19 March 2019

Haruskah Harga BBM Dinaikkan Demi Selamatkan Rupiah?

KONFRONTASI-Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal berlangsung lama. Prediksinya, pelemahan ini akan berlangsung hingga Juni 2019.

Pada pekan lalu, rupiah menembus nilai psikologis baru Rp 15.100/US$. Bahkan pada penutupan pasar kemarin (5/10/2018) nilai tukar rupiah sudah menembus Rp 15.175/US$.

Untuk penyelamatan rupiah, pemerintah harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum selesai, yaitu defisit di transaksi berjalan (current account). Indonesia tekor dalam hal ekspor-impor barang dan jasa, lebih banyak devisa yang keluar dibandingkan yang masuk. Akibatnya rupiah kekurangan pijakan untuk menguat. 

Beban paling berat di transaksi berjalan adalah neraca migas. Pada kuartal II-2018, transaksi berjalan mencatat defisit US$ 8,03 miliar. Dari jumlah tersebut, US$ 2,75 miliar atau 34,23% disumbang oleh defisit di neraca migas. 

Ke depan, defisit neraca migas berpotensi membengkak karena harga minyak dunia yang semakin mahal. Pada pukul 15:19 WIB, harga minyak jenis brent tercatat US$ 86,19/barel. Ini merupakan yang tertinggi sejak 2014. 

Potensi harga minyak untuk terus naik masih cukup besar karena kian dekatnya pemberlakuan sanksi baru AS kepada Iran yaitu pada 4 November. Saat itu, Iran akan sulit mengekspor minyaknya karena blokade Negeri Adidaya. 

Pasokan minyak dari Iran akan absen di pasar dunia sementara Negeri Persia adalah produsen minyak terbesar ketiga di antara anggota Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC). Artinya, ketidakhadiran Iran akan sangat mempengaruhi pasokan minyak di pasar global. 

Dengan status Indonesia sebagai negara net importir migas, harga minyak yang kian mahal tentu akan memberatkan. Nilai impor akan membengkak padahal volume yang diimpor mungkin tidak naik. 

Idealnya memang Indonesia perlu menambah pasokan minyak di dalam negeri agar tidak terlalu bergantung kepada impor. Eksplorasi sumur-sumur minyak baru, peningkatan produksi dengan metode Enhanced Oil Recovery (EOR), sampai membangun fasilitas kilang dan penyimpanan (storage) agar impor Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa ditekan. 

Namun langkah-langkah itu perlu waktu, tenaga, dan tentunya biaya. Bahkan mungkin membutuhkan impor bahan baku dan barang modal sehingga tekanan di transaksi berjalan malah bertambah. (mr/cnbc)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...