23 September 2019

Gunakan Sistem Persinyalan 'Moving Block', Anggaran Proyek LRT Jabodebek Naik Rp 300 M

KONFRONTASI -  Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan Light Rail Transit Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (LRT Jabodebek) akan menggunakan sistem persinyalan 'moving block' yang diatur secara tepat waktu dengan komputer. Sistem persinyalan itu kemungkinan akan menambah rincian anggaran proyek yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 21,7 triliun.

"Ada kenaikan lagi biayanya, tapi ada kenaikan spesifikasi juga. Ada tambahan sekitar Rp 200 miliar sampai Rp 300 miliar," katanya seperti dikutip Antara seusai rapat koordinasi di Kemenko Kemaritiman Jakarta, Rabu (12/7).

Mantan Direktur Utama Angkasa Pura II itu menjelaskan pemerintah memang berupaya untuk merampingkan anggaran proyek transportasi massal itu. Namun, dia memastikan efisiensi dilakukan dengan tetap memberikan manfaat sebesar-besarnya agar perjalanan tetap tepat waktu.

Awalnya, berdasarkan hitungan PT Adhi Karya (Persero) Tbk, proyek tersebut ditaksir mencapai Rp 23,4 triliun. Namun belakangan nilai proyek ditetapkan menjadi Rp 21,7 triliun setelah evaluasi teknis dan kewajaran.

Menteri Budi mengatakan teknologi persinyalan dengan moving block diyakini akan memperpendek head way (jangka waktu kedatangan) rangkaian kereta sehingga dapat mengangkut lebih banyak penumpang. Misalnya jarak antara rangkaian kereta yang tadinya 5 menit, menjadi hanya 1 menit dengan sistem tersebut.

"Tadi kita bicara soal persinyalan ada yang 'fixed', ada yang 'moving block'. Dengan 'moving block', penumpangnya bisa mendekati 500.000 penumpang per hari sedangkan pakai 'fixed block' cuma 270.000 penumpang per hari," katanya.

Menhub Budi mengatakan sistem moving block itu nantinya akan dioperatori oleh PT LEN Industri (Persero) yang bergerak di peralatan elektronik industri. "Kami mengarahkan LEN Industri sebagai mitra lokal. Siapapun yang menang, kita minta LEN sebagai mitra lokal karena kita ingin LEN jadi perusahaan yang membangun persinyalan di Indonesia," katanya.

Direktur Operasi III Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengatakan nilai total proyek akan mencapai sekitar Rp 22 triliun untuk sistem moving block. "Nama teknologinya 'moving block', tapi 'provider' (penyedia) banyak. Nanti kami bicara lagi dengan LEN," katanya.

Progres pembangunan LRT Jabodebek hingga saat ini tercatat mencapai sekitar 17 persen.

Sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. Sementara LRT Palembang ditargetkan rampung pertengahan 2018 guna mendukung Asian Games 2018.(Juft/Mrdk)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...