16 October 2018

Indeks BEI Kembali Jeblok, Rupiah Terus Melemah. Sebab Apa?

KONFRONTASI -Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, dibuka melemah tipis sebesar 1,15 poin atau 0,02 persen menjadi 5.072,90. Sementara itu, indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,28 poin (0,03 persen) ke level 863,18.

"Indeks BEI melemah di tengah keputusan bank sentral AS (the Fed) yang menghentikan program pelonggaran stimulus keuangan atau quantitative easing (QE), sementara itu bursa saham di kawasan Asia merespons beragam, Nikkei bergerak menguat sedangkan Hang Seng melemah," kata analis Samuel Sekuritas Tiesha Narandha Putri. Reza Priyambada, analis pasar modal, juga menilai rupiah melemah dan IHSG kembali terkulai.

Dari dalam negeri, ia menambahkan bahwa pemerintah akhirnya memberikan pernyataan akan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi dan hal tersebut akan dilakukan tahun ini.

Sementara itu, Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengemukakan Indonesia mungkin akan menaikan harga BBM bersubsidi sebelum akhir tahun untuk menciptakan ruang fiskal lebih besar.

"Kendati demikian, pemerintah belum memutuskan besarnya dan waktu dari kenaikan harga," katanya.

Menurut dia, ekonomi Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan pada kecepatan paling lambat sejak tahun 2009 dan sedang menghadapi ancaman defisit transaksi berjalan yang berada di dekat rekor tertingginya. Kondisi itu bisa menjadi ancaman potensi arus keluar dana dari pasar modal Indonesia.

"Di tengah pasar yang menantikan pemerintah mengumumkan kenaikan BBM serta laju penguatan indeks saham AS yang terhenti, diharapkan rilis kinerja keuangan emiten kuartal III 2014 menjadi katalis bagi IHSG," katanya.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng melemah 72,85 poin (0,31 persen) ke 23.747,02, indeks Nikkei naik 91,57 poin (0,59 persen) ke 15.645,48, dan Straits Times menguat 2,08 poin (0,06 persen) ke posisi 3.226,10.

RUPIAH MELEMAH

Melemahnya nilai tukar rupiah membuat beban pembiayaan pokok utang juga bertambah.

"Ada dua efek, pembayaran pokok dan utang, memang nambah," tukas Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Askolani, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (8/10/2014).

Kendati beban bertambah, penarikan penerimaan pinjaman masih ada yang diterbitkan dalam bentuk valas. Sementara SBN (Surat Berharga Negara) yang ada dalam bentuk valas, dikemukakan Askolani, nilainya naik.

"Sehingga bisa saja seimbang," tuturnya.

Sekadar informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan transaksi Rabu sore (8/10/2014) ditutup di level Rp12.239 per USD. Data Bloomberg mencatat setelah dibuka di level Rp12.232 per USD, sore ini rupiah ditutup di level Rp12.239 per USD.

[ant]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...