan dengan penanaman modal asing (PMA) juga meningkatkan permintaan dolar.

"Akhir tahun biasanya semakin ramai bayar dividen untuk PMA yang ada di sini. Sehingga menyebabkan capital outflow," terusnya.

Associate Director, Head of Research and Institutional Business PT Trimegah Securities Tbk Sebastian Tobing mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah sejalan dengan mata uang negara lain. "Tapi belum ada indikasi kenaikan Fed Funds Rate di pertemuan The Fed (Federal Reserve)," katanya.
       
Sebastian menilai rupiah memang bisa saja ke level Rp 13.000 per USD dalam jangka pendek. Namun menurut dia, secara rata-rata sepanjang tahun ini ada di level Rp 11.800 per USD dan di tahun depan diperkirakan ada di level Rp 12.150 per USD.

"Sejauh ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Yang mengkhawatirkan itu jika kenaikan Fed Funds Rate di luar perkiraan," terusnya.
       
Seiring dengan terus turunnya nilai tukar rupiah, investor asing di bursa saham Indonesia juga terus melakukan aksi jual. Pada perdagangan kemarin, bersamaan dengan semakin lemahnya nilai tukar rupiah, investor asing melakukan penjualan bersih sebesar Rp 828,1 miliar.
       
Memang, secara kumulatif sejak awal tahun sampai dengan kemarin investor asing masih menyumbang capital inflow dengan pembelian bersih Rp 47,541 triliun. Angka ini sedikit berkurang karena pembelian bersih investor asing sempat mencapai lebih dari Rp 50 triliun belum lama ini.
       
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah tidak mempengaruhi laju investasi di Indonesia. Dia menegaskan, minat investor masih besar untuk menanamkan modal di tanah air. Kalau pun ada yang terpengaruh, dia memastikan sangat kecil
       
"Saat ini, kami sedang mengejar target realisasi investasi. Untuk tahun depan, minatnya masih sangat besar. Tidak terpengaruh," katanya.

Dia menegaskan target pertumbuhan investasi 15 persen atau Rp 519 triliun dari realisasi 2014 tidak berubah. Malah, dia berharap kondusifnya iklim investasi di Indonesia membuat prosentase itu naik menjadi 20 persen.

Optimisme itu muncul dari langkah yang dilakukan oleh pemerintah saat ini. Terutama, soal komitmen untuk mempercepat proses perizinan yang selama ini dikeluhkan. Perubahan terhadap proses perizinan yang cepat, sederhana, dan transparan bisa membuat Indonesia lebih bersaing di ASEAN.
       
"Perizinan lahan jadi dua masalah yang paling disorot investor sehingga perlu dikoordinasikan dengan Kementerian lain. Nanti, tiap Kementerian menunjuk pejabat yang bertanggungjawab untuk proses integrasi perizinan," ujarnya. (ant)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...