14 October 2019

Harga Minyak Turun di Perdagangan Asia

Konfrontasi - Harga minyak turun di perdagangan Asia pada Kamis (26/2), namun kerugiannya terbatas karena para dealer fokus pada unsur-unsur positif dari laporan persediaan energi Amerika Serikat yang bervariasi, kata para analis.

Minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April menurun 43 sen menjadi 50,56 dolar AS, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman April jatuh 31 sen menjadi 61,32 dolar AS dalam perdagangan sore.

Departemen Energi AS (DoE) pada Rabu mengatakan bahwa persediaan minyak mentah naik 8,4 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Februari ke rekor 434,1 juta barel, lebih dari dua kali lipat peningkatan yang diharapkan.

Namun, DoE juga melaporkan bahwa persediaan sulingan (destilasi), yang termasuk minyak diesel dan bahan bakar pemanas, meluncur turun 2,7 juta barel, sedangkan stok bensin merosot 3,1 juta barel.

Para pedagang memilih "untuk fokus pada penurunan tajam dalam bensin dan stok sulingan yang mungkin mengindikasikan penguatan permintaan di Amerika Serikat, konsumen minyak mentah terbesar di dunia," kata United Overseas Bank Singapura dalam sebuah komentarnya.

Para analis mengatakan harga minyak juga didukung menyusul komentar positif Ali Al-Naimi, menteri perminyakan Arab Saudi, produsen minyak utama dunia.

Permintaan minyak sedang meningkat dan pasar telah berubah menjadi "tenang", Al-Naimi mengatakan kepada wartawan setelah pidato di sebuah konferensi di kerajaan itu pada Rabu, Bloomberg News melaporkan.

Arab Saudi adalah anggota terbesar dan paling berpengaruh dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang pada November tahun lalu memutuskan untuk mempertahankan tingkat produksinya meskipun kelebihan pasokan global.

Langkah itu mengirim harga minyak jatuh ke posisi terendah enam tahun lebih sedikit di atas 40 dolar AS pada akhir Januari, sebelum kembali sedikit menyusul penurunan jumlah rig minyak AS yang beroperasi dan pengurangan investasi oleh perusahaan-perusahaan minyak besar.

Di tempat lain, investor minyak juga terus mencermati krisis utang Yunani serta meningkatnya kekerasan di produsen minyak Libya.

"Dengan resolusi sementara dari krisis Yunani dan anjloknya produksi dari Libya akibat eskalasi ketegangan, risiko penurunan tajam harga selama dua minggu ke depan terbatas," kata Sanjeev Gupta, kepala praktek Asia-Pacific Oil & Gas di organisasi jasa profesional EY. (akl/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...