14 November 2019

Fenomena Toko Elektronik Bak 'Kuburan', Ternyata Ini Sebabnya

KONFRONTASI -   Ekonomi Indonesia yang mengalami perlambatan pada triwulan III-2019, tampak tercermin dari kondisi di lapangan. Sektor perdagangan ritel, ada fenomena toko-toko elektronik sepi pembeli di toko-toko fisik pusat perbelanjaan.

Di atas kertas, data Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan III-2019, perdagangan besar dan eceran non mobil-sepeda motor hanya tumbuh 4,9% atau melambat dibandingkan triwulan III-2018 yang sempat mencapai 5,34%. Tren stagnasi perdagangan sudah terlihat pada triwulan II-2019 yang mana hanya tumbuh 4,92%.

bahkan ia menggunakan istilah 'menderita' saat menjual produk elektronik saat ini di pasar domestik.

"Kondisi ekonomi Indonesia belakangan selama 3 tahun walaupun di atas 5% tumbuh, dari industri merasa tak begitu happy, karena daya beli cenderung turun, ini mungkin ada efek dari internasional. Di Indonesia sangat menderita untuk menjual lokal market," katanya kepada CNBC Indonesia, Selasa (5/11/2019).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Konsumsi masyarakat pada kuartal III-2019 masih tumbuh 5,5%. "Ini bukan daya beli," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (8/11).

Ia menggarisbawahi bahwa yang terjadi saat ini adalah anomali atau peralihan cara berbelanja konsumen. Konsumen tak lagi berbelanja di toko-toko berukuran besar seperti masa lalu yang sempat jadi gaya hidup, sehingga peritel juga harus melakukan penyesuaian.

Roy berharap pemerintah harus menjaga konsumsi masyarakat antara lain menjaga indeks kepercayaan konsumen (IKK) tetap tinggi terutama soal kondisi politik. Selain, itu menjaga harga energi agar tak naik seperti BBM, gas, listrik, agar tak mempengaruhi konsumsi masyarakat.

Sementara itu, Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) yang juga Penasihat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Handaka Santosa mengungkapkan pada dasarnya daya beli masyarakat cukup baik terlihat dari kenaikan UMP 2019. Akan tetapi laju penjualan cenderung stagnan pada tahun ini. Ia menilai masyarakat enggan untuk berbelanja banyak dan faktor keamanan.

"Berjalannya waktu, ternyata uang yang diperoleh tidak dibelanjakan maksimal sehingga menyebabkan penjualan stagnan dibanding tahun lalu. Kalaupun ada satu perusahaan, ritelnya tumbuh tidak signifikan, mungkin sekitar 5%," kata Handaka dalam program Closing Bell, CNBC Indonesia, Rabu, (6/11/2019).

Di sisi lain, pengusaha ritel juga dihadapkan pada kondisi politik Tanah Air yang beberapa kali menimbulkan gejolak sejak musim Pemilu 2019 lalu.

Sebagai contoh, aksi mahasiswa menolak RUU KUHP di depan kantor DPRD Sumatera Selatan pada akhir September lalu sempat membuat beberapa aktivitas pusat perbelanjaan terganggu atau bahkan tutup.

"Kesempatan-kesempatan untuk menaikkan [penjualan] menjadi terhambat," ucapnya.

Handaka mengatakan, dengan kondisi ini, pengusaha ritel pun memilih langkah efisien. Beberapa pengeluaran seperti sewa gedung, upah, dan pengeluaran lainnya dilakukan secara selektif.

Sebelumnya, CNBC Indonesia menyambangi Pusat Grosir Cililitan (PGC), toko-toko elektronik di Pasar Kramat Djati, hingga Plaza di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu siang (6/11), para pedagang mengaku memang penjualan sedang sepi, bahkan turun.

Pihak pengelola PGC, Ian Wisan mengakui toko-toko retail di tempatnya memang lengang dari kunjungan. Menurutnya, ini merupakan konsekuensi dari perubahan gaya berbelanja masyarakat dari toko fisik menuju online.(Jft/CNBC)
 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...