13 December 2019

Darmawan Sinayangsah: Jokowi Didesak Rombak Tim Ekuin Kabinet, Sudah Gagal ! Jokowi Marah, Ekspor RI Kalah dari Negara Tetangga

KONFRONTASI-  Para analis ekonomi-politik  menilai, para menteri ekuin di Kabinet Kerja bersikap masa bodoh dengan kemarahan dan sindiran Presiden Jokowi mengenai lemahnya ekspor Indonesia yang kalah dibanding negara tetangga.

'' Sekali lagi, Presiden Joko Widodo  harus berani mengganti/mencopot para menteri ekuin Kebinet Kerja yang terbukti tak becus dan gagal membangun ekonomi Indonesia selama era Jokowi berkuasa.  Dan itu fakta yang kasat mata dan sangat memalukan,'' tegas analis Darmawan Sinayangsah lulusan Fisip UI yang juga aktivis LSM.

''Percuma Jokowi marah kalau tak berani lakukan reshuffle tim ekuin kabinet yang neoliberal dan lembek, sebab terbukti gagal dan tak  becus,'' kata analis  itu. ''Saya kasihan Jokowi, dia terkesan dibodoh-bodohin dan didustain para menteri ekuinnya sendiri,'' ujarnya.

 

 

Darmawan Sinayangsah , kiri

''Harus ada perombakan tim ekuin kabinet, sudah gagal dan memalukan Jokowi sendiri,'' katanya tadi malam. ''Tanpa reshuffle, maka jokowi makin tidak disukai rakyat dan elektabilitasnya kian tergerus,'' tegas Darmawan, mantan Ketua Senat Fisip UI.

Peneliti  ekonomi Indef Bima Yudhistira PhD sudah mendesak agar tim ekuin di Kabinet Kerja diganti sebab tidak mampu memenuhi ekspektasi rakyat, malah ekonomi memburuk dan daya beli rakyat makin terpuruk.'' Harus diganti mereka,'' tegasnya.

Jokowi marah, menyindir dan menyebut ada yang salah dengan ekspor Indonesia yang masih kalah dengan negara tetangga di ASEAN. Presiden menyebut ekspor Indonesia pada 2017 mencapai USD145 miliar masih kalah dengan Thailand yang mencapai USD231 miliar, Malaysia USD184 miliar dan Vietnam yang mencapai USD160 miliar.

"Negara sebesar ini kalah dengan Thailand. Dengan resources dan SDM yang sangat besar, kita kalah. Ini ada yang keliru dan harus ada yang diubah," kata Presiden saat pidato pembukaan rapat kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Istana Negara Jakarta, Rabu (31/1/2018).

Menurut Presiden, ini merupakan tanggung jawab dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk meningkatkan ekspor Indonesia. "Ini tanggung jawab saudara sekalian," kata Jokowi.

Presiden menyebut, ada kekeliruan yang harus dibenahi sehingga ekspor Indonesia tidak kalah dengan negara-negara tetangga, yang jumlah penduduk dan sumber dayanya masih di bawah Indonesia. Jokowi juga menyebut Indonesia terlalu monoton dan mengurus pasar tradisional saja dan tidak mau membuka pasar baru.

"Kita enggak lihat Pakistan yang penduduknya 270 juta dibiarkan dan tidak diurus. Bangladesh misalnya penduduknya tidak kecil, 160 juta ini pasar besar meski sudah surplus tapi angkanya terlalu kecil. Afrika tidak pernah kita tengok, bahkan ada expo di sana kita tidak ikut. Kesalahan seperti ini yang rutin dan tidak pernah diperbaiki," kata dia.

Jokowi mengingatkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk melakukan evaluasi dan apa yang harus dilakukan dalam meningkatkan ekspor Indonesia.

"Setelah pembukaan (Raker) tolong Pak Menteri secara detil dievaluasi dan apa yang harus dilakukan. Jangan raker tapi tidak memunculkan sesuatu yang baru dan tidak memunculkan ide baru, gagasan baru agar kita bisa bersaing dengan negara lain," katanya.

Presiden di awal pidatonya juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya didorong oleh dua hal, yakni investasi dan ekspor.

"Sudah berulang kali saya sampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi kuncinya ada dua. Bagaimana kita bisa meningkatkan investasi dan meningkatkan ekspor, hanya itu ngak ada yang lain. Oleh sebab itu Kementerian Perdagangan sangat berperan sekali terutama di satu hal ekspor," kata Presiden.

Dalam pembukaan rapat kerja Kemendag ini beberapa menteri dan kepala lembaga hadir, diantaranya Menko Perekonomian Darmin Nasution, Mendag Enggartiasto Lukita, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...