25 August 2019

Gojek dan Grab Monopoli, Peneliti: Konsumen Malah Untung Besar

Konfrontasi - Dua perusahaan transportasi seperti Grab dan Gojek menyatakan diri sebagai super app karena memiliki berbagai layanan dalam satu aplikasi. Inovasi yang mereka miliki ini bisa dianggap sebagai persaingan yang tidak sehat, karena memiliki potensi monopoli.

Kepala Departemen Ekonomi Central for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal mengatakan, harus ada paradigma baru mengenai persaingan usaha. Hal ini menjadi isu yang patut didalami lebih jauh.

"Solusi super app malah memberikan keuntungan yang besar untuk konsumen dan supplier. Kita harus melihat sisi lain, bukan hanya tentang platform yang memiliki banyak layanan," katanya di Fairmont Hotel, Jakarta, Selasa 23 Juli 2019.

Ia menuturkan, undang-undang atau peraturan mengenai persaingan usaha yang sudah lawas memang tidak cocok jika diterapkan pada ekonomi saat ini.

Sedangkan mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri mengatakan, apa yang dilakukan banyak perusahaan teknologi saat ini tidak bisa dikatakan sebagai monopoli.

"Ada kebutuhan di mana struktur pasar harus monopoli. Misalnya saja saat Google ambil alih Waze, karena semakin banyak pengguna, data perusahaan juga akan semakin akurat. Saat ini kita ada di era yang belum tahu ujungnya di mana, sehingga platform harus bekerja secara related," ujarnya.

Sistem super app juga diklaim akan mensejahterakan pengemudi. Alasannya, jika hanya memiliki fitur transportasi saja, maka mereka tidak memiliki potensi lain. Misalnya dari sisi pembelian makanan atau pengiriman barang.

Yose mengatakan, pengemudi transportasi online jadi memiliki banyak kesempatan untuk menambah penghasilan. Bukan hanya pada saat konsumen ingin melakukan perjalanan, tapi juga saat mereka membutuhkan makanan, maka konsumen bisa menggunakan jasa driver transportasi online. (vv/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...