14 November 2019

Harga Minyak Beralik Naik di Perdagangan Asia

Konfrontasi - Harga minyak beralik naik di perdagangan Asia, Selasa (4/8), setelah turun tajam di sesi sebelumnya karena data manufaktur Tiongkok dan AS yang lemah dan berlanjutnya kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global, kata para analis.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik 54 sen menjadi 45,71 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 44 sen menjadi 49,96 dolar AS per barel di perdagangan sore.

WTI merosot 1,95 dolar AS dan Brent anjlok 2,69 dolar AS pada Senin, memperpanjang kerugian tajam lebih dari dua persen pada Jumat lalu.

Para analis mengatakan keuntungan kecil di perdagangan Asia kemungkinan besar akan dibatasi, karena para pedagang terfokus pada data manufaktur lesu dari konsumen energi terbesar Tiongkok dan Amerika Serikat.

Sebuah indikator ekonomi kunci swasta tentang sektor manufaktur Tiongkok, indeks pembelian manajer (PMI) Caixin, menunjukkan penurunan ke tingkat terendah dua tahun pada Juli di 47,8, lebih dalam ke wilayah kontraksi. Angka 50 menandai garis antara pertumbuhan dan kontraksi. PMI resmi menunjukkan penurunan menjadi 50,0 pada Juli dari 50,2 pada Juni.

Di AS, indeks pembelian manajer dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan aktivitas manufaktur mendingin menjadi 52,7 pada Juli dari 53,5 pada Juni.

"Meningkatnya pelemahan ekonomi global menumpuk tekanan terhadap komoditas," kata Bernard Aw, analis pasar di IG Markets di Singapura.

"Memperbandingkan permintaan yang memudar dalam minyak mentah dengan berlanjutnya kenaikan dalam pasokan, tampak semakin melebar," tambahnya.

Kekhawatiran yang berlangsung lama tentang kelebihan pasokan global diperburuk oleh komentar dari Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh tentang rencana Republik Islam itu meningkatkan ekspor minyak setelah sanksi-sanksinya dicabut, sebagai bagian dari kesepakatan negara itu dengan enam negara besar untuk membatasi program nuklirnya.

Harga minyak mentah telah turun tajam dari sekitar 120 dolar AS per barel pada Juni tahun lalu, sebagian besar karena kelebihan pasokan yang disebabkan oleh penolakan kartel minyak OPEC untuk memangkas tingkat produksinya yang tinggi dan melonjaknya produksi minyak serpih AS.(rol/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...