16 December 2017

Indonesia Bond Pricing Agenc: Pembangunan Infrastruktur Dorong Penerbitan Obligasi

KONFRONTASI - 

Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) menilai bahwa gencarnya proyek pembangunan infrastruktur di dalam negeri akan mendorong penerbitan obligasi korporasi sektor infrastruktur dan konstruksi ke depannya meningkat.

Direktur IBPA, Wahyu Trenggono di Jakarta, Jumat (24/11) mengatakan bahwa perusahaan di dalam negeri, terutama sektor infrastruktur dan konstruksi akan mencari pendanaan ke pasar modal salah satunya melalui penerbitan obligasi dalam rangka mendukung program pembangunan.

"Korporasi BUMN, terutama dari sektor konstruksi dan infrastruktur diperkirakan akan banyak menerbitkan obligasi, itu dalam rangka mendukung percepatan pembangunan proyek infrastruktur," ujarnya.

Menurut dia, pembiayaan proyek-proyek infrastruktur sebaiknya didanai dengan obligasi bertenor jangka panjang, sebagai alternatif pembiayaan dari perbankan yang diperkirakan mulai terbatas.

Saat ini, lanjut dia, korporasi yang melakukan pembiayaan infrastruktur dengan menerbitkan obligasi relatif belum marak. Padahal, minat investor untuk menyerap cukup tinggi mengingat prospek imbal hasil yang cukup menjanjikan dari instrumen itu.

"Belum marak karena mungkin perusahaan belum terbiasa. Namun, beberapa sudah memulai, diharapkan ke depannya semakin marak," katanya.

Wahyu Trenggono juga mengatakan bahwa meski bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memiliki rencana untuk menaikan suku bunga acuannya pada tahun depan, namun minat investor untuk menyerap obligasi domestik masih tinggi.

"Sentimen eksternal itu memang dapat memicu aliran dana asing keluar. Namun, saya optimis keberadaan investor asing di pasar obligasi domestik akan tetap bertahan di dalam negeri karena makroekonomi domestik yang stabil," katanya.

Sebelumnya, Analis Pefindo Hendro Utomo mengatakan bahwa mengatakan bahwa penerbitan surat utang korporasi dari berbagai sektor pada 2018 diproyeksikan mencapai Rp155 triliun hingga Rp158 triliun, meningkat dibandingkan estimasi penerbitan tahun ini yang sebesar Rp150 triliun.

Ia mengatakan bahwa proyeksi itu berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,1-5,4 persen, inflasi terkendali di level rendah, dan suku bunga acuan yang dipertahankan di level saat ini.

Menurut dia, penerbitan surat utang tahun depan didukung oleh obligasi jatuh tempo yang diyakini akan di-refinancing dengan melakukan penerbitan obligasi baru. Selain itu, juga adanya kebutuhan dana untuk melakukan ekspansi perusahaan.

"Ada kebutuhan penerbitan surat utang baru untuk kebutuhan usaha," katanya.(Jft/Skala)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...