26 June 2019

Efek Ekonomi Mudik Masih Bersifat Musiman

KONFRONTASI - Momen lebaran tahun ini ditandai dengan terjadinya peningkatan arus mudik yang cukup signifikan. Untuk arus mudik asal Jakarta saja, dari data Kementerian Perhubungan, tercatat 1,2 juta kendaraan sepanjang H-7 hingga H-1, meningkat 26% dibanding lalu lintas harian. Peningkatan arus mudik ini akan mendorong aktivitas konsumsi masyarakat selama libur lebaran, khususnya pada dua minggu pertama bulan Juni tahun ini. Pencairan tunjangan hari raya (THR) atau gaji ke-13 untuk PNS, TNI dan Polri sebelum Lebaran berperan besar memicu peningkatan permintaan akan barang maupun jasa selama libur lebaran. 

Disamping itu, peningkatan sarana, prasarana serta pengelolaan transportasi dalam dan antar pulau tahun ini juga berperan besar memperlancar aktivitas mudik. Penyediaan dan pengelolaan transportasi yang lebih baik dapat dilihat misalnya dari angka kecelakaan arus mudik sepanjang H-7 sampai H+1 tahun ini yang mengalami penurunan tajam sebesar 62% dibanding periode yang sama tahun lalu, berdasarkan data Kementerian Perhubungan. Demikian pula beberapa ruas tol baru yang sudah dapat beroperasi untuk memperlancar arus mudik, khususnya di Jawa dan Sumatera yang merupakan pusat mobilitas arus mudik terbesar.

Peningkatan barang dan jasa selama libur lebaran tersebut berpotensi mendongkrak pertumbuhan konsumsi rumah tangga di triwulan II tahun ini di kisaran 5,1%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan sebelumnya yang mencapai 5,01%. Selain memberikan efek positif pertumbuhan ekonomi, peningkatan dan kelancaran aktivitas mudik juga membantu pemerataan ekonomi, khususnya antara kota dan desa serta antar daerah.
 
Sayangnya, efek ekonomi dari mudik lebaran relatif masih bersifat musiman. Padahal, potensi untuk memperluas dampak ekonomi dari aktivitas mudik tahun ini sangat besar. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, dibutuhkan inisiatif-inisiatif baik dari pemerintah daerah, pelaku usaha dan masyarakat pada umumnya. Salah satunya, misalnya, melakukan memobilisasi para perantau/pemudik yang telah berhasil di perantauan untuk membangun daerah asal mereka, sehingga memacu pertumbuhan investasi di daerah-daerah.

Mohammad Faisal, PhD
Direktur Eksekutif CORE Indonesia
Center of Reform on Economics

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...