25 February 2020

Ekonomi Sedang Terpuruk, Garuda Malah Nekat Beli Pesawat B787. Ada Apa?

KONFRONTASI-PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dinilai terlalu nekat ingin membeli pesawat B787 dalam kondisi ekonomi yang tengah terpuruk. Dan sungguh Ironis, jika rencana Garuda tersebut mendapatkan pengesahan dari Kementerian BUMN. Padahal saat dilakukan Letter of Inten (LoI) di Paris, rencana pembelian B787 belum ada.

“Langkah ini sangat cerdik untuk mengakali GCG (Good Corporate Governance-red),”  ungkap pengamat ekonomi-politik Frans Abba.

Diberitakan, Garuda merevisi rencana bisnis untuk periode tahun 2016-2025, termasuk rencana pengadaan pesawat (fleet plan) yang ditargetkan rampung pada Oktober 2015.

"Kami sedang melakukan revisi rencana bisnis pengadaan pesawat untuk periode 10 tahun ke depan. Revisi diharapkan selesai bulan depan (Oktober) untuk selanjutnya diserahkan kepada pemegang saham," kata Direktur Utama Garuda Arif Wibowo di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.

Menurut Arif, revisi bisnis tersebut bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi situasi ekonomi dengan tujuan agar dapat menjaga pertumbuhan perusahaan di masa datang.

Revisi dikaitkan dengan asumsi bisnis penerbangan terutama soal prediksi harga avtur, kondisi makro domesik, global serta pasar yang akan dituju.

"Jika poin-poin tersebut diperbaiki, maka kita akan ketemu berapa pertumbuhan yang paling baik untuk Garuda ke depan," katanya.

Ia menjelaskan, keharusan merevisi rencana bisnis penerbangan ini menyusul kondisi makro ekonomi di Tanah Air dan beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Eropa.

"Strateginya, kita melakukan kalkulasi biaya operasional (operational expenditure/opex), karena pos ini merupakan 80 persen pada industri penerbangan," ujarnya.

Berdasarkan revisi tersebut, tambah Arif, maka Garuda Indonesia bisa menetapkan pengadaan pesawat dalam 10 tahun kedepan.

Saat ini, katanya, Garuda sedang merencanakan pengadaan sebanyak 60 pesawat terdiri atas 30 pesawat jenis B 787-900 Dreamliner dan 30 pesawat B 373 MAX 8. Namun belum seluruhnya terealisasi karena harus menunggu penyelesaian dan persetujuan atas rencana bisnis tersebut.

"Kalau yang jenis Dreamliner dan Max 8 masih dalam proses karena kita belum selesai "fleet plan" yang akan disetujui oleh pemegang saham," ujarnya.[mr/tar/bbs]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...