18 September 2019

Dihantam Tiongkok, Pelemahan Rupiah Sudah Tidak Normal, Tim Ekonomi Harus Kerja Lebih Keras Lagi

KONFRONTASI - Rupiah semakin melemah sebesar 140 poin menjadi Rp 13.747 dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp 13.607 per dolar AS. Pelemahan ini mengakibatkan kegaduhan nilai transaksi perdagangan yang semakin terpuruk. Apalagi tahun terakhir ini rupiah sudah tidak bisa dikendalikan dan sudah tidak normal lagi.

"Kalau bisa kita bilang pelemahan ini, sebagian kecil berasal dari kebijakan yang dilakukan The Fed USA. Kita tahu, kebijakan bank central Amerika sangat berpengaruh negatif, misalkan saja Amerika bersin saja, dampaknya akan meluas ke belahan bumi lainnya," kata analis Ekonomi FEB Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta, Edi Setiawan, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 13/8).

Tapi itu, lanjut Edi, hanya sebagian kecil dari pengaruh yang timbul dari pelemahan rupiah saat ini. Pelemahan lain datang dari devaluasi yuan yang dilakukan pemerintah Tiongkok.

"Kita jadi terkena dampratnya, pemerintah Tiongkok yang terkena devaluasi mata uang yuan mengakibatkan eksportir komoditas dagang semakin menurun, akibatnya nilai ekspor Indonesia menurun," katanya.

Hal yang paling terpenting. sambung Edi, adalah dengan adanya resufflhe kabinet yang baru bisa membawa harapan baru akan dibawa kemana arah perekonomian Indonesia. Paling terpenting menjaga stabilitas ekonomi yang paling fundamental.

"Dengan menjaga komoditas ekspor, meningkatkan investor asing untuk datang ke Indonesia dan menekan impor. Itu sudah cukup bagi penguatan fundamental ekonomi kita," jelas Edi, yang Direktur Lingkar Kajian Ekonomi Untuk Indonesia (Lingkei) Jakarta.   

Menurutnya, tim ekonomi baru harus segera menyiapkan jurus jitu dalam mengelola stabilitas rupiah dengan melakukan operasi pasar, mengendalikan suku bunga BI Rate, dan ikut berpartisipasi dalam memenuhi investasi asing agar dananya mengendap ke dalam negeri.

"Itu bagian terpenting yang sekarang harus dilakukan. Jangan sampai anomali rupiah dalam 17 tahun ini terus mengalami kemunduran. Dan sudah menjadi warning, tim ekonomi baru berkerja keras," demikian Edi.[rm/ian]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...