23 August 2019

Harga Minyak Brent Menguat, Batu Bara Akhiri Reli Pelemahan

KONFRONTASI -  Harga batu bara di bursa ICE Newcastle mampu rebound sekaligus mengakhiri pelemahan delapan hari berturut-turut pada perdagangan kemarin, Selasa (21/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Juni 2019 ditutup menguat 0,68 persen atau 0,55 poin ke level US$81,05 per metrik ton.

Sementara itu, hrga batu bara untuk kontrak Juli 2019 juga ditutup rebound dengan penguatan 0,56 persen atgau 0,45 poin ke level US$81,50 per troy ounce.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Juli 2019 ditutup melonjak 1,6 persen atau 0,95 poin ke level US$60,15 per metrik ton.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini
Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli 2019 mampu naik 21 sen dan ditutup di level US$72,18 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Dilansir Bloomberg, Brent mampu mengakhiri sesi perdagangan Selasa di posisi lebih tinggi, karena pergolakan di Arab Saudi dan Libya berikut pemadaman pipa di Nigeria menunjukkan rentannya kondisi pasokan.


Para pemberontak yang didukung oleh Iran mengatakan telah menyerang sebuah bandara di Arab Saudi selatan, sehingga semakin memicu ketegangan antara kedua wilayah.

Perusahaan minyak nasional di Libya mengungkapkan dua fasilitas minyaknya menjadi sasaran pekan ini di tengah pertempuran yang berkelanjutan di negara OPEC itu.

Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate melemah, terbebani kekhawatiran mengenai ekonomi global sebagai imbas dari perang dagang AS-China.

Minyak WTI untuk kontrak Juni 2019 ditutup turun 11 sen di level US$62,99 per barel di New York Mercantile Exchange. Adapun WTI untuk kontrak yang lebih aktif Juli 2019 berakhir di level 63,13.

Presiden Federal Reserve Bank of Boston Eric Rosengren mengatakan kebuntuan hubungan perdagangan antara AS dan China telah menambah risiko penurunan bagi proyeksi bank sentral tersebut.

Sementara itu, Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menurunkan proyeksinya untuk pertumbuhan global.

Akan tetapi, meningkatnya stok minyak mentah di AS dan kebuntuan dalam perundingan perdagangan AS-China tetap membatasi reli tersebut.

“Mengingat fakta bahwa kondisi makro tidak terlihat spektakuler, pergerakan harga minyak relatif baik,” ujar Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities, Toronto.(Jft/Bisnis0

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...