21 February 2020

Harga Minyak Jatuh, Saudi Alami Lonjakan Defisit

KONFRONTASI-Defisit anggaran Saudi akan menjadi lebih dari dua kali perkiraannya sendiri, sebuah perusahaan riset terkemuka mengatakan, memaksa kerajaan itu ke pasar utang untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.

Terpukul oleh jatuhnya harga minyak mentah, pengekspor minyak terbesar di dunia itu akan mengalami defisit 106 miliar dolar AS pada tahun ini, dibandingkan dengan proyeksi pemerintah sebesar 39 miliar dolar AS, perusahaan Saudi Jadwa Research mengatakan dalam sebuah laporan yang dirilis Selasa.

Kerajaan yang mengekspor minyak rata-rata 7,0 juta barel per hari itu akan melihat pendapatan minyaknya jatuh 35 persen menjadi 171,8 miliar dolar AS pada 2015, laporan triwulanan mengatakan.

Total pendapatannya diperkirakan turun 33,7 persen pada 185 miliar dolar AS, sedangkan belanja publik diperkirakan akan tetap hampir tidak berubah pada 290,9 miliar dolar AS.

Jadwa mengatakan pemerintah diperkirakan kembali ke pasar utang untuk pertama kalinya dalam sekitar 15 tahun terakhir, meskipun memiliki cadangan sangat besar.

"Pemerintah sekarang diperkirakan menerbitkan surat utang sebagai bagian dari strategi pembiayaan defisit," katanya.

Arab Saudi memiliki cadangan devisa besar, yang mencapai 714 miliar dolar AS pada akhir Februari, tetapi Jadwa mengatakan pinjaman akan mengeleminasi kebutuhan untuk cadangan menjadi satu-satunya sumber pembiayaan defisit.

Kerajaan ini juga diperkirakan mencatat defisit transaksi berjalan 23,1 miliar dolar AS, kekurangan pertama sejak 1998, setelah mencatat surplus 81 miliar dolar AS pada tahun lalu.

Sebuah potongan besar dari perkiraan defisit -- sekitar 30 miliar dolar AS -- adalah akibat Raja baru Salman telah memberikan para pekerja Saudi pembayaran tambahan dua bulan.

Laporan itu tidak memperhitungkan biaya yang mungkin terjadi akibat perang yang dipimpin Saudi di negara tetangga Yaman.

Itu juga tidak mempertimbangkan kemungkinan penurunan produksi minyak mentah untuk mengakomodasi perkiraan kenaikan produksi minyak Iran jika mencapai kesepakatan nuklir dengan negara-negara Barat.

Perkiraan Jadwa didasarkan pada harga minyak 2015 sebesar 57 dolar AS per barel dan rata-rata produksi harian 9,8 juta barel per hari, naik 200.000 barel per hari dari tahun lalu.[mr/rol]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Kamis, 20 Feb 2020 - 20:51
Kamis, 20 Feb 2020 - 20:15
Kamis, 20 Feb 2020 - 20:07
Kamis, 20 Feb 2020 - 19:23
Kamis, 20 Feb 2020 - 19:19
Kamis, 20 Feb 2020 - 18:21