16 November 2019

Harga Minyak Mengalami Penurunan Baru di Perdagangan Asia

Konfrontasi - Harga minyak mengalami penurunan baru di perdagangan Asia pada Rabu (17/12), jatuh ke posisi terendah baru multi-tahun ketika para dealer memantau krisis rubel Rusia dan menunggu laporan pasokan minyak mentah AS terbaru, kata para analis.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari merosot 1,16 dolar AS menjadi 54,77 dolar AS di perdagangan sore, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Februari turun 71 sen menjadi 59,30 dolar AS pada hari pertama perdagangan kontrak Februari.

Brent untuk pengiriman Januari ditutup turun 1,20 dolar AS menjadi 59,86 dolar AS di London, setelah tergelincir di bawah batas psikologis 60 dolar AS untuk pertama kalinya sejak Juli 2009.

Para investor minyak mengawasi dengan seksama situasi di produsen minyak mentah Rusia setelah rubel pada Selasa jatuh ke rekor terendah baru terhadap dolar, kehilangan sekitar 20 persen nilainya.

Kemerosotan rubel terjadi meski bank sentral Rusia menaikkan suku bunga utama dari 10,5 persen menjadi 17 persen. Ekonomi Rusia telah terpukul oleh kemerosotan harga minyak dan sanksi Barat atas dukungan Moskow untuk separatis Ukraina.

"Jika harga minyak jatuh lebih jauh, maka kekhawatiran akan semakin meningkat di antara perusahaan dan rumah tangga Rusia," kata Credit Agricole dalam sebuah komentar.

Karena permintaan untuk dolar yang lebih aman di Rusia, "pihak berwenang mungkin harus mempertimbangkan langkah-langkah membatasi ekspektasi kinerja bank", kata pemberi pinjaman Prancis itu.

Phillip Futures yang berbasis di Singapura mengatakan "ada peluang cukup bagus bahwa (Rusia) mungkin akan gagal bayar (default) pada obligasi domestik mereka".

Dealer juga mengawasi laporan pasokan minyak AS yang akan dirilis Rabu untuk petunjuk tentang permintaan di konsumen minyak mentah utama dunia itu, kata analis.

Para analis yang disurvei oleh Wall Street Journal memperkirakan cadangan minyak AS berkurang sebesar 1,9 juta barel secara rata-rata dalam seminggu hingga 12 Desember.

Namun, harga minyak diperkirakan akan tetap rendah karena permintaan global yang lemah dan penolakan kartel minyak OPEC untuk memangkas produksinya meskipun pasokan global berlimpah.(rol/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...